
Flashback off
Arya tersentak terkejut hingga membuyarkan lamunannya saat seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ayah? Sedang apa ayah disini?" Tanya Arsya terbata.
"Kenapa memangnya kalau Ayah berkunjung menemui anaknya sendiri?" Tanya Aditya heran dengan kelakuan Arsya yang bertanya seperti ada yang ditutupi.
Seketika Aditya tersenyum saat mengetahui jika Arsya sedang memegang sebuah masker medis dalam genggamannya.
"Iya tidak, hanya mengherankan saja setelah serah terima kepemimpinan, Ayah bahkan bisa dibilang tidak pernah berkunjung jika bukan ada keadaan darurat" Ujar Arsya panjang lebar.
Arsya memesan minuman lewat telponnya yang langsung terhubung ke bagian pantri khusus dilantainya bekerja.
Dia menghampiri Ayahnya yang masih mematung, menunggu Arsya menyambut dan mempersilahkan duduk, Arsya memeluk Ayahnya yang sambut hangat oleh Aditya,
"Hmmpp.. jika dipikir - pikir benar juga, setelah kau memimpin Ayah hanya berkunjung saat acara ulang tahun perusahaan ini saja" Ucap Aditya melepaskan pelukan dan duduk berhadapan di sofa diruangannya.
"Tapi kunjungan Ayah saat ini sama pentingnya dengan jika menyangkut dirimu Son" ucap Aditya kembali menatap Arsya dengan tatapan serius
"Ada apa?" Arsya sampai tertegun dengan tatapan sang Ayah, dia berfikir apakah masalah penting yang menyangkut dirinya?
__ADS_1
"Kau ingat Maharani dan anaknya Luna?" Ucap Aditya mengingatkan Arsya tentang sosok ibu dan anak yang pernah beberapa kali menjadi koleganya.
"Ya, bukankah mereka menetap di London?" ujar Arsya, ingatannya kembali berputar mengingat wanita manja menyebalkan yang selalu menempel padanya.
Seorang pegawai pantri mengetuk pintu masuk, membawakan nampan berisi dua cangkir kopi yang aromanya menyeruak memenuhi ruangan.
Seketika mereka terdiam menunggu petugas pantri menyimpan minuman yang Arysa pesan, selepas petugas itu pergi Aditya melanjutkan kembali obrolan mereka.
"Yah itu benar, tapi kemarin teman Ayah memberi kabar jika mereka akan kembali ke indonesia" ujar Aditya sedikit merasa tidak nyaman dengan kabar yang dia dengar, dulu Aditya menerima kerjasama dengan Maharani karena keterpaksaan semata, kalau bukan teman semasa kuliah yang pernah membuatnya berhutang budi, Aditya enggan menjalin kerjasama dengan Maharani mengingai bagaimana perangainya selama ini.
"Lantas?" Tanya Arsya heran.
"Mereka pasti akan cukup mengganggu mu dan Maliqa" Ucapan Ayahnya menyadarkan Arsya, wanita bernama Luna itu sangat terobsesi untuk memiliki Arsya sebagai pendampingnya.
"Hahahaha.. Apa kau masih membencinya setelah kau kehilangan wanita misterius itu? Andai wanita bermasker itu tidak ditarik kembali oleh pihak sekolah Ayah yakin tidak akan ada kesempatan untuk Maliqa menempati hatimu" Aditya terkekeh saat melihat Arsya kesal setelah mengetahui kepulangan Maharani dan Luna.
"Ayah aku hanya tertarik karena penasaran saja, kenapa sampai ada wanita yang selalu memakai masker bahkan saat diluar jam bekerja, tidak sampai memiliki perasaan lebih seperti itu" ucap Arsya panjang lebar membantah semua perkataan Ayahnya, meski rasa penasarannya sering membuatnya ingin tau bagaimana kabar wanita itu.
"Tapi itu pertama kalinya kau tertarik pada wanita, bahkan Luna sekelas model ternama, yang selalu menempel saja tak membuat hatimu terbuka menerima sosok wanita" ucap Aditya tersenyum mengejek
"Sudahlah Ayah, kini Aku memiliki Maliqa tidak mungkin aku memikirkan wanita lain" Arsya merajuk melihat kelakuan Ayahnya yang terus mengolok - ngoloknya.
__ADS_1
"Lantas apa yang kau lamunkan saat Ayah datang? Kau melamun memandangi masker medis dihadapanmu" Ujar Aditya melepaskan tembakan terakhirnya yang membuat Arsya kalah telak
Deg
Arsya terdiam sejenak apa dia masih penasaran dengan wanita hingga terlihat jelas dimata orang lain.
"Aku hanya teringat saja Ayah, sudahlah jangan membahas ini lagi" Arsya menyeruput kopi americano dihadapannya untuk menghilangkan kecanggungan.
"Baiklah, tapi pembahasan ini harus kau pikirkan jangan sampai Luna menyakiti Maliqa" ujar Aditya bangun dari duduknya.
"Ayah boleh aku bertanya?" Ucap Arsya menatap nyalang
"Apa?!" Tanya Aditya terkejut dengan mata membulat
"Sebenarnya siapa anak Ayah yang sebenarnya?" Tanya Arsya geram tatapannya seperti tidak suka melihat Ayahnya terlalu mengkhawatirkan Gadisnya.
"Hahahahaha... tentu saja kau son" Aditya tergelak tertawa terbahak - bahak mengetahui Arsya sedang dalam mode cemburu, dia sama persis seperti dirinya kala melihat Clarista diperhatikan orang lain.
"Cih..!! menikahkah dengan Mommy dan jangan ganggu kami" Arsya berdecih sebal mendengar tawa Ayahnya.
Aditya tertawa berlalu pergi meninggalkan Arsya dengan wajah geramnya, dia cukup puas mengetahui anak semata wayangnya tidak mempermainkan anak gadis orang.
__ADS_1
"Luna kenapa kau kembali?! Aku harus menugaskan Willy untuk menyelidiki wanita itu" seringai jahat tergambar jelas diwajah tampan Arsya.
Dia akan mempertahankan Gadisnya sekarang, jangan sampai kejadian satu tahun yang lalu terulang kembali.