Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Balada Ujian Nasional


__ADS_3

Setelah lulus dari ujian praktek kompetensi kejuruaan, kini tibalah waktu Ujian Nasional dilaksanakan.


Rasa gugup dan tegang menyelimuti wajah - wajah para siswa yang akan mengikuti Ujian Akhir sekolah ini, perasaan itu juga yang menyelimuti Maliqa dan Martha.


Martha sampai mengeluarkan keringat dingin saat menerima lembaran soal yang guru pengawas berikan.


"Apa kau baik - baik saja?" sapa guru tampan yang Martha tebak berusia 25 tahunan mengkhawatirkan Martha yang tampak pucat dan mengeluarkan keringat dingin saat dia coba mengentuh tangannya.


"Tidak Mas terima kasih" ujar Martha dengan tatapan kagum menatap lelaki tampan mirip bintang iklan di tv didepannya.


"Ciiie..." suara sorak sorai memenuhi ruangan kelas menggoda Martha dan guru pengawas itu.


"Sudah.. sudah.. kalian mau guru pembimbing masuk ke ruangan kita?" ujar guru tersebut tegas tanpa bermaksud meninggikan suara.


Semburat merah merona terlihat jelas diwajah tampannya setelah mendapati siswi cantik yang ia sapa memanggilnya Mas.


"Maaf pak Danu jika saya kurang sopan, saya pikir panggilan Mas lebih tepat karena bapak masih muda dan tampan" Ujar Martha malu - malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"Baiklah, jika diluar kalian bisa memanggil saya dengan sebutan yang kalian suka tapi tetap sopan ya, tapi bila saat belajar tiba saya harap kalian bisa menghormati saya sebagai guru kalian" Ujar Pak Guru tampan bernama Danu itu didepan kelas dengan senyum manisnya.


"Pak, panggil Ayah boleh gak?" Ujar Martha cengengesan, sikap usilnya sesekali muncul.


"Kenapa Ayah?" tanya Pak Danu heran mengerutkan kedua keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu.


"Ya siapa tau kelak bapak jadi Ayah dari anak - anak kita kelak" Ujar Martha membuat sorak sorai kembali bergema diruangan kelas yang membuat guru tampan itu kembali malu hingga wajahnya bersemu rona merah.


"Ciiieee... Martha" ujar para siswi yang menggoda keduanya.


Maliqa yang mendengar gombalan Martha yang usil hanya bisa mengeleng - gelengkan kepala dengan menutup setengah wajahnya dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang kerjakan soal - soalnya sebelum waktu berakhir, kalian hanya punya waktu 60 menit" Ucap Pak Danu tegas dia harus bisa memawa diri jangan sampai digombali anak didiknya lagi.


"Baik Pak" ujar siswa dan siswi diruang kelas serempak


Seketika suasana hening tercipta semua siswa fokus pada lembar soal dihadapannya, Danu memang sering kali mendapat sanjungan berupa gombalan dari anak - anak didiknya.


Parasnya yang tampan, tubuh tinggi tegap dan berotot berkulit sawo matang selalu membuat kagum anak - anak didiknya.


Danu sesaat memperhatikan Martha anak yang cantik serta riang membuatnya tertarik, Danu kerap mendapatkan pujian dari anak - anak didiknya tapi baru Martha seorang yang membuatnya tersipu malu.


Waktu 60 menit yang digunakanpun telah usai, semua siswa mau tidak mau harus menyerahkan lembar soal serta lembar jawaban yang sudah mereka isi sebelumnya.


"Waktunya sudah habis, silahkan satu persatu maju mengumpulkan lembar soal dan lembar jawabannya, bila sudah kalian diperbolehkan untuk keluar dari ruangan" ujar Pak Danu mengintruksi semua siswa


"Baik Pak" jawab semua siswa serempak


Satu persatu siswa maju kedepan meja guru sesuai intruksi Pak Danu, tibalah Martha sebagai siswa terakhir diruang pengawasan Pak Danu menyerahkan hasil kerja kerasnya.


"Baik silahkan istirahat diluar" jawab Pak Danu datar tanpa memandang Martha, dia takut jika dia ketahuan tersipu dengan pesona salah satu anak didiknya.


"Iya Pak, jangan rindu ya Pak kata Dilan berat jadi klo rindu telpon saya aja ya pak" Ujar Martha menyerahkan secarik kertas yang berisikan no handphone nya, setelah menyerahkan kertas yang dia berikan Martha pergi berlalu setengah berlari dengan suara tawa cengengesan karena malu.


Danu menatap robekan kertas yang dia dapat dari Martha semburat merah kembali tersirat jelas dikedua pipi Danu hingga terciptalah seulas senyum manis diwajahnya.


"Anak itu kenapa membuatku sampai salah tingkah? sikapnya menggemaskan sekali" gumam Danu pelan dia meraba dadanya memastikan kerja jantung agar bisa normal kembali.


Dikantin isu Martha merayu Pak Danu tersebar luas, sudah bukan hal baru jika Pak Danu mendapat rayuan serta pujian dari anak didiknya tapi yang membuat isu ini menjadi panas karena respon Pak Danu yang tidak seperti biasanya.


Semburat wajah merah karena tersipu malu saat dirayu Martha terlihat jelas oleh semua siswa diruangan kelas tersebut.

__ADS_1


"Kau keterlaluan Martha!" Hardik Maliqa pelan setengah berbisik setelah mendengar siswa lain membicarakan teman dekatnya.


"Kenapa?" Tanya Amaya penasaran.


"Dia menggoda Pak Danu, guru yang terkenal dengan tubuh atletis dan memiliki perut ABS yang membuat semua siswi selalu meneriakinya" Ujar Maliqa panjang lebar


"Apa kau sudah melupakan Aland?" Tanya Amaya penasaran


"Entahlah, aku hanya sedang mencoba mengalihkan perasaan ini, membuka hati untuk yang lain" jawab Martha lirih


Sudah berminggu - minggu dia mendekati dan memberi perhatian lebih pada Aland, setiap pagi hari Martha selalu disisi Aland membawakan sarapan buatanya, hingga pada akhirnya Martha menyerah setelah mendapatkan bentakan dari Aland yang menginginkan dirinya untuk menjauh dan jangan pernah berada di sekitarnya lagi.


"Ya, kau sudah berusaha dengan baik beberapa minggu ini untuk perhatian dan lebih dekat dengannya, mungkin memang kalian tidak berjodoh" Ujar Amaya memberi pengertian pada Martha.


"Mungkin yang ada dihatinya hanya Maliqa, jadi mana bisa aku menggantikannya" jawab Martha cengengesan, menertawai dirinya sendiri


"Martha tidak seperti itu" Ucap Maliqa sedih dia lantas memeluk sahabatnya.


"Baiklah aku tidak akan berbicara seperti itu lagi" Ucap Martha sembari melepaskan pelukan Maliqa


"Tapi Pak Danu oke juga" ujar Amaya menaik turunkan kedua alisnya


"Hahahaha.. Lucu ya murid mengejar gurunya seperti cerita novel saja" ujar Maliqa membuat tiga sekawan itu tertawa terbahak - bahak.


Meski Martha mencoba membohongi diri dengan tampak riang, hatinya masih merasa nyeri mengingat bagaimana orang yang dia sukai membentak dan menginginkan dirinya untuk menjauh.


Rasa pilu bercampur sakit tampak jelas dimata Martha, mungkin inilah saatnya dia harus mengubur dalam - dalam semua rasa yang dia miliki untuk Aland.


Tampak dari jauh Aland memandang Maliqa dan Martha, dua wanita yang pernah dekat dengannya.

__ADS_1


Aland tak bisa begitu saja menerima Martha sebagai pengganti Maliqa yang pernah ada dalam hati dan pikirannya, meski akhir - akhir ini dia merasa nyaman dan tersanjung dengan semua perhatian yang Martha berikan, Aland takut jika dia memaksakan menerima semua perhatian dan perasaan Martha itu malah akan menyakiti Martha sendiri karena Aland masih menyukai Maliqa.


"Ternyata kau sudah bisa membuka hati untuk orang lain, syukurlah setidaknya aku merasa senang kau bisa bahagia dengan yang lain" gumam Aland dari kejauhan.


__ADS_2