Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Rencana dalam rencana


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu Sean? Apa kita lanjutkan sesuai permintaan Luna?" Tanya Albertho datar menatap keluar kaca jendela mobil yang menampakan kemegahan perusahaan Arsya.


"Saya tidak begitu yakin Tuan, setelah saya selidiki menurut saya Tuan Aditya dan anaknya Tuan Arsya adalah pembisnis dan pengusaha yang jujur, mungkinkah ada niat terselubung yang belum kita ketahui perihal hubungan Luna dan Tuan Arsya?" Ujar Sean mencoba hati - hati memberi saran, dia takut jika langkah yang akan Tuannya pilih membuat kerugian bagi dirinya sendiri.


"Sebenarnya akupun sempat berpikir demikian, kau selidiki Tuan Arsya sampai kita menemukan inti dari masalah ini, bagaimanapun aku sudah tak mau menuruti keinginan wanita ular itu, aku hanya menginginkan nyawa Lexi selamat" Ujarnya tegas dengan tatapan mata dingin menatap jalanan tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Baik Tuan" Jawab Sean menganggukan kepala.


Mobil yang Sean kemudi berjalan melaju cukup kencang meninggalkan area perusahaan milik Arsya dan membelah jalan besar kota.


Sean mengantar Tuannya ke Apartemen yang menjadi markas mereka, Albertho tak berniat kembali ke perusahaan yang selama ini menjadi topeng dari pandangan kepolisian.


Gedung megah berlantai 20 itu sepenuhnya milik Albertho dan Sean, berkat kerja keras Sean kini Albertho menjadi seorang pengusaha yang patut diperhitungkan dalam bidan expor impor.


Sean meninggalkan Alberto setelah mengetahui Tuannya masuk ke apartemennya untuk beristirahat.


Di markas Sean segera memerintahkan anak buahnya untuk memberi tugas dan menerima laporan.


"Kumpulkan yang lainnya di tempat biasa, aku ingin kalian melapor saat ini juga" ujar Sean pada salah satu anak buahnya yang berjaga di depan pintu markas.


"Baik Tuan" Jawab Lelaki kekar berbaju hitam dengan segera meninggalkan Sean.


Tak butuh waktu lama puluhan orang berkumpul diruang aula luas yang biasa jadi tempat berkumpul semua.


"Bagaimana pengawasan Tuan muda?" Tanya Sean didepan anak buahnya.


"Tuan muda seharian ini tidak terlihat disekitaran taman dan pekarangan rumah Tuan, jadi saya pastikan Tuan muda berada didalam rumah seharian ini begitu juga dengan pengasuhnya" Ujar salah satu anak buah yang menjadi ketua kelompok dalam tugas pengawasan Lexi


"Baik, lantas bagaimana dengan pengawasan dan informasi tentang hubungan Tuan Arsya dengan Luna?" Tanya Sean pada kelompok lain yang ia tugaskan untuk mengawasai Luna.


"Ini Tuan, semua tentang hubungan dan informasi mereka berdua ada dalam amplop ini" Ujar lelaki bertato menyerahkan sebuah amplop besar kehadapan Sean.


Sean membaca dengan teliti semua informasi yang didapat oleh semua anak buahnya.

__ADS_1


"Ternyata permintaannya karena unsur patah hati, dasar wanita mur4han" geram Sean mengepalkan tangannya kesal.


"Tetap awasi mereka, sebelum misi ini selesai jangan ada yang lengah apapun itu terutama keselamatan Tuan Lexi" Ujar Sean menegaskan tugas yang sudah dia berikan sebelumnya.


"Baik Tuan" ujar mereka semua serempak.


"Kalian boleh kembali" ucap Sean membubarkan barisan.


"Baik Tuan" jawaab mereka serempak, merekapun membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka semua.


"Aku ingin sekali membuat wanita ular itu menderita, demi kesenangannya dia selalu membuat Tuan Albertho mengalami tekanan karena selalu menghawatirkan Tuan muda" gumam Sean geram dengan semua tuntutan Luna terhadap Tuannya.


Malam ini Sean tetap terjaga, dia berusaha menyusun rencana untuk membuat Luna percaya bahwa dia dan Tuannya berhasil membuat perusahaan Arsya hancur sesui dengan apa maunya.


Hingga saat Luna lengah, Sean akan menyergap rumah Luna untuk menyelamatkan Tuan Mudanya.


"Semoga semua berjalan sesusai dengan apa yang ku harapkan" Gumam Sean menatap pada secarik kertas yang akan menjadi rencananya kelak.


Disebuah minimarket sekitaran rumah Amaya sedang membeli kebutuhan bulanan yang ia perlukan, hidup hanya berpenghasilan sebagai pegawai toko disebuah Mall membuat Amaya harus extra hemat dengan semua pengeluarannya.


Hanya bermodalkan lulusan SMA membuat Amaya kesulitan dalam mencari pekerjaan, hanya sebagai pegawai toko yang bisa dia dapatkan, Amaya tidak bisa menolak dan mencari pekerjaan lain mengingat ada neneknya sebagai tanggungan hidupnya.


Bruk


Seorang anak kecil menabraknya saat ia hendak membayar semua belanjaan di meja kasir, semua barang belanjaan yang ada dalam keranjang berserakan dilantai Amaya menatap anak kecil yang menabraknya ketakutan.


Amaya menyangka anak ini takut jika dia marah karena kejadian ini, hingga akhirnya Amaya hanya tersenyum menatap anak kecil itu dan mengutip semua barang belanjaan kembali kedalam keranjang belanjanya.


"Maaf.." ujar Anak kecil itu menundukan kepala.


"Kenapa lari?" Tanya Amaya disela - sela dia mengutip barang belanjaannya.


"Takut.." jawab Anak itu pelan.

__ADS_1


"Takut? Siapa?" Tanya Amaya penasaran, kini perhatiannya fokus kearah wajah bocah laki - laki berponi didepannya.


"Mama" jawabnya lirih.


"Mama? Mama kamu yang mana?" tanya Amaya nenatap sekitar tapi tak ada wanita dewasa sejauh matanya memandang.


"Kamu kehilangan Mama?" tanyanya lagi.


"Ehmmmp.." anak kecil itu seolah tak berani berbicara lagi dia hanya menunduk dan memilin - milin ujung bajunya.


"Kamu duduk disini saja dengan Mbak Kasir, nanti Mama pasti datang" Ucap Amayaengelus rambut lebat hitap anak lelaki itu.


"Gak mau!" jawab anak itu marah.


"Mau Kakak bantu cari Mama?" tawar Amaya halus


"TIDAK" jawab Anak itu menggelengkan kepalanya cepat.


Amaya dibuat kebingungan dengan sikap bovah dihadapannya, anak ini seperti ketakutan dengan sang ibu, Amaya menatap tubuh anak lelaki itu ada bekas cubitan di tangan dan dibetisnya.


"Mungkinkan orang tuannya berlaku kasar hingga dia melarikan diri" pikir Amaya


"Mau Ikut Kakak?" Tanya amaya menawarkan pilihan lain selain bertemu dengan mamanya.


"Mau" wajabnya mengangguk cepat.


Amaya menyerahkan belanjaan kepada pegawai kasir dan membayar semua total belanjaannya.


"Mbak ini fotocopy KTP saya, kalau ada orang tua yang kehilangan anaknya sesuai dengan ciri - ciri anak ini tolong hubungi saya ini no telepon saya" Ucap Amaya menyerahkan fotocopy KTP beserta no teleponnya.


Pegawai kasir yang mengetahui semuanyapun mengiyakan karena sedari tadi anak kecil ini selalu memegang ujung baju Amaya seolah dia tak mau ditinggal.


"Baik Mbak" jawab pegawai kasir mini market tersebut, dia juga tidak mau direpotkan dengan dititipi anak kecil yang sepertinya akan membuatnya kerepotan dalam bekerja.

__ADS_1


Amaya menaiki motor bebek tuanya dengan anak laki - laki didepannya, tanpa mereka sadari seorang lelaki didalam mobil Jepp sedang memerhatikan mereka.


"Siapa yang membawa Tuan Lexi? apa dia salah satu pembantu Luna?" ujar Sean penasaran dengan gadis yang mengendarai motor bebek yang baru saja melintasinya.


__ADS_2