
Maliqa mengekori setiap langkah pengawas yang membawanya kesebuah ruangan, disana Maliqa berkenalan dengan semua operator produksi di Departemen Knitting, Maliqa melihat mesin - mesin berukuran besar dengan gulungan kain disampingnya.
"Maliqa ini Departemen Knitting dan mesin besar ini disebut mesin Knitting proses awal pembentukan kain dari puluhan benang yang dirajut menjadi satu, nanti setiap pagi kamu akan berinteraksi langsung dengan semua operator untuk memberikan APD ( Alat Pelindung Diri) dan mengecek mesin mana saja yang beroperasi serta membuat laporan setiap jam hasil produksi setiap mesin" ujar Bu Diana panjang lebar
"Baik Bu" jawab Maliqa menganggukan kepala.
Maliqa kembali mengikuti Bu Diana kesebuah ruang pengawas di Departemen Knitting.
"Ini meja kerja mu selama 2 minggu ini, 2 minggu kedepan kamu akan dipindahkan ke bagian lain" ujar Bu Diana
"Baik Bu terima kasih" jawab Maliqa senang
"Semoga betah, selamat belajar jika ada yang mau kamu tanyakan hubungi saya, saya tinggal dulu" Bu Diana keluar ruangan berlalu meninggalkan Maliqa.
Tak terasa waktu istirahat pun tiba, Maliqa yang hanya sendirian tak berkawan merasa canggung, saat menuju ke kantin perusahaan untuk mengambil jatah makan siang.
Maliqa ingin menghampiri keempat teman satu sekolahnya, tapi mereka seperti menghindar tak ingin didekati Maliqa, dia memang terbiasa diperlakukan seperti ini sewaktu disekolah Maliqa bahkan pernah mengalami kekerasan fisik.
Hingga dia memutuskan untuk menunggu kantin setengah sepi, setelah itu baru dia akan mengambil jatah makan siangnya.
Setelah dirasa cukup sepi Maliqa beranjak dari tempat duduknya memasuki kantin, kantin itu terdiri dari 2 lantai, lantai atas dikhususkan untuk para petinggi yang memiliki jabatan, sedangkan lantai dasar biasa dipergunakan untuk karyawan biasa dan para siswa magang seperti Maliqa.
Saat sedang mengantri mengambil makanan, karyawan yang mengantri bersama Maliqa tanpa sengaja menyenggol lengan Maliqa yang sedang memegang nampan makanan berisi sup panas, seketika sup panas itu tumpah mengenai punggung lengan seorang wanita yang melintas dihadapannya.
"Hei..!! Apa yang sudah kau lakukan!" bentak wanita itu raut mukanya sudah memerah menahan marah.
"Maaf Bu saya tidak sengaja tadi ada yang menyenggol saya" Ujar Maliqa berkata jujur
"IBU.?! Berani kamu menghina saya hah! Sejak kapan saya menikah dengan Bapak mu!!" Bentak wanita berambut pirang dengan tangan terkepal dan rahan mengeras.
__ADS_1
"Maaf Nyo-nya.." Ujar Maliqa terbata dia takut salah berucap lagi.
"Lihat apa yang sudah kamu perbuat" Dia memperlihatkan punggung tanggannya yang sedikit memerah.
"Ini pasti akan berbekas dan menjadi cacat dikulit mulus ku!" Bentaknya lagi.
Akibat keributan yang wanita itu buat seketika ada lingkarang manusia mengelilingi mereka berdua.
"Bukannya itu anak dari kolega bos kita" ujar karyawan A dibelakang Maliqa
"Benar, yang aku dengar dia juga menjalin hubungan dengan anak bos kita" sahut karyawan B
"Wah kasihan sekali anak magang itu pasti dia akan ditarik kembali ke sekolahannya" ucap Karyawan A
Maliqa ketakutan dihari pertamanya dia sudah berurusan dengan orang terpenting diperusahaan ini, Maliqa tidak mau ditarik kembali oleh pihak sekolah, karena jika itu terjadi maka hilanglah separuh nilainya di raport nanti.
Maliqa hanya bisa menunduk dengan mata yang sudah berkaca - kaca, tubuhnya bergetar dengan jari jemari saling bertautan menggenggam.
Dari atas tanggan turun 2 orang pria yang seketika menjadi pusat perhatian.
"Nona Luna sedang apa anda disini?"Tanya Willy heran baru saja tadi pagi dia menasehati wanita ini untuk tidak mengganggu Tuan mudanya
"Sayang lihat apa yang anak magang itu lakukan pada tangan mulus ku" Rengek wanita bernaman Luna itu dihadapan semuanya mengacuhkan pertanyaan Willy Asisten pribadi Arsya
"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Arsya dingin dia bahkan tak mau menatap luka ditangan Luna yang dia perlihatkan
"Aku mengantarkan surat undangan ulang ku akhir pekan ini" Jawabnya dia lantas bediri disamping Arsya dan menggandeng tangannya.
Arsya hanya diam dengan tatapan jengah, ini adalah lingkungan perusahaan jika dia bertindak kasar terhadap Luna, dia takut akan menimbulkan keributan lebih ramai dari sebelumnya.
__ADS_1
Arsya memperhatikan anak magang yang berdiri mematung dengan kepala tetunduk di depannya.
"Wanita ini lagi" Gumamnya pelan.
Arsya mendekat seperti penasaran dengan wanita dibalik masker itu, Arsya hanya bisa melihat tangan Maliqa yang sedang meremas dan memilin ujung baju almamater yang ia kenakan.
"Sepertinya dia sangat ketakutan, lucu sekali" pikir Arsya.
"Cepat hukum dia sayang" rengek Luna mengerucutkan bibirnya dengan tangan bersedekap didepan dada.
"Kau urus dia! Beri peringatan pihak sekolahnya untuk mendisiplinkan semua siswa yang mengikuti pelatihan di perusahaan kita" ujar Arsya memberi perintah pada Willy.
"Baik tuan"Jawab Willy, Willy sangat prihatin dengan apa yang menimpa anak magang itu, walaupun Luna sebagai korban disini Willy bisa menebak jika gadis ini tidak sengaja melakukannya.
"Tapi tuan saya tidak sengaja melakukannya, bisakah saya saja yang menerima hukuman tanpa memberitahu pihak sekolah tentang kejadian ini?" ucap Maliqa menjelaskan memohon agas kejadian ini tidak diperpanjang lagi.
"Kenapa aku harus menuruti mu?" ujar Arsya melirik dengan senyum tersungging dia cukup tertarik dengan wanita muda dihadapannya yang cukup berani mengajukan permohonan dengan alasan yang Arsya tau sendiri jika disini Luna lah yang terlalu berlebihan.
"Jika tuan melaporkan kejadian ini pada pihak sekolah maka, Nyonya Luna tidak akan mendapatkan kepuasan karena tidak melihat saya dihukum, saya juga tidak akan mendapatkan nilai dan bisa jadi saya akan ditarik kembali oleh pihak sekolah, tuan tolong kasihani saya" Maliqa memberikan penawaran menarik dengan mengorbankan dirinya yang bersedia dihukum.
Arsya cukup senang dengan penawaran yang Maliqa berikan, baru saja Arsya akan menerima tawaran itu tapi Luna sudah membuka mulutnya.
"Sudahlah sayang jangan dengarkan anak kecil itu, Willy bereskan anak kecil ini kami akan pergi" Luna menarik pergelangan tangan Arsya dan membawanya keluar dari area kantin perusahaan.
Kepergian Arsya dan Luna membuat kerumunan itu membubarkan diri secara serempak, hingga hanya menyisakan Maliqa dan Willy.
"Maaf nona kemungkinan keputusan terakhir Tuan muda adalah mengajukan keluhan kepada pihak sekolah" ucap Willy menyesal
"Baiklah aku mengerti" Ujar Maliqa kesal
__ADS_1
"Dasar lelaki tidak punya jiwa kepemimpinan mudah sekali memutuskan hanya karena wanitanya merengek tanpa melihat kebenarannya" Maliqa kesal hingga menghentakan kakinya beberapa kaki ketanah, diapun pergi berlalu meninggalkan Willy yang masih mematung takjub dengan ocehan wanita itu.
Maliqa berlalu meninggalkan kantin tanpa sempat makan siang karena kekacauan yang sudah terjad, disepanjang perjalannya kembali ke ruangan hanya ocehan yang terdengar keluar dari mulut Maliqa.