Metamorfosa Ugly Girl

Metamorfosa Ugly Girl
Kekecewaan Maliqa


__ADS_3

Luna yang menyadari adanya Maliqa didekat mejanya, Luna bermaksud mencoba mempropokasi Arsya.


"Arsya boleh aku bertanya?" tanya Luna dengan memutar - mutar sedotan didalam minumannya hingga terdengar bunyi es berbenturan dengan gelas.


"Katakanlah" Jawab Arsya datar, dia sangat malas meladeni semua tingkah polah Luna, dia disini sedang menunggu pemilik pusat perbelanjaan untuk melakukan kerjasama bisnis dan sialnya pihak pusat perbelanjaan menginginkan Luna sebagai model dikontrak kerja samanya kali ini.


"Apa kau masih penasaran dengan wanita bermasker itu?" Tanya Luna menatap Arsya penuh kekaguman.


"Kenapa?" Arsya balik bertanya


"Tidak, aku hanya sekedar bertanya saja" jawab Luna melayangkan senyum manis diwajahnya.


"Aku sudah tidak peduli" jawab Arsya cepat, Arsya memang pernah penasaran dengan wanita itu tapi kini dia sudah memiliki Maliqa sebagai kekasihnya meski dia belum bisa menghubunginya sampai saat ini dikarwnakan jadwal pekerjaan yang menyita banyak waktu, dia bakhan sering lembur dan tertidur di meja kantornya, masalah beberapa supplier yang meninggalkannya ternyata membuat dampak cukup parah dalam perusahaannya hingga dia harus mendatangi satu persatu supplier dan distributor yang akan melakukan kerjasama dengannya.


"Jadi perasaan suka mu saat itu kau anggap apa?" tanya Luna penasaran dengan jawaban Arsya dia ingin sekali membuat wanita yang tak jauh berada dibelakang Arsya menyadari bagaimana posisinya saat ini dimata Arsya.


"Aku tidak pernah menyukainya" jawab Arsya jelas membuat Luna tersenyum meledek ke arah Maliqa.


Maliqa sangat paham permainan yang sedang dimainkan Luna saat ini, dia hanya ingin memastikan apakah Arsya akan memperkenalkannya langsung kehadapan Luna siapa dirinya saat mengetahui semua kebenarannya.


"Benar kah?" ujar Luna memastikan.


"Hmmmmpp" Arsya hanya berdehem dan menganggukan kepalanya sekali.


"Bila suatu saat nanti kau bertemu dengannya apa yang akan kau lakukan?" tanya Luna lagi


"Tidak ada, karena tidak ada hubungan apapun diantara kami" jawab Arsya datar.


"Oh seperti itu.." Luna sangat puas dengan semua jawaban yang Arsya katakan.


Hingga dia melihat Maliqa ingin pergi meninggalkan cafe dengan kedua temannya.


Pertunjukan belum selesai, ini tidak akan menyenangkan jika kau pergi batin Luna


"Hai Maliqa" sapa Luna setengah berteriak.

__ADS_1


"Maliqa.." gumam Arsya terkejut bangun dan menoleh cepat ke belakang tubuhnya.


"Hai Nona Luna" sapa Maliqa tersenyum datar.


"Arsya kau pasti heran kenapa aku bisa mengenalnya bukan?" tanya Luna pada Arsya tanpa mengalihkan pandangannya pada Maliqa


"Dia adalah wanita bermasker yang pernah mengikuti kegiatan magang di perusahaan textile milikmu" ujar Luna lagi.


"Apa?!" Arsya terkejut hingga tidak bisa mengatakan apa -apa lagi


Jadi dengan kata lain aku tertarik pada wanita yang sama batin Arsya


"Kau pasti terkejut karena melihat wajahnya sekarang, Kau tau kenapa dulu dia mengenakan masker? dia memiliki wajah yang buruk rupa dipenuhi dengan jerawat yang bernanah maka dari itu dia mengenakan masker" ujar Luna dengan seringai jahat meledek fisik Maliqa dahulu.


Saat Maliqa ingin pulang dihari terakhirnya magang diperusahaan Arsya tanpa sengaja Luna melihat Maliqa mengganti Masker yang basah dan kotor akibat terkena darah dan nanah yang keluar dari wajahnya.


"Kau!!" Martha berteriak geram menunjuk wajah Luna, Martha menganggap jika dia sudah keterlaluan dwngan mengolok - ngolok Maliqa didepan semua orang.


"Kenapa? bukankah itu benar Maliqa?" Luna tidak menghiraukan tanggapan marah dari teman disamping Maliqa, dia cukup geram dengan melihat Maliqa yang masih bisa bersikap tenang saat semua kejelekannya terkuak didepan semua orang.


"Tapi dengan wajahmu sekarang pasti kau sudah memiliki kekasih bukan?" tanya Luna yang sebenarnya tidak peduli.


"Tentu saja aku sudah memiliki kekasih" jawab Maliqa menatap Arsya datar.


"Tapi sayangnya kekasihku berselingkuh dengan wanita yang pernah dekat dengannya jadi mungkin aku akan memutuskannya" timpal Maliqa lagi dia tersenyum mengejek menatap Arsya dan Luna secara bergantian.


"Wah kau kasihan sekali, wajah mu sudah berubah menjadi cantik saja tidak bisa membuatmu mendapatkan apa yang sudah kau miliki" Luna tertawa terkekeh dia mendapat lelucon baru yang Maliqa keluarkan sendiri tanpa perlu susah payang dia mengoreknya.


"Sepertinya yang harus dikasihani disini adalah kekasihku, karena dia akan kehilangan orang yang mencintainya dengan tulus" jawab Maliqa dengan senyum datar tapi tatapan matanya dia layangkan tajam menatap Arsya.


Maliqa geram kenapa Arsya masih diam saja tidak mengakuinya sebagai kekasihnya.


"Hmmmm.. semoga kau mendapat yang kau inginkan tapi tidak dengan pria disampingku ini karena dia adalah milikku" ujar Luna melingkarkan tangannya dapa tangan Arsya menjelaskan kepemilikannya.


"Luna!" bentak Arsya menghempaskan secara kasar rangkulan tangan Luna.

__ADS_1


"Oh tenang saja Nona Luna, saya tidak sebanding dengan anda, saya tidak akan mengganggu hubungan Nona Luna dan Tuan Arsyanendra" Maliqa menekankan saat menyebutkan nama Arsya dia sudah mulai geram dengan kelakuan Arsya.


"Baguslah kalau kau sudah paham" Ujar Luna, dia sangat malu dihadapan Maliqa, Arsya dengan mudah menjatuhkan harga dirinya dengan menghempaskan belitan tangannya.


"Saya permisi Nona, Tuan" Ujar Maliqa membukukan setengah tubuhnya.


Maliqa mengajak kedua sahabatnya untuk meninggalkan cafe, dia sudah kehabisan kesabaran melihat perlakuan Arsya.


"Luna apa - apan ini? Mulai sekarang jangan pernah dekati aku lagi, aku bukan kekasihmu atau milikmu" Bentak Arsya kesal, Arsya sebenarnya sangat ingin mengumumkan pada semua bahwa Maliqa lah kekasih yang dia cintai, bahwa Maliqalah yang sudah dua kali membuat tertarik pada wanita yang sama.


Tapi sedari tadi Arsya meeenahan mulutnya untuk mengungkapkan kebenaran, dia tidak mau Maliqa berurusan dengan Luna si ular licik, Arsya tidak mau jika Luna berani melukai Maliqa.


"Arsya tenanglah" Luna mulai dibuat ketakutan mendapat bentakan keras dari Arsya.


Arsya keluar dari cafe dia bisa mengatur ulang jadwal pertemuannya dengan pemilik Mall dan menolak Lua sebagai model proyek ini, jika pihak Mall tidak bersedia mereka bisa meminta pembatalan kontrak kerjasama.


Diluar area Mall tepatnya ditaman samping Mall, Maliqa dan kedja sahabatnya sedang duduk di bangku taman.


Keduannya masih segang menanyakan perihal kejadian yang baru saja mereka saksikan, hingga akhirnya Amaya memberanikan diri untuk bertanya.


"Maliqa ada apa semua ini?" ujar Amaya mengelus perlahan bahu Maliqa memberikan kenyamanan setelah apa yang terjadi dalam kisah cintanya.


"Tidak ada apa - apa Kak" jawab Maliqa menoleh dengan senyuman.


"Apa kau baik - baik saja?" tanya Martha khawatir


"Aku baik - baik saja, tapi maaf aku sudah tidak bisa melanjutkan acara jalan - jalan dan bermain kita, suasana hatiku sedang tidak baik apa kalian bisa memaklumi jika aku pulang lebih dulu?" Ujar Maliqa menyesal dia tak seharusnya melibatkan acara bersenang - senang yang dia rencanakan menjadi tidak nyaman akibat pertemuannya dengan Arsya.


"Baiklah, tenangkan dulu saja dirimu" ujar Amaya, dia sangat memahapi sikap maliqa saat ini dia sejujurnya takjub melihat Maliqa tidak terpancing amarah oleh olok - olokan wanita bernama Luna.


"Hubungi kami segera jika kau sudah merasa lebih baik" ujar Amaya lagi, dia memberi pelukan hangat agar Maliqa merasa lebih tenang.


"Terimakasih aku menyayangi kalian" ucap Maliqa dalam pelukan Amaya.


"We love you to" jawab Martha yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2