
Seharian ini Maliqa sering melamun kadang tersenyum dan kadang tersipu sendiri, Martha teman sebangkunya menyangka jika Maliqa mendapatkan ungkapan cinta dari lelaki yang dia suka Aland Darma.
Beberapa bulan terakhir ini Aland gencar mendekati Maliqa dan memberi perhatian lebih, Martha sadar diri fisik Maliqa sekarang berbanding jauh dengannya, apa lagi bila disandingkan dengan sikap baik dan perangai Maliqa, Maliqa bahkan mendapatkan julukan Heaven Fairy. Melihat kebahagiaan yang Maliqa rasakan membuat Martha sedikit iri.
Jika memang mereka berjodoh, aku akan mencoba merelakannya Martha
"Maliqa sudah waktunya jam pulang, apa kau ingin pulang bersama?" Martha menawarkan diri dengan senyum canggung dibibirnya.
"Ah tidak usah Martha, hari ini aku akan pergi dengan seseorang dia akan menjemputku sebentar lagi" ujar Maliqa yang sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Aku tidak mungkin memberi tahu Martha jika aku akan dijemput donatur utama sekolah ini, aku juga takut salah paham menanggapi perlakuan tuan Arsya kepada ku jadi mungkin lain kali aku akan menceritakannya Maliqa
"Oh baiklah, aku pergi dulu sampai ketemu besok" jawab Martha lirih
Martha berlalu pergi tanpa ingin menanyakan perihal siapa seseorang yang Maliqa maksud dia cukup menyakini itu adalah Aland.
Bahkan mereka sudah mulai pulang bersama Martha
Sesampainya diarea parkir sekolah, hati kecil Martha ingin menolak bahwa seseorang yang dimaksud Maliqa adalah Aland, tapi logika nya membenarkan karena dia tau bagaimana gigihnya Aland mendekati Maliqa pria introvent itu bahkan dengan tidak malunya menyapa Maliqa di tempat terbuka atau disaat banyak kerumunan orang.
Apa aku menunggu mereka datang saja agar hati ku yakin? tapi bagaimana jika dengan melihat mereka bersama hanya akan membuatku merasakan sakit yang semakin dalam, Aku bahkan menyukainya sedari satu tahun yang lalu Martha
"Lebih baik aku pulang saja" gumam Martha pelan dia lantas masuk ke mobilnya dan berlalu dari area parkir.
Ting.
Bunyi notifikasi pesan berlogo hijau berdenting diponsel Maliqa.
"Mas sudah didepan gerbang" isi pesan tersebut yang ternyata dikirim oleh Arsya, Maliqa setelah membaca isi pesan tersebut seketika membuat senyumnya mengembang dengan pipi merona.
"Mas... hihihihi kenapa aku jadi geli sendiri, Tuan Asya ini ada - ada saja" gumam Maliqa.
__ADS_1
Maliqa segera bangkit dan berlalu keluar menemui Arsya, senyum manis terbingkai jelas diwajah Arsya saat melihat Maliqa keluar dan menghampirinya.
"Kita mau kemana?" Tanya Maliqa pelan
"Kita akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk mengganti ponsel mu dan setelah itu kita makan siang bersama" ucap Arsya semangat
"Tidak perlu tuan, ponsel saya masih berguna dan berfungsi sebagai mana mestinya" ungkap Maliqa segan
Mendengar kata tuan keluar dari mulut Maliqa lagi, Arsya hanya menghela nafas panjang, menurutnya orang yang memanggilnya tuan adalah para kolega dan bawahannya saja, dia ingin Maliqa memanggilnya dengan sebutan lain yang sedikit lebih hangat bahkan terdengar intim.
"Maaf saya sudah terbiasa memanggil anda dengan sebutan Tuan" ucap Maliqa pelan.
Tidak ingin menghancurkan suasana hati yang baik dengan perdebatan, Arsya mengalihkan pembicaraan perihal pangilan Maliqa terhadapnya.
"Ya sudah, sekarang masuklah hari sudah siang aku tak mau kulit mu memerah karena kepanasan" ucap Arsya pasrah.
Mereka berdua memasuki mobil dan melaju pergi, tanpa mereka sadari Ketua Yayasan Farhan sedari tadi memerhatikan mereka dari jauh.
Sesampainya di sebuah Mall terbesar dikota ini, Arsya menggandeng dan menarik Maliqa ke area pertokoan yang menjual ponsel pintar keluaran terbaru, dengan perdebatan yang alot dan memakan waktu yang cukup lama akhirnya Maliqa menerima pemberian hadiah ponsel dari Arsya.
Maliqa sempat dibuat heran dengan makanan yang dipesan Arsya, Maliqa pikir jika Arsya juga menyukai udang goreng tepung dan cah kangkung sama sepertinya, tapi Maliqa menyadari keanehaan saat Arsya masih memesan makanan yang lain tanpa menawarinya makanan apa yang dia inginkan.
"Kenapa kau heran? Bukan kah udang goreng tepung dan cah kangkung adalah makanan kesukaan mu?" tanya Arsya
"Dari mana tuan tahu?" tanya Maliqa heran dia bahkan mengerutkan kedua halisnya.
"Kenapa? bukankah hal yang wajar jika aku mengetahui apa saja yang disukai gadis ku?" ucap Arsya terkekeh pelan
"Tuan.." ucap Maliqa lirih dia tidak ingin Arsya terus menerus menggodanya seperti ini, kebaikan Arsya terhadapnya membuat dia takut berharap lebih.
"Sudahlah sekarang makanlah dulu" potong Arsya dia tidak mau mendapat penolakan secepat ini.
__ADS_1
Akhirnya Maliqa pun menurut, mereka berdua makan dalam diam tidak ada yang bersuara sedikit pun, hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang mereka dengar.
Selesai makan dan menyelesaikan pembayaran Arsya mengajak Maliqa untuk pulang, dalam perjalanan pulang keduanya asyik dengan pikiran mereka sendiri.
Suasana terkesan canggung untuk memulai percakapan, hingga akhirnya Arsya memberanikan diri untuk mengutarakan maksudnya, dia tidak mau berlarut - larut memendam rasa yang akhirnya akan berhenti disini karena rasa tidak nyaman yang dirasa.
Arsya menepikan mobilnya disebuah taman pinggir kota, dia melihat dari kaca depan mobil area sekitar taman yang ramai di penuhi pengunjung dan pedagang lalu lalang.
Damn seharusnya aku mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk menyatakan perasaan ku Arsya
"Tuan apa kita akan turun?" tanya Maliqa, kedua matanya berbinar menatap para pedagang kaki lima dengan jajanan yang sering ia temui dipasar malam.
Melihat nada antusias dan senyum manis yang Maliqa perlihatkan, Arsya hanya terkekeh padahal dia sedang menyesal karena membawa gadisnya kesini tapi Maliqa malah seperti menemukan kesenangan tersendiri.
"Apa kau ingin turun? Kita bisa bermain dan berkeliling sebentar" ujar Arsya melepaskan sabuk pengamannya
"Ya.. ya aku mau" Maliqa keluar dengan antusias.
Dia tersenyum, tertawa dengan riangnya, Maliqa bahkan tanpa sadar menarik pergelangan tangan Arsya dan membawanya berkeliling mengikutinya, dibangku taman Maliqa tak henti - hentinya tersenyum bahagia dia bahkan membeli banyak jajanan dan kini meja dihadapannya penuh dengan jajanan yang dia beli.
"Kau senang?" Tanya Arsya terkekeh
"Aku senang sekali, terima kasih Tuan" ujar Maliqa mengembangkan senyumnya.
Arya meraih kedua tangan Maliqa dan mengenggamnya.
"Maliqa sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan" Arsya ingin segera mengutarakan maksud hatinya.
"Maliqa apa boleh kita memiliki hubungan lebih?" Tanya Arsya menatap lembut sosok gadis yang selama ini dia cintai
"Hubungan seperti apa maksud tuan" tanya Maliqa lirih dia bahkan kesusahan dalam menelan salivanya karena perlakuan Arsya
__ADS_1
"Aku inginkan kau jadi kekasih ku?" Ujar Arsya lembut memohon
"Kekasih?!" ucap Maliqa membeo membulatkan bola matanya