Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 10. Dia Bukan Anakmu


__ADS_3

"Bim, kapan kembali dari Amerika Serikat?" Seseorang mendekat ke arah Bima dan duduk di sampingnya.


"Kemarin langsung terbang ke sini saat bokap nelpon."


"Ada masalah?"


"Sedikit," jawab Bima. "Tapi sudah kelar," lanjutnya.


"Oh, dia siapa?" Teman Bima menunjuk ke arah Cantika.


"Bukan siapa-siapa."


"Oh kupikir putrimu karena begitu mirip denganmu."


"Putriku sudah tiada sebelum dilahirkan."


"Keguguran? Oh sorry aku tidak bermaksud membuatmu bersedih."


"It doesn't matter."


"Oke. Aku ke sana dulu ya!" Pria tersebut menepuk bahu Bima dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang istri yang sudah selesai dengan pesanannya.


"Cantika sama siapa, masa sendirian aja? Apa jangan-jangan bolos sekolah ya?" tanya Bima.


Cantika menggeleng. "Bolos itu apa Om?"


"Bolos itu dari rumah masuk sekolah, tapi sampai sekolah malah nggak ngikutin pelajaran dan kabur dari sekolahan," jelas Bima melihat Cantika masih memakai seragam sekolah.


"Nggaklah Om, Cantika nggak berani. Takut mami sedih juga."


Bima mengangguk.


"Mana mami kamu?"


"Mana ya?" Cantika melihat ke arah orang-orang yang mengantri. Mikhayla segera bersembunyi dibalik punggung seseorang.


"Itu dia Om." Meskipun tidak melihat wajah Mikhayla, tetapi Cantika ingat dengan pakaian yang dikenakan sang mami.


Bima menatap ke arah Mikhayla dan menggeser-geser posisi duduknya agar bisa melihat secara jelas siapa ibu Cantika. Benar kata temannya tadi Cantika adalah copy paste dirinya. Apakah mungkin orang tua Cantika masih satu family dengannya?


Sayangnya semakin dia menggeser posisi, Mikhayla pun ikut bergeser.


"Mami kok lama ya?" Cantika mengeluh sebab orang yang tadinya mengantri di belakang Mikhayla sudah pada keluar semua sedangkan Mikhayla belum kembali juga.


"Kita hampirin yuk! Sekalian Om mau mengantri juga," ajak Bima.


"Oke Om." Cantika bangkit dari duduknya dan berjalan di depan Bima.


"Mati aku, kenapa Cantika malah membawa dia kemari sih?" Mikhayla was-was, mau berlari dan bersembunyi pun khawatir dengan keadaan Cantika.


"Oke hadapi sajalah dengan tenang," gumam Mikhayla seorang diri.


"Mami!" Cantika berlari ke arah Mikhayla lalu memeluknya.


"Mami belum selesai?"


"Sudah sayang ini mami sudah mau kembali." Mikhayla tersenyum ke arah Cantika sedangkan Bima tampak kaget.


"Mikhayla! Benarkah dirimu itu Mik?"


"Maaf Anda salah orang dan saya tidak pernah mengenal Anda." Mikhayla membungkuk dan meraih Cantika untuk digendong dengan tangan kanan dan memegang bungkusan dengan tangan kirinya.


Setelah itu Mikhayla langsung bergegas pergi keluar.


"Mik tunggu!" Bima menahan tangan Mikhayla hingga bungkusan di tangannya hampir terjatuh.


"Maaf saya tidak ada urusan dengan Anda dan saya sangat sibuk." Mikhayla menyentak pegangan tangan Bima dan langsung mempercepat langkahnya.


Bima berlari dan menghadang Mikhayla di hadapannya. "Apakah dia putriku? Apakah dia putri kita?"


Cantika menatap Bima dengan senyuman pahit. "Putrimu? Rupanya kau sedang bermimpi. Bagaimana bisa kau memiliki putri dariku sedangkan kau menyentuhku saja tidak berani." Mikhayla membalikkan ucapan Bima saat di depan para orang tua dulu.

__ADS_1


"Mik, maafkan aku. Aku-"


"Sudahlah Kak anggap saja diantara kita tidak pernah ada apa-apa. Aku bahagia hidup tanpa dirimu. Jangan ganggu aku lagi!"


Setelah mengatakan kalimat itu, Mikhayla langsung meninggalkan ruangan restoran cepat saji tersebut. Meninggalkan Bima yang hanya terpaku di tempat.


"Mami Om itu siapa?" tanya Cantika saat keduanya sudah berada di parkiran restoran dan Cantika sudah didudukkan di atas sepeda, sedangkan Bima hanya menatap mereka dari balik kaca.


"Bukan siapa-siapa Cantika."


"Tapi sepertinya mami dan om itu saling mengenal."


"Kau salah, om itu hanya mengaku-ngaku kenal dengan mami padahal om itu cuma salah orang." Mikhayla buru-buru mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Cantika dan segera memakai helm.


"Maafkan aku Mik, aku terpaksa melakukan ini semua. Aku tahu pasti kau berat menjalani hidupmu selama ini, apalagi membesarkan Cantika sendirian."


Dari air mata yang menetes di pipi Mikhayla tadi, Bima tahu dirinya telah menorehkan luka yang terlalu dalam di hati wanita itu dan mungkin saja luka itu tidak akan pernah bisa disembuhkan, walaupun bisa tetap saja akan meninggalkan bekas. Semoga saja masih ada maaf di hati Mikhayla.


"Aku harus mengejarnya." Bima langsung berlari keluar. Melihat Mikhayla sudah mengendarai motornya keluar dari area restoran, buru-buru Bima masuk ke dalam mobil dan mengejarnya.


Mikhayla yang menyetir motor sambil menangis tidak sadar dirinya ada yang mengikuti. Hingga ia sampai di depan ruko tetap saja tidak sadar mobil Bima juga telah berada di belakangnya. Mikhayla pikir mobil Bima adalah mobil pelanggan yang ingin membeli bunga di tokonya.


"Mami menangis?" Cantika langsung bertanya saat membuka helm mata Mikhayla terlihat merah.


"Ah nggak mami tadi kelilipan, ada hewan kecil-kecil yang menyerang mata mami," kilah Mikhayla.


"Tapi mami kan pakai helm?"


"Mungkin tadi hewannya bersembunyi di dalam helm saat belum mami pakai," jawab Mikhayla sekenanya. Dia tidak menyangka Cantika bisa peka seperti itu. Lain kali dia harus berhati-hati agar anak itu tidak curiga.


"Bagaimana semua pesanan Bang Jo?"


"Beres Mik, sebentar lagi akan segera diantar. Kami sudah beralih membuat untuk pesanan besok."


"Oke semangat ya, aku ke dalam dulu."


"Iya Mik."


"Oke Mami, tapi Mami tadi beli chicken yang sayap juga, kan?"


"Sudah Sayang, mami tahu makanan favorit kamu."


"Mami memang yang terbaik," ujar gadis itu tersenyum manis. Mikhayla mengangguk dan menjawab dengan senyuman manis pula.


"Yuk!"


"Ayo Mami."


Mikhayla masuk ke dalam dan melayani putri kesayangan sedangkan Bima setelah turun dari mobil melihat-lihat keadaan toko.


"Mau pesan apa Mas?" tanya Johan.


"Lihat-lihat saja Mas, juga mau ketemu Mikhayla."


"Mau ketemu Mikhayla?"


Bima mengangguk.


"Kalau begitu saya panggilkan Bu Mika dulu ya Bang Jo," pamit seorang karyawati sambil meletakkan buket bunga yang hampir selesai dirangkai.


"Tidak perlu!" Bima menahan wanita itu. Karyawati itu mengernyit.


"Biarkan! Aku akan menunggunya saja, mungkin dia masih sibuk dengan Cantika."


Johan dan temannya itu mengangguk.


"Oh ya, tadi kamu bilang Mikhayla Ibu? Apa jabatan dia di toko ini?"


"Dia pemilik toko ini Mas," jawab karyawati tadi.


"Oh." Bima mengangguk-angguk. Dalam hati dia kagum dengan Mikhayla.

__ADS_1


Sesaat kemudian Mikhayla keluar dari dalam rumah. Sebab Cantika tidak ingin disuapi, Mikhayla bermaksud membantu para karyawan untuk menyelesaikan tugas mereka.


Namun, dia kaget melihat Bima malah duduk sambil mengobral dengan Johan.


"Itu dia Bu Mika Mas."


Bima menoleh dan tersenyum ke arah Mikhayla sedangkan Mikhayla tersenyum kecut.


"Mau apa ke sini? Mau menculik Cantika seperti Om Tian dan Tante Fera?"


"Apa maksud kamu? Papa sama mama nyulik Cantika?" Bima sama sekali tidak tahu. Meskipun dia pulang ke Indonesia untuk membebaskan kedua orang tuanya dari tahanan, tetapi dia tidak tahu kalau anak kecil yang membuat salah paham itu adalah Cantika.


"Atau kau ke sini ingin menuntut diriku karena telah melaporkan kedua orang tuamu?"


"Sama sekali tidak Mik, aku bahkan tidak tahu kalau dirimu punya masalah dengan orang tuaku."


"Aku tidak pernah punya masalah dengan orang tuamu, tetapi orang tuamu yang punya masalah denganku. Kalau tidak mana mungkin dia mengganggu hidupku."


"Maaf kalau begitu, tetapi kedatangan diriku ke sini tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orang tuaku. Aku hanya ingin meminta maaf dan pengakuan darimu bahwa Cantika itu putriku."


Semua karyawan dan karyawati yang mendengar pembicaraan keduanya hanya bisa menebak-nebak.


"Bukankah aku sudah mengatakan tadi bahwa dia bukan anakmu."


"Tapi Mik, bagaimana mungkin wajahnya mirip denganku? Aku yakin dia pasti putriku dan aku yakin kamu belum menikah kan setelah pergi dari rumah. Aku yakin kamu masih mencintaiku dan tidak bisa berpaling dariku."


Mikhayla menggeleng walaupun dalam hati membenarkan ucapan Bima.


"Benar kan apa yang kukatakan?"


"Hah, percaya diri sekali dirimu Kak. Baiklah tunggu di sini! Aku akan mengambil sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang mengganjal di hatimu tadi."


Tanpa menunggu jawaban Bima, Mikhayla langsung bergegas masuk kembali ke dalam rumah. Mikhayla kembali ke samping Bima dengan membawa kertas dan menyodorkan pada Bima.


"Apa ini?"


"Itu akte kelahiran Cantika, bacalah biar kamu paham!"


Tanpa disuruh pun Bima langsung membaca kertas di tangannya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Bima menggeleng.


"Bayimu sudah kegugupan setelah aku pergi dari rumah. Bisa kau baca sendiri Mikhayla malah lahir setelah satu tahun dari waktu kelahiran normal bayi kita seandainya masih bertahan dalam perutku."


"Tidak mungkin ini pasti salah."


"Huft, harus aku jelaskan bagaimana lagi Kak agar kau percaya?"


"Kalau dia bukan bayiku kenapa dia malah mirip denganku?"


"Mungkin karena saat hamil aku membencimu."


"Berarti saat kamu hamil Cantika, kamu masih mengingatku?"


Mikhayla memilih diam, dia tidak mau menjawab pertanyaan Bima yang satu ini.


"Mik katakan kau masih mencintaiku!" desak Bima.


"Cintaku sudah pergi bersamaan dengan kepergianku dari rumah. Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi silahkan pergi!"


Mikhayla tidak ingin kehadiran Bima di tempat tinggalnya diketahui oleh Mikhayla dan akan menimbulkan pertanyaan macam-macam dari gadis itu.


"Kalau bukan putriku lalu siapa ayah Cantika?" Bima masih tidak bisa mempercayai ucapan Mikhayla walaupun sudah ada bukti akte kelahiran Cantika.


Mikhayla menarik nafas panjang kemudian berkata, "Bukankah di dalam kertas yang kau pegang itu tertulis lengkap siapa nama ayahnya?"


Bima yang sedari tadi tidak fokus langsung mencari nama ayah Cantika.


Tiba-tiba tangan Bima gemetar saat mengeja nama ayah Cantika di kertas tersebut.


"Reynolds Sebastian? Jadi benar kau punya hubungan dengannya?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2