Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 14. Mencari Mailena


__ADS_3

Setelah Tian dan Fera beranjak masuk ke ruang IGD untuk melihat putrinya, Mikhayla langsung pergi dari rumah sakit lalu menyetop taksi yang melintas di hadapannya dan meminta sopir untuk mengantarkan ke rumah orang tuanya.


Mikhayla ingin melihat kondisi Mailena saat ini. Selain sudah sangat merindukan sang kakak, Mikhayla juga penasaran dengan apa maksud dari kedua orang tua Bima yang mengatakan dirinya telah menghancurkan kehidupan Mailena. Dalam hati berharap semoga saja kalimat itu adalah pernyataan yang ngawur saja.


Tiga jam melakukan perjalanan akhirnya Mikhayla sampai juga di depan tempat tinggalnya dulu. Wanita ini tampak turun dari taksi dan menghampiri pak satpam di pos ronda.


"Pak boleh ketemu Kak Mailena?" tanya Mikhayla langsung.


"Mailena siapa Neng?"


Mikhayla kaget ternyata setelah satpam itu menoleh ke arahnya, satpam itu bukan satpam yang dulu lagi.


"Mailena kakak saya Pak, anak dari pemilik rumah ini," jelas Mikhayla. Dia berpikir mungkin pak satpam ini baru bekerja sehingga tidak tahu siapa nama anak majikannya.


Pak satpam tampak mengerutkan dahi. "Yang saya tahu anak pemilik rumah ini namanya Andara Neng. Iya benar Non Andara."


"Andara?" tanya Mikhayla sama sekali tidak mengerti.


"Iya mungkin Neng salah alamat," ujar satpam itu.


Mikhayla menggeleng.


"Tidak mungkin saya melupakan tempat dimana saya pernah dibesarkan dulu."


Pak satpam tampak mencerna ucapan Mikhayla.


"Maaf ayah Neng siapa namanya?"


"Pak Faqih Pak dan ibu saya Ratih."


"Oh penghuni lama toh."


"Maksudnya?"


"Pak Faqih sama Bu Ratih sudah setahun yang lalu pindah dari rumah ini dan rumah ini dijual pada majikan saya sekarang."


Mikhayla tampak syok. "Bapak serius? Bapak tidak diperintah oleh ayah untuk berbohong pada saya, bukan?"


"Tidak Neng buat apa berbohong. Kalau Eneng tidak percaya tuh lihat sendiri majikan saya sedang menuju ke sini."


Mikhayla mengangguk dan menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya.


"Mau ketemu siapa dia Pak?" tanya pemilik rumah pada pak satpam.


"Maaf Pak sebenarnya saya ingin menemui keluarga saya yang dulu tinggal di sini, tapi pak satpam mengatakan sudah pindah," terang Mikhayla.


"Ya benar Mbak rumah ini sudah menjadi milik saya."


"Bapak tahu mereka tinggal dimana sekarang?"


Pria itu tampak menggeleng.

__ADS_1


"Maaf tidak tahu."


"Huuuuft." Mikhayla menarik nafas panjang.


"Terima kasih Pak dan maaf mengganggu waktu bapak."


"Tidak apa-apa, sama-sama."


Mikhayla mengangguk dan undur ke belakang. Dia berbalik dan berjalan menyusuri tepian jalanan. Pikirannya pun terbang ke beberapa tahun lalu.


"Eneng tidak boleh masuk!" Pak satpam mencegah di depan pintu pagar.


"Pak tolonglah saya ingin ketemu kakak saya." Mikhayla tampak memelas.


"Maaf Neng saya hanya menjalankan perintah dari ayah Eneng sendiri."


"Kumohon Pak sebentar saja, saya ingin menemui Kak Mailena. Saya janji tidak akan menampakkan diri di depan ayah dan ibu agar pak satpam tidak mendapatkan hukuman."


"Ekhem." Terdengar suara seorang pria berbatuk. Mikhayla memandang ke dalam melalui celah-celah pagar.


"Rupanya kau masih suka bermain kucing-kucingan." Pak Faqih menatap tajam Mikhayla lalu membuka pintu pagar.


"Ma-af ayah, saya hanya ingin bertemu Kak Mai."


"Mau bertemu Mailena dan ingin merayu dia agar kami mau menampung dirimu lagi?"


Mikhayla menggeleng, itu sama sekali tidak benar.


"Kau pikir setelah apa yang terjadi padamu aku bisa mempercayaimu lagi? Kekecewaanku padamu sudah terlalu besar. Kau tahu aku sampai membekali ilmu beladiri agar tidak ada yang menggangu dirimu. Nyatanya kau malah menyerahkan kesucianmu dengan suka rela kepada pria yang entah siapa. Kau benar-benar menghancurkan harga diriku sebagai ayah angkatmu."


"Maaf ayah Mika khilaf, kumohon ya izinkan sebentar Mika bertemu Kak Mai."


"Tidak boleh."


"Ayah kumohon!" Mikhayla duduk dan mencium kaki sang ayah.


"Sekali tidak tetap tidak, mau kamu bersujud di kakiku, mau menangis darah di depanku aku tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu dia."


"Ayah kumohon!" Menahan kaki sang ayah agar tidak pergi.


Pak Faqih melepas paksa tangan Mikhayla. Mikhayla segera berlari ke dalam rumah.


"Pak satpam kejar dia! Jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah!"


Pak satpam pun langsung mengejar Mikhayla dan menahannya. Mikhayla memberontak dan menggigit lengan pak satpam.


"Auw." Pak satpam mengaduh kesakitan. Gigitan Mikhayla sangat kasar dan meninggalkan bekas berwarna kemerahan. Namun, pria itu tidak menyerah, sebab profesinya akan menjadi taruhan kalau terlihat oleh majikannya tidak berusaha mencegah Mikhayla masuk.


"Mika?" Ratih kaget melihat melihat Mikhayla menerobos masuk dengan pak satpam yang masih mengejarnya.


Pak satpam mencengkram bahu Mikhayla dengan kedua tanganmu. Namun, Mikhayla berbalik dan memelintir tangan pak satpam hingga berbunyi seperti tulang patah.

__ADS_1


"Sekali lagi Pak satpam berani menghalangi jalan saya, saya pastikan tangan pak satpam akan memakai gips," ancam Mikhayla.


Mau tidak mau pak satpam menoleh pada Ratih untuk meminta pertimbangan.


"Biarkan saja dia masuk Pak!"


"Baik Bu."


Pak satpam undur ke belakang dan pergi sedangkan Mikhayla langsung masuk ke kamar Mailena.


"Kak Mai! Kak!" panggilnya. Mikhayla mencari Mailena di seluruh sudut kamar termasuk kamar mandi. Namun, dia tidak menemukan kakaknya di tempat itu.


"Bu kenapa membiarkan dia masuk?" protes Pak Faqih karena melihat Ratih hanya mengawasi pergerakan Mikhayla dari arah pintu.


"Biarkan saja Yah, toh dia tidak akan menemukan Mailena di dalam sana," ucap Ratih tenang.


"Memang anak kita kemana Bu?"


"Tadi pagi dijemput oleh Tian dan Fera. Mereka meminta putri kita untuk tinggal di rumahnya."


"Loh kok nggak ngomong sama aku?"


"Tadinya mau ngomong tapi karena ayah belum datang dari luar kota mereka mengatakan akan menemui ayah lain kali saja."


"Kak Maelena tinggal di rumah kak Bima?"


Ratih mengangguk. Bagaimana mungkin dia bisa tega bersikap terlalu seperti suaminya sedangkan Mikhayla yang merawat adanya dirinya semenjak bayi.


"Bu saya minta nomor Kak Mailena. Mika mengubungi nomor yang dulu sudah tidak aktif." Tidak mungkin Mikhayla menemui sang kakak langsung di rumah Bima. Bisa-bisa dirinya dihina dan diusir oleh kedua orang tua Bima.


"Jangan dikasih Bu."


"Yah Mika mohon." Berkata dengan tatapan memelas.


Ratih mengutak-atik ponselnya dan hendak memberikan pada Mikhayla. Namun ponselnya segera dirampas oleh Pak Faqih sebelum sampai di tangan Mikhayla.


"Yah ...."


"Mau mau dia mengganggu rumah tangga anak kita? Saya curiga dia akan mudah merayu Bima jika dekat dengan Mailena lagi. Mama ingin anak kita drop?"


Ratih menggeleng dan pergi.


"Yah, mengapa ayah berpikiran seperti itu?"


"Saya pikir tidak perlu dijelaskan karena kau sendiri tahu jawabannya. Pergilah, jangan ganggu hidup kami dan jangan pernah menemui kami lagi. Jangan pernah muncul di hadapan Bima dan Mailena jika kau masih menganggap dia kakak dan ingin dia bahagia!"


Mikhayla mengusap air mata yang tumpah menemani perjalanan yang ia tempuh dengan berjalan kaki.


"Apakah aku harus ke rumah Om Tian? Tidak, tidak. Aku tidak ingin harga diriku diinjak-injak lagi oleh mereka. Aku akan mengawasi rumah sakit. Kak Bima ada di rumah sakit, berarti suatu saat Kak Mailena pasti muncul di rumah sakit untuk menjenguk Kak Bima." Mikhayla meyakinkan diri.


"Tapi apa maksud Om Tian bahwa Kak Mailena hancur gara-gara aku. Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Bukankah seharusnya aku yang hancur karena malah dirinya yang dinikahi Kak Bima sementara Kak Bima telah berjanji akan menikahiku?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2