Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 16. Hipotensi


__ADS_3

"Dokter tolong tangani pasien ini secepatnya!" seru Fergi saat dirinya menginjakkan kaki di lantai rumah sakit, tak perduli ada atau tidak ada dokter yang mendengar suaranya saat ini.


Beberapa orang perawat berlari cepat ke arah Fergi yang menggendong tubuh Mikhayla dengan mendorong sebuah brankar, sedangkan Cantika berjalan di belakang Fergi dituntun oleh Agnes.


"Letakkan di sini Mas!"


Fergi pun meletakkan tubuh Mikhayla di atas brankar dan perawat langsung mendorong kembali brankar itu menuju ruang pemeriksaan.


"Maaf apa yang terjadi padanya?" tanya dokter sambil memeriksa tubuh Mikhayla.


"Saya juga tidak tahu Dok tadi dia datang dari luar dan langsung pingsan," jelas Agnes sedangkan Fergi dan Cantika memilih menunggu di luar atas saran dokter. Anak kecil tidak disarankan masuk ke ke dalam ruangan karena takut terinfeksi penyakit. Fergi pun memilih menemani Cantika dan membiarkan Agnes yang menemani Mikhayla di dalam.


"Langsung pingsan tanpa sebab?"


Agnes hanya mengangguk.


"Apa dia tadi mendonorkan darahnya?" Dokter memeriksa pergelangan tangan Mikhayla.


"Maaf Dok saya benar-benar tidak tahu," kata Agnes jujur.


"Yah dia baru saja mendonorkan darah." Dokter menyimpulkan.


"Mungkin saja," jawab Agnes.


"Dia mengalami hipotensi. Tekanan darahnya mendadak turun. Apa dia menstruasi saat ini?"


"Iya Dok semalam Bu Cantika mengatakan sedang deras-derasnya. Lakukan apapun saja agar Bu Mika segera sadar dan sehat kembali."


"Baik, anda bisa tunggu di luar biar kami bisa fokus melakukan pekerjaan kami."


"Baik Dokter." Agnes pun berjalan keluar ruangan.


"Suster, segera pasang selang infusnya! Pasien ini membutuhkan cairan agar bisa cepat pulih."


"Baik Dok."


Suster dan dokter bekerja dengan solid di dalam ruangan sedangkan di luar ruangan Cantika langsung menanyakan keadaan maminya kepada Agnes.


"Bagaimana Tante Agnes keadaan mami?"


"Apa kata dokter Nes?" Fergi pun ikut bertanya.


"Itu ... kata Pak dokter, Ibu Mikhayla mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah. Dokter menebak bahwa Ibu Mikhayla baru saja melakukan donor darah terhadap orang lain sedangkan sebenarnya saat ini beliau sedang deras-derasnya menstruasi."


"Oh My God kenapa dia sampai nekad melakukan ini semua? Cari mati rupanya tuh anak," ucap pergi keceplosan.


"Apa Om jadi mami bisa mati?" tanya Cantika. Matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi. Air mata sudah siap meluncur dan tidak terbendung lagi.


"Oh sorry cantik, Om tidak bermaksud berkata seperti itu. Mami kamu pasti sembuh kok."


"Tapi Om tadi mengatakan mami cari mati."


"Om hanya bercanda sayang. Itu tidak sungguh-sungguh."

__ADS_1


"Dalam keadaan mami seperti ini Om masih bercanda?"


"Sorry."


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka. Semua orang menyerbu pintu ruangan tempat Mikhayla diperiksa.


"Bagaimana Dok keadaannya?" tanya Fergi langsung.


"Hmm, mohon maaf dia—"


"Jangan katakan dokter menyerah dan dia sudah—" Fergi tidak meneruskan ucapannya dan memandang iba kepada Cantika.


"Dia belum sadar dan tekanan darahnya rendah. Ini efek dari mendonorkan darah saat menstruasi pada tahap sedang mengeluarkan darah dalam porsi yang banyak."


"Kalau butuh transfusi darah saya siap mendonorkan darah saya Dok."


"Tidak perlu Pak Fergi, lagipula belum tentu golongan darahnya cocok. Tenanglah sebentar lagi dia akan segera sadar. Jadi bersabar saja dulu ya!"


"Ah, baiklah Dok. Kalau begitu saya jadi bisa sedikit lega."


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter lalu berjalan meninggalkan ruangan.


"Ayo masuk katanya mau melihat mami!" ajak Fergi pada Cantika. gadis kecil itu mengangguk dan langsung mengikuti langkah Fergi ke dalam ruangan.


"Kenapa belum sadar juga Om?" Cantika duduk di tepi ranjang tempat Mikhayla terbaring.


"Memang Cantika tidak mendengar apa kata dokter tadi?Kata dokter 'kan mami akan sadar, tapi kita harus bersabar karena sadarnya nanti bukan sekarang."


"Hmm, baiklah Om."


"Cantika nggak selera Cantika hanya mau mami sadar."


"Kalau Cantika nggak makan nanti Cantika bisa sakit dan kalau Cantika sakit mami yang baru sadar dari pingsannya harus menjaga Cantika jadi bisa sakit lagi dong, gimana coba?"


Cantika hanya merenung sambil memandang mata Mikhayla. Baginya tidak ada yang bisa menarik perhatiannya saat ini kecuali maminya sendiri. Dia tidak sabar menunggu Mikhayla membuka mata.


"Om pergi dulu ya mau beli makanan biar nanti kalau mami sadar bisa segera makan agar cepat sehat."


Cantika menatap Fergi dan mengangguk setelahnya beralih memandang Mikhayla lagi.


"Ya sudah. Nes nitip mereka berdua ya!"


"Siap Pak."


"Kamu nitip apa?"


"Nggak deh Pak, tidak usah."


Fergi mengangguk dan langsung pergi untuk membeli makanan.


Saat Fergi membeli makanan tidak sengaja ada seorang gadis yang melihatnya.


"Bang Fergi ngapain beli makanan di sini? Apa dia sudah bosan ya sama makanan di restorannya sendiri?" Gadis itu cekikikan sambil menutup mulut.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu! Ini kan area dekat rumah sakit? Apa jangan-jangan penyakit asma Aunty Lea kambuh?" Gadis itu memilih mengikuti Fergi secara diam-diam dari belakang.


"Benar, Bang Fergi memasuki area rumah sakit." Gadis itu mempercepat langkahnya hingga sampai di depan kamar Mikhayla baru dia menghentikan langkahnya, tidak ikut Fergi masuk ke dalam melainkan mengintip di pintu.


Di dalam sana Mikhayla sudah tampak sadar dan senyum Cantika terbit kembali.


"Sepertinya ada kabar baik nih hingga senyuman yang tadi berganti air mata kembali lagi," goda Fergi.


"Iya Om mami sudah siuman."


"Syukurlah. Kalau begitu Cantika sekarang makan ya. Om belikan ayam tepung bagian sayap dan usus goreng kesukaanmu. Mik kamu juga makan ya, apa perlu saya suapin?"


"Tidak perlu Fer, aku tidak mau makan," tolak Mikhayla. Dia tidak nafsu makan pikirannya masih melayang pada Bima dan Mailena.


Apakah Kak Bima bisa diselamatkan?


Mikhayla memandang ke arah Cantika dengan iba. Bagaimana kalau gadis cantiknya ini benar-benar tidak memiliki ayah?


Apa kabar Kak Maelena?


Mikhayla menarik nafas panjang. Di sudut matanya mulai tergenang air mata.


"Jangan banyak pikiran dulu, sekarang fokus pada kesehatanmu sendiri sebab jika kau sakit bisa saja Cantika ikut sakit," nasehat Fergi.


"Iya Fer, terima kasih sudah mengingatkan."


"Sama-sama. Agnes mana?"


"Tadi pamit untuk terima telepon."


"Oke. Ayo makan biar aku suapi. Aku yakin kau akan kesusahan jika makan sendiri dalam keadaan berbaring seperti itu dan aku sarankan kau jangan banyak bergerak dulu agar tidak pusing lagi."


Mikhayla tidak menjawab, dia tidak mau merepotkan orang lain hanya perkara makan saja.


"Cantika mau tidak saya suapin juga giliran sama mami?"


"Mau Om."


"Tuh Cantika mau masa kamu nolak sih?"


"Baiklah Fer." Mikhayla menyerah sebab kondisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk makan sendiri dan jika dipaksakan duduk takut matanya berkunang-kunang lagi dan roboh, sedangkan perutnya memang sudah terasa sangat lapar dan cairan infus tidak mampu membuat dirinya kenyang.


"Aku belikan sayur dengan sambal kacang agar membantumu cepat pulih. Cantika juga mau?"


"Nggak Om Cantika nggak pakai sayur, pakai ikan ayam doang."


"Baiklah." Fergi pun menyuapi Mikhayla dan Cantika secara bergiliran.


Gadis di balik pintu syok dengan apa yang dilihatnya.


"Jadi Bang Fergi sudah menikah dan punya anak?" Gadis itu menutup mulutnya yang menganga.


"Pantas saja." Gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan ruang rawat Mikhayla.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2