
"Apa maunya orang ini?" tanyanya dalam hati.
"Kamu tahu sendiri apa yang aku mau. Jangan dekat-dekat dengan Fergi!"
Mikhayla meringis, wanita di depannya seperti cenayang saja yang bisa menebak pikiran seseorang.
"Baiklah Bu akan saya usahakan," ucap Mikhayla tidak ingin memperpanjang pembicaraan lagi sebab kepalanya kembali berdenyut sakit.
"Auw, aduh!" Mikhayla langsung menekan kepalanya dan tubuhnya oleng, hampir saja tersungkur ke tanah.
"Mika!"
Fergi berlari dan segera menangkap tubuh Mikhayla sebelum terjatuh.
"Apa yang Mommy lakukan padanya?" Suara Fergi terdengar meninggi. Dia benar-benar kesal pada sang ibu.
"Aku tidak melakukan apapun Fer, dia saja yang lemah. Dasar wanita lemah! Diajak ngomong baik-baik saja malah pingsan. Bagaimana kalau diajak bicara serius?"
"Aaah!" Fergi mendesah kasar.
"Kalau terjadi sesuatu pada Mikhayla jangan harap Fergi akan pulang ke rumah!"
Kalimat Fergi membuat sang ibu semakin kesal pada Mikhayla. Gara-gara wanita itu Fergi malah melawan dirinya.
__ADS_1
Fergi langsung membawa tubuh Mikhayla masuk ke dalam kamar dengan setengah berlari.
"Fer dengarkan Mommy dulu!"
"Tidak ada yang perlu didengarkan lagi Mom. Sekali lagi Mommy mengata-ngatai Mikhayla jangan harap Fergi bisa memaafkan Mommy."
"Fer Mommy tidak pernah mengata-ngatai dia!" Sang ibu berkata dengan berteriak dan berlari menyusul Fergi ke dalam.
"Agnes ambilkan minyak kayu putih! Tik ambilkan air hangat dan lap!" Fergi yang tidak tahu harus berbuat apa langsung memerintah karyawan di toko Mikhayla.
Karyawan yang diperintahkan gerak cepat, mengambil apa yang diperintahkan oleh Fergi.
Fergi membaringkan tubuh Mikhayla di atas ranjang dan memeriksa pernafasan wanita itu. Dia sedikit bernafas lega karena tahu Mikhayla hanyalah pingsan saja.
"Mik bangun!" Fergi menepuk-nepuk pipi Mikhayla. Perempuan itu masih tidak bergeming.
"Ini Pak air hangat dan lap nya." Tutik memberikan baskom berisi air hangat dan kain lap.
"Bisa minta tolong untuk mengompres dada Mika?"
"Iya Pak." Tutik duduk dan berusaha membuka kancing baju Mikhayla. Fergi yang merasa tidak pantas berada di tempat itu karena tidak ingin melihat aurat Mikhayla bangkit berdiri dan keluar dari ruangan tersebut.
Fergi berjalan ke arah dapur dan membuat air gula di sana sambil menunggu pekerjaan Tutik selesai sedangkan sang ibu membuntuti putranya kemanapun berjalan.
__ADS_1
"Kau benar-benar ya? Kemarin saat Lucia sakit minta ditemani saja tidak mau sekarang orang lain yang bukan siapa-siapa malah kau urus," protes sang ibu.
"Dia sebenarnya tidak butuh saya karena banyak keluarga yang merawatnya. Lagipula dia terlalu manja, bikin repot saja." Fergi berbicara sambil mengaduk air yang sudah bercampur gula dalam sebuah gelas bening.
"Tapi dia calon istrimu. Apa salahnya kamu menemani dia?"
"Sudahlah Mom, bukankah saya tidak pernah mau dijodohkan dengannya? Mommy aja yang main tunang-tunangin segala. Sudah tahu Fergi nggak hadir masih saja menganggap dia tunangan aku."
"Oh jadi kamu lebih memilih janda itu dibandingkan Lucia?"
"Mikhayla lebih dewasa Mom, aku suka wanita dewasa bukan gadis kekanak-kanakan semacam Lucia."
"Kau ...! Ya jelaslah dia lebih dewasa, orang dia sudah punya anak."
"Tidak masalah, Fergi juga menyukai putrinya. Fergi tidak keberatan menjadi ayah sambung untuk Cantika."
"Kau ...!"
"Sudahlah Mom, pulanglah! Jangan ganggu Fergi di sini!" Fergi kembali berjalan ke arah kamar Mikhayla.
"Fer dengarkan mommy dulu!" teriak sang ibu. Namun, Fergi tidak ingin berdebat lagi. Dia cepat-cepat berjalan ke arah kamar Mikhayla.
Bersambung.
__ADS_1