
Tiga hari setelah pertemuan dengan Mikhayla di rumah sakit keadaan Bima sudah membaik. Bima sudah bisa diperbolehkan pulang.
Tiga hari beristirahat di rumah pasca pulang dari rumah sakit membuat Bima bosan dan ingin segera menemuinya Mikhayla.
Hari ini Bima izin kepada kedua orang tuanya untuk kontrol ke rumah sakit. Keduanya ingin mengantar Bima, tetapi malah dicegah oleh pria itu.
"Kalau mama dan papa ikut ke rumah sakit, Bima nggak jadi kontrol," ancam Bima.
"Bim kami ini menyayangimu dan khawatir, takut terjadi sesuatu padamu di jalan sebab kondisimu masih belum pulih benar. Kenapa kamu malah melarang kami untuk ikut?" protes Fera.
"Saya sudah sehat Ma dan Bima bukan anak kecil lagi yang kemanapun harus dikawal. Kalau begitu kenapa tidak mama sewa saja bodyguard agar semua orang menertawakan Bima sebagai pria lemah dan manja? Mungkin saja mama ingin Bima dianggap anak mama oleh orang-orang."
"Bukan begitu maksud mamamu Bim, dia hanya khawatir saja," sanggah Tian.
"Sudahlah Ma, Pa, saya sudah dewasa lagipula ada pak sopir yang mengantarku. Kalau ada apa-apa beliau pasti akan segera menghubungi mama dan papa."
"Baiklah terserah kamu saja," jawab keduanya pasrah.
"Kalau begitu Bima pamit." Bima langsung menyalami tangan keduanya dan berjalan menuju garasi rumahnya.
"Pak antar saya ke rumah sakit!" perintahnya pada pak sopir yang sedang mengelap kaca mobil yang berdebu.
"Siap Den." Pak sopir menghentikan pekerjaan lalu masuk ke dalam mobil begitupun dengan Bima.
"Sudah siap Den?"
"Jalan Pak!"
Pak sopir mengangguk dan langsung mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Saat berpapasan dengan Tian dan Fera sopir itu menunduk memberi hormat.
"Hati-hati Pak dan pelan-pelan bawa mobilnya sebab Bima masih belum pulih benar!"
"Siap Tuan."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalanan. baik Bima maupun pak sopir tidak ada yang berbicara. Mereka berdua fokus dengan pikiran mereka masing-masing.
Saat sopir hendak membelokkan setir Bima mencegah.
"Tidak usah belok kiri pak jalan lurus saja!"
"Loh bukannya jalan ke rumah sakit yang belok kiri ya Den?" tanya Pak sopir tidak mengerti.
"Kita tidak akan ke rumah sakit Pak, tapi ke toko bunga."
"Toko bunga? Buat apa Den? Den Bima mau membelikan bunga untuk siapa?" tanya pak sopir kepo.
"Tidak Pak saya tidak mau beli bunga cuma mau ketemu sama pemiliknya saja."
Pak sopir mengernyitkan dahi. "Siapa Den?"
"Nanti Pak sopir tahu sendiri. Pak sopir cukup ikuti saja instruksi saya."
"Baik Den."
Pak sopir pun menyetir dengan tenang. Saat Bima menyuruh belok kanan ataupun jalan lurus Pak sopir langsung mengikuti perintah Bima tanpa bertanya lagi.
"Masuk ke sana Pak!" perintah Bima lagi pada pak. Pak sopir pun langsung menyetir mobilnya masuk ke dalam pekarangan toko.
"Nona Mikhayla?" kaget Pak sopir melihat Mikhayla ada di dalam toko tersebut berbincang-bincang dengan para karyawannya sambil memegang sebuah bunga dalam pot.
"Iya Pak saya memang mau bertemu dengan Mikhayla, tapi saya mohon sama bapak jangan pernah ceritakan ini semua kepada papa maupun mama sebab saya tidak mau mereka berdua menegur Mikhayla dan menyakiti hatinya lagi."
"Baik Den siap. Saya bisa jaga rahasia."
"Terima kasih Pak." Bima turun dari mobil dan berjalan menuju bangunan toko.
"Mik!" panggilnya saat dirinya berada di teras toko.
Mikhayla yang sedang melilitkan kawat pada ranting bonsainya menoleh ke arah Bima.
"Kak Bima?"
__ADS_1
Bima mengangguk sambil tersenyum lalu melangkah ke arah Mikhayla berdiri saat ini.
"Sedang apa?"
"Membentuk bonsai agar terlihat lebih menarik. Mana Kak Mailena?"
Mikhayla mengedarkan pandangan mencari keberadaan Mailena di belakang Bima.
"Kenapa tidak ikut?" tanyanya lagi.
Bima hanya diam.
"Atau ada di dalam mobil?" Mikhayla yang tidak mendengar jawaban dari Bima segera beranjak menuju mobil yang ditumpangi oleh Bima sebelumnya.
"Katakan dulu di mana Ryenold, baru saya akan mengatakan di mana kakakmu itu berada!"
Mikhayla menghentikan langkahnya. Namun, karena jarak dirinya berdiri sekarang dengan mobil lebih dekat, Mikhayla melanjutkan langkahnya dan langsung memeriksa di dalamnya.
"Tidak ada." Wanita itu tampak menggeleng.
"Bapak tidak bersama Kak Mailena?" tanya Mikhayla pada pak sopir dan pak sopir tertegun malah tidak menjawab.
Akhirnya Mikhayla melangkah lagi ke arah Bima.
"Oh ya nanti saja saya antar ke tempat Kak Reynold, tapi sekarang saya harus menjemput putriku dulu. Jam segini biasanya dia sudah pulang dari sekolah TK."
"Biar saya yang menjemputnya Bu. Kalau ibu ada urusan ibu bisa langsung pergi," saran Agnes.
"Kamu tidak capek? Kamu sudah bekerja keras dari pagi," ujar Mikhayla.
"Tidak apa-apa Bu kan, Agnes sudah bilang selama sehat dan sempat Agnes bisa dimintai tolong."
"Baiklah, bulan depan gajimu aku tambah."
"Ayo kak saya antar ke tempat Kak Reynold." Mikhayla langsung beranjak ke garasi dan mengeluarkan motor matic andalannya.
"Ikut dalam mobil saja Mik," usul Bima.
"Tidak usah Kak saya berkendara sendiri saja," tolak Mikhayla yang langsung mengendarai motornya keluar dari pekarangan toko.
"Baik Den."
****
Di tempat lain Cantika sedang menunggu Mikhayla di depan pintu pagar sekolah.
"Belum dijemput?" tanya seorang guru sambil berjalan ke arah Cantika.
"Belum Bu guru."
"Tumben mami kamu telat, biasanya paling awal tuh."
"Cantika tidak tahu."
"Ya sudah nggak apa-apa. Cantika sama ibu guru dulu sampai mami jemput. Mungkin mami Mika sedang sibuk sekarang." Cantika hanya mengangguk.
Mikhayla duduk dengan cemberut sebab sudah lima belas menit maminya belum datang juga.
"5 menit lagi kalau mami kamu nggak datang juga biar ibu yang antar kamu."
Cantika mengangguk sedangkan matanya masih mengedarkan pandangan ke jalan raya.
Saat senyum terbit di bibir Cantika , ibu guru tahu bahwa gadis itu sudah melihat orang orang yang menjemputnya.
"Mami kamu sudah datang?"
Gadis itu menggeleng.
"Lalu–?"
"Om Fergi!" Cantika berlari dengan senyuman manis ke arah Fergi.
__ADS_1
"Hai apa kabar?" Fergi melambaikan tangan.
"Baik Om." Setelah sampai di depan Fergi, pria itu langsung menggendong tubuh Cantika.
"Kangen Om."
"Aku juga."
"Cantika dia siapa?" tanya Bu guru untuk memastikan Fergi dan Cantika mengenal dengan baik.
"Om ku Bu, namanya Om Fergi."
"Kalau begitu saya titipkan Cantika kepadamu," ujar bu guru.
"Ibu guru bisa percayakan Cantika padaku. Saya tidak akan menculiknya kok."
"Bak Pak, kalau begitu saya pamit ke dalam." Guru Cantika pun melangkah meninggalkan keduanya.
"Ayo Om kita pulang."
"Jalan-jalan dulu bagaimana?"
Cantika menggeleng.
"Loh kenapa?"
"Takut dicariin sama mami."
"Ya sudah kalau begitu saya akan telepon mami kamu." Fergi pun langsung menelpon Mikhayla.
"Bagaimana Om?"
"Nggak diangkat, biar Om telepon Tante Agnes saja."
Cantika mengangguk.
"Yuk kita pergi sekarang."
Mereka pun langsung berjalan-jalan memutari jalanan.
"Om itu kan mami?"
Fergi langsung menepikan mobilnya di pinggir sebuah pemakaman umum.
"Ngapain mami kamu ke sini? Apa kuburan papi kamu ada di sini?"
"Kayaknya nggak sih Om lain tempat, tapi Cantika lupa itu dimana," ucap anak itu polos.
"Kalau begitu mari kita lihat mami kamu mau apa di sini!"
"Iya Om."
Keduanya pun memata-matai Mikhayla.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Bima tidak mengerti kenapa Mikhayla membawa dirinya ke kuburan.
"Katanya kak Bima mau ketemu Kak Reynold, itu dia kuburannya."
"Apa? Reynold sudah meninggal?"
"Iya itulah kenyataannya."
Bima terduduk lemas di depan makam Reynolds. Memandangi nama sahabatnya yang terukir pada batu nisan. Pria itu terbayang-bayang saat dirinya bermain-main dengan Reynold semasa kecil. Bahkan saat dewasa pun mereka masih saja bersahabat.
"Sekarang katakan Kak Mai dimana?" desak Mikhayla.
"Sama halnya dengan Reynold kakakmu juga sudah tiada," jawab Bima dengan posisi tubuh menunduk dan tidak berani menatap Mikhayla.
"Apa yang Kak Bima katakan?"
"Ya itulah kenyataannya. Dia meninggal setelah membaca buku harianmu."
__ADS_1
"Apa?!"
Bersambung.