
"Dokter tolong tangani secepatnya anak ini!" seru Bima setelah melihat dokter berdiri di hadapannya.
"Tenanglah!" Setelah mengatakan hal itu dokter langsung masuk ke dalam ruangan mengikuti para suster yang mendorong brankar dimana Cantika terbaring di atasnya.
"Ini bagaimana?" Reynold panik sendirian melihat Mikhayla tubuhnya lemas kemudian pingsan.
"Bawa ke ruangan sana!" tunjuk suster dan Reynold langsung membawa ke ruangan yang ditunjuk oleh suster.
Bima bertambah panik, dia bingung melihat Cantika dan Mikhayla sama-sama masuk rumah sakit.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Sudahlah kau tunggu Cantika di sini, biar saya dan Reynold yang melihat Mika," saran Fergi lalu menepuk pundak Bima kemudian berlari menyusul Reynold.
"Ya Tuhan selamatkan keduanya. Biarkan diriku menebus segala kesalahanku selama ini. Berikan diriku kesempatan untuk hidup dengan mereka. Membentuk keluarga kecil yang bahagia." Bima mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Air mata menetes di kedua sudut matanya. Dia terduduk lemas di sebuah kursi yang ada di depan ruang IGD.
"Bagaimana Dokter?" tanya Fergi saat melihat dokter sudah selesai memeriksa Mikhayla.
"Pasien tidak apa-apa, hanya kaget kemudian dehidrasi. Kami sudah memberikan infus. Insyaallah setelah habis satu kantong infus pasien akan sadar kembali."
"Hah, syukurlah."
Fergi dan Reynold bernafas lega. Beberapa saat kemudian ponsel Reynold berbunyi.
"Kau jagalah Mika, saya akan keluar untuk menerima telepon sekaligus mau melihat keadaan Cantika."
"Pergilah!" Fergi duduk di samping Mikhayla.
"Kau harus kuat Mik, Cantika masih membutuhkanmu." Fergi menghembuskan nafas berat.
Sementara Reynold keluar dan mengangkat telepon yang ternyata dari Viona istrinya.
"Kau dan Marvel pulanglah duluan, saya akan menemani Bima. Cantika dan Mikhayla sama-sama masuk rumah sakit," terang Reynold.
__ADS_1
"Hah, bagaimana itu bisa terjadi?" Viona di seberang sana terlihat kaget.
"Ceritanya panjang, nanti saja saya ceritakan di rumah. Sekarang cukup doakan agar keduanya baik-baik saja."
"Pasti Mas. Mungkin nanti malam saya akan menjenguk ke rumah sakit. Sekarang saya bawa Marvel pulang dulu."
"Pulanglah dan hati-hati." Reynold menutup telepon lalu berjalan ke arah Bima.
"Bagaimana keadaan Cantika?"
"Tidak tahu Rey, dokternya belum keluar. Bagaimana dengan Mika? Dia tidak apa-apa, kan?"
"Kamu tenanglah sebentar lagi dia juga akan sadar. Mika hanya syok dan dehidrasi saja."
Bima mengangguk lalu menghela nafas panjang. Dia sedikit lega meskipun kabar Cantika di dalam sana belum ada kepastian. Paling tidak satu beban pikiran terhempas.
"Semoga Reynolds bukan hanya ingin menghiburku saja," batin Bima. Namun, kali ini dia enggan banyak bicara. Dia sangat cemas dengan nasib putrinya.
Beberapa saat terdiam akhirnya dokter membuka pintu ruangan. Buru-buru Bima dan Reynold menghampiri dokter dan bertanya, "Bagaimana keadaan putri saya Dokter?"
Hati Bima bertambah cemas, jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Rasa takut menyergap.
"Putri saya tidak apa-apa kan, Dok?"
"Putri anda mengalami pendarahan otak dan apabila sadar nanti kemungkinan akan mengalami amnesia."
"Apa?!" Tentu saja Bima syok.
"Putri anda mengalami koma," lanjut dokter."
Sontak perkataan dokter meluluh lantakkan dunianya. Semoga harapan Bima untuk membahagiakan putrinya masih bisa diwujudkan.
"Dokter tidak salah diagnosis, kan?"
__ADS_1
Dokter itu menggeleng lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
Bima terduduk lemas di lantai. Keadaannya tidak lebih baik dari Mikhayla tadi. Namun, sebagai pria dia berusaha keras untuk kuat.
Bima merasa benar-benar hancur sekarang. Mikhayla pasti bertambah syok jika mengetahui keadaan putrinya dan bisa kembali membencinya seperti dulu.
"Apa yang harus aku lakukan Rey? Apa aku sudah terlambat mengetahui kebenarannya? Bagaimana kalau Cantika meninggalkanku untuk selamanya?"
"Hus ngomong apa sih Bim? Doa yang baik-baik untuk Cantika. Kamu dengar sendiri kan tadi apa kata dokter? Cantika pasti sembuh, hanya saja dia akan mengalami amnesia," lirih Reynold pada kalimat terakhirnya.
"Seberapa persen seseorang yang koma bisa disembuhkan? Seberapa kuat tubuh mungil itu akan bertahan? Argh, rasanya aku tidak mampu untuk membayangkannya." Bima terlihat putus asa.
"Kalau kamu pakai logika terus sampai kapan kau tidak akan bisa tenang Bim. Ingat Bim, kehendak Tuhan itu tidak memakai logika tapi jika Dia sudah berkata, 'kunfayakun' maka jangankan kemungkinan kecil, ketidakmungkinan pun akan terjadi jika Dia, Yang Maha Kuasa menghendakinya. Dokter akan berusaha sebaik mungkin, kita hanya perlu biaya dan berdoa."
"Kau benar Rey."
Reynold mengangguk.
"Sudah bangun, malu dilihat orang kalau posisimu seperti itu." Reynold menarik tangan Bima dan membantunya duduk kembali di atas kursi.
"Coba baca istighfar agar hatimu lebih tenang!"
Benar saja setelah melakukan saran Reynold, perasaan Bima jauh lebih tenang.
"Kalau begitu saya nitip Cantika dulu ya Rey. Saya mau ke mushalla dulu."
"Pergilah minta yang kamu inginkan pada Tuhan, biar saya yang menjaga Cantika di sini."
Bima mengangguk lalu bangkit dari kursi dan melangkah pergi.
"Semoga Tuhan mengabulkan doamu Bim," gumam Reynold sambil menatap punggung Bima yang berjalan menjauh.
"Ya Tuhan berikan dia kesempatan untuk menebus kesalahan di masa lalunya. Kau Maha pengampun dan Maha penyayang."
__ADS_1
Bersambung.