Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 42. Reynold Tak Berkutik


__ADS_3

Bima mengangguk.


"Pergilah kalian sekarang, bukankah kau ingin mengajak Cantika jalan-jalan?"


"Iya Mik, kalau begitu kita pergi sekarang Cantika," ucap Bima pada Cantika yang sudah siap di sampingnya.


"Oke Om, Cantika sudah siap."


"Wah pinter sekali nih anak masih kecil sudah bisa ganti baju sendiri," ucap Bima sambil mencubit pipi Cantika dan anak itu hanya tersenyum manis. Kekecewaan Cantika pada Fergi hilang sudah kala Bima menjadi penawarnya.


"Sini mami rapikan bando nya dulu!"


Cantika mendekat ke arah Mikhayla dan Mikhayla membenahi rambut putrinya.


"Sudah. Hati-hati di jalan ya," ucap Mikhayla dan anak itu mengangguk lalu mengandeng tangan Bima.


"Dada mami!" Cantika melambaikan tangannya ke arah Mikhayla dan Mikhayla pun membalas lambaian tangan itu.


"Kami pergi Mik," pamit Bima lalu membawa Cantika keluar.


"Hati-hati."


Mikhayla menatap punggung Bima dan putrinya. Sepertinya keduanya terlihat sangat akrab meskipun jarang bertemu.


"Kemana dulu nih?" tanya Bima kepada Cantika saat mereka sudah duduk di mobil.


"Terserah Om Bima."


"Hmm, bagaimana kalau kita ke pusat permainan?" Bima tahu setiap anak kecil pasti menyukai permainan.


"Boleh."


"Oke, kita meluncur sekarang." Bima langsung menyetir mobilnya ke tempat yang ada permainannya.


Hampir seharian mereka berjalan-jalan dan selama itu senyum selalu menghias di bibir mungil itu.


"Sudah jam 3 sore kita makan dulu ya sebelum pulang."


"Tapi Cantika tidak mau pulang," rengek gadis kecil itu.


"Jangan begitu, kalau hari ini kita telat pulang besok-besok mami Mikhayla tidak akan mengizinkan Om Bima mengajak Cantika jalan-jalan lagi," jelas Bima.


"Oh begitu ya Om?"


"Iya jadi kita harus menurut perintah mami biar bisa pergi lagi."


"Oh baiklah." Cantika turun dari trampolin menuju mobil diikuti Bima di belakangnya.


Kali ini Bima membawa Cantika ke salah satu restoran mewah di kota itu.


"Ini kan restorannya Om Fergi." Cantika cemberut.

__ADS_1


"Kenapa kalau restoran ini milik Om Fergi?" tanya Bima sambil menatap kedua bola mata Cantika yang menampakkan rambut kecewa.


"Malas Om, dia itu pembohong."


"Kan orangnya yang pembohong makanannya nggak, kan? Kalau enak ya tetap enak. Lagipula kita datang ke sini sebagai pengunjung yang akan membayar setiap yang kita makan nggak gratis. Ingat pembeli itu adalah raja. Jadi apa ya kita minta pasti akan diberikan oleh pihak restoran selama stoknya masih ada. Jadi Cantika boleh pesan apa saja yang kamu sukai."


"Oke Om."


Bima pun memanggil pelayan dan meminta buku menu.


"Cantika pesan makanan apa?" tanya Bima sambil membaca rincian menu yang tersedia.


"Terserah om Bima sajalah. Cantika nyebutin nama-nama menunya aja susah. Yang penting pesenin makanan yang enak-enak."


Bima hanya tersenyum lalu menyamakan pesanan mereka.


Tidak menunggu lama pesanan pun datang dan ditata di atas meja.


"Silahkan dinikmati Mas, adik," ujar pelayan lalu pergi menuju meja lain.


Bima mengangguk lalu mengambilkan ke piring Cantika. "Ayo makan, kalau mau nambah menu yang lain sungkan-sungkan memberitahu pada Om Bima.


Cantika mengangguk, mengambil sendok lalu melahap makanannya begitupun dengan Bima.


"Apa perlu Om suapi?" tanya Bima sambil memotong stik daging lalu menaruhnya di piring Cantika.


Anak itu menggeleng dengan mulut yang sudah belepotan saos. Bima menggeleng, tersenyum lucu kemudian meraih tisu dan mengelap bibir dan pipi Cantika.


Baru saja makanan di piring Bima habis dan hendak minum, pria itu melihat Reynold bersama keluarganya berjalan mendekat dan duduk di meja yang tidak jauh dari Bima dan Cantika duduk.


"Om Bima ke sana dulu ya!" pamit Bima dan Cantika yang masih fokus dengan makanan tidak melihat ke arah sekitar. Dia masih saja mengangguk dengan posisi yang menunduk.


"Halo apa kabar Rey," sapa Bima sambil mendekat ke arah Reynold.


"Bima?" Tentu saja Reynold kaget melihat keberadaan Bima secara mendadak.


"Siapa dia Mas?" tanya perempuan yang duduk di hadapan Reynold.


"Perkenalkan namaku Bima, teman Reynold sedari kecil hanya kuliah kami beda kampus," ujar Bima pada perempuan tadi sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Viona, istri Reynold." Wanita itu pun memperkenalkan diri.


"Wouw istrinya? Berarti yang ini putra Reynold dong," tebak Bima sambil menuju anak kecil yang duduk di samping Reynold.


"Tentu saja," ujar wanita itu sambil tersenyum ramah.


"Kita cari restoran lain yuk," ajak Reynold pada istrinya.


"Loh kenapa Mas? Saya suka kok restoran ini."


"Menunya tidak ada yang cocok," kilah Reynold padahal dia malas berbicara dengan Bima.

__ADS_1


"Apa kau melakukan kesalahan padaku Rey sehingga selalu ingin menghindar dariku?"


"Maksudmu apa sih Bim?"


"Tuh putrimu, apa kau tidak ingin menyapanya?" Bima menunjukan ke arah Cantika yang sedang fokus makan.


"Putri?" tanya Viona kaget.


"Berapa umur putramu?" tanya Bima pada Viona.


"6 tahun, ada apa ya?"


"Wah berarti saat hamil putramu Reynold selingkuh dong sama Mika? Atau jangan-jangan dia kawin diam-diam lagi."


"Bim!" Reynold menggebrak meja, dia begitu kesal pada Bima.


"Loh kenapa kamu marah Rey? Saya hanya ingin mengingatkan saja padamu kalau punya putri jangan dilupakan."


"Aku bukan dirimu Bim yang pandai bikin anak tapi tidak mau bertanggung jawab!" geram Reynold.


"Terus apa bedanya denganmu yang menghilang dari anak dan istrimu dan membuat berita kematian palsu."


"Ini ada apa sebenarnya? Mas kamu mengkhianati ku ya? Benar dia anakmu?" tanya Viona dengan raut wajah sedih bercampur amarah.


"Aku bisa jelaskan di rumah nanti Sayang."


"Kenapa harus di rumah? Jelaskan di sini saja! Viona apa kau bisa menjamin kalau dia menjelaskan di rumahnya akan berkata jujur?"


"Bim kau–"


"Apa susahnya sih Rey menjelaskan dan aku juga ingin tahu sebenarnya siapa yang kamu cintai Viona ini ataukah Mikhayla?"


"Siapa Mikhayla Mas? Jelaskan!"


"Dia hanya teman sayang ya hanya teman."


"Teman dan bisa punya anak?"


Reynold menggaruk kepala. Dia bingung harus berbicara apa saat ini. Reynold serba salah, kalau dia berbohong maka akan hancur pernikahannya, tapi kalau dia berkata jujur rahasia yang selama ini ditutup rapat olehnya dan juga Mikhayla harus dibuka di hadapan Bima.


"Jelaskan atau saya akan membawa akta kelahiran Cantika ke hadapan istrimu ini?"


"Iya, iya Bim saya ngaku." Tidak ada cara lain selain berkata jujur, lagipula kasihan juga Cantika hingga sebesar ini belum mengetahui siapa ayah yang sebenarnya.


"Cantika itu memang putrimu."


Sontak saja Bima terbelalak.


"Katakan sekali lagi Rey!"


"Ya Cantika itu putrimu, tetapi karena kau tidak mengakuinya maka aku masukkan namaku saja dalam akta itu. Seharusnya melihat wajahnya saja kau sudah tahu bahwa dia adalah putrimu. Dasar pria bodoh!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2