
Hari sudah siang ketika Mikhayla sampai di rumah sakit. Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan senyum yang mengembang.
Hari ini Mikhayla senang sekali karena putrinya sudah benar-benar pulih. Kalau kondisinya tidak drop lagi kata dokter besok pagi sudah bisa dibawa pulang.
"Assalamualaikum," sapa Mikhayla sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Cantika.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," jawab ketiganya serentak.
"Mami sudah selesai bikin nasi gorengnya?" tanya Cantika antusias.
"Sudah sayang maaf kalau lama, mami tadi masih melayani pelanggan." Mikhayla terus melangkah ke arah Cantika. Fera yang masih berada di samping Cantika bangkit dari duduknya dan mencari tempat duduk lain agar Mikhayla bisa duduk di dekat Cantika.
"Ini dia nasi gorengnya," ujar Mikhayla sambil mengeluarkan lunch box yang terbuat dari stainles agar nasi goreng tidak cepat dingin. Mikhayla lalu menaruh kotak makan itu di ranjang depan Cantika.
"Kalau ini untuk Kak Bima." Kali ini Mikhayla menyerahkan lunch box berikutnya pada Bima.
"Terima kasih Mik."
"Ini untuk Tante dan yang ini untuk ...." Mikhayla mencari-cari keberadaan Tian, tetapi tidak menemukannya.
"Cari siapa?" tanya Fera.
"Mika kasih ke Tante saja yang untuk Om Tian. Kalau Tante dan Om Tian tidak berkenan dengan masakan Mika, bisa Tante kasihkan ke yang lain saja."
"Tidak Mik, Tante suka kok."
"Silahkan kalau begitu."
Fera mengangguk dan membuka lunch box yang terbuat dari bahan sama dengan milik Cantika begitupun dengan Fergi.
"Kita makan Fer!"
"Mama yakin mau makan nasi goreng ini? Ada terasinya loh Ma," ujar Bima mengingatkan sebab Fera sama sekali tidak menyukai bau terasi.
"Tidak masalah, akhir-akhir ini Mama memang suka dengan sambal yang dicampur terasi," sahut Fera dengan ekspresi yang begitu tenang.
"Oh ya? Sudah kalau begitu kita makan saja. Kamu sendiri tidak makan Mik?"
"Nanti Kak setelah selesai menyuapi Cantika."
"Kalau begitu Cantika makan sendiri saja." Cantika meraih kotak makan yang sudah ada di tangan Mikhayla.
"Sudah sayang biar mami suapi saja."
__ADS_1
"Tidak Mi, Cantika mau makan sendiri saja agar kita semua bisa makan bareng-bareng." Cantika meraih kotak makan bagian Mikhayla dan menyodorkannya.
"Mami makan juga!"
Mikhayla menggeleng.
"Cantika ingin melihat kita sekeluarga makan bersama."
Mikhayla melirik Fera dan wanita itu hanya tersenyum saja.
Mikhayla mengangguk canggung dan akhirnya ikut makan bersama, tetapi sekali-kali masih membantu menyuapi putrinya.
"Mama menyetujui kalau kalian mau menikah dan mama sarankan agar kalian cepat-cepat menghalalkan hubungan kalian," ujar Fera di sela-sela makannya.
Sontak saja Mikhayla menghentikan suapannya. Kalau Bima yang mengajaknya menikah Mikhayla tidak akan heran, tetapi ini adalah orang yang sangat membenci dirinya. Entah apa yang dilakukan oleh Mikhayla sehingga Fera dan Tian benar-benar berubah disaat tahu dirinya menyukai Bima waktu itu padahal sejak Mikhayla kecil Tian malah terlihat sayang padanya seperti sayangnya pada Bima.
Walaupun kaget, tetapi tidak ada sedikitpun terbersit di hati Mikhayla untuk menjawab perkataan Fera ataupun bertanya pada wanita itu tentang hal-hal yang membuat Fera berubah secepat kilat. Mikhayla langsung melanjutkan makannya.
Bima pun hanya melirik sang mama.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa mama jadi seperti ini?" Sepertinya Fera bisa menerka reaksi mereka berdua hanya dari raut wajah Bima dan Mikhayla.
"Melihat Cantika terbaring lemah mama menjadi tidak tega. Mama ingin dia bahagia dan mama tahu kebahagiaan Cantika adalah memiliki keluarga yang utuh. Bagaimanapun, diakui atau tidak Cantika adalah cucu mama."
Bima mengangguk sedangkan Mikhayla masih tampak diam, tidak bersuara.
"Siapa yang akan menikah?" Terdengar suara bariton dari pintu. Sontak ke empat orang yang berada di dalam ruangan itu langsung mendongak dan mencari arah datangnya suara.
"Papa?" Bima dan Fera berkata serentak.
"Om Tian?" Mikhayla memandang Tian dengan perasaan tidak nyaman.
"Bima dengan Mika Pa. Oh iya calon mantu kita membawakan nasi goreng kesukaan papa." Fera menaruh lunck box miliknya dan mengambil bagian untuk Tian lalu beranjak mendekati lelaki itu.
"Papa makan dulu sebelum mengantar mama pulang," ujar Fera sambil menyodorkan kotak makan ke arah sang suami.
Tian mengambil kotak makan di tangan Fera lalu membanting ke lantai sehingga menimbulkan suara yang begitu keras.
"Pa! Papa bisa mengganggu penghuni rumah sakit kalau begini. Kalau papa tidak merestui kami tidak masalah, Bima bisa menikah tanpa restu papa. Tapi tolong jangan jadi orang jahat dengan membuat anak kecil ketakutan seperti ini," ujar Bima sambil menunjuk Cantika yang terlihat syok lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Tubuh Cantika terlihat bergetar dan Mikhayla segera memeluk anak itu untuk menenangkan.
"Kau ... kalau sudah dewasa berani membangkang ya! Tidak ada terima kasihnya sama sekali sejak kecil ku rawat dengan baik. Demi sampah seperti wanita itu kau berani menentang papa. Apa istimewanya perempuan itu hah?!" Suara Tian terdengar meninggi.
"Sudah kewajiban orang tua membesarkan anaknya sendiri dan Bima tidak perduli meskipun papa menganggap Mikhayla sebagai sampah karena bagiku Mikhayla perempuan yang istimewa dan yang terpenting Bima sangat mencintainya."
__ADS_1
"Dan, aku tidak akan pernah membiarkan pernikahanmu berjalan lancar. Aku bersumpah akan memisahkan kalian berdua. Aku tidak sudi punya menantu murahan seperti dia!" bentak Tian.
Mendengar Tian menyebutnya murahan, Mikhayla meneteskan air mata.
"Saya tidak perduli sekotor apapun pandangan papa padanya. Karena yang membuat dia kelihatan murahan di mata manusia adalah Bima, dan papa tahu? Sifat Bima adalah didikan dari papa sendiri."
"Kau ...!" Tian hendak melayangkan tamparan pada Bima, tetapi Fera cepat-cepat mencegah.
"Hentikan!" teriak Fera hingga suaranya yang melengking memenuhi ruangan.
Mikhayla semakin erat memeluk tubuh Cantika dan memutar posisi putrinya agar tidak menghadap Bima dan Tian. Mikhayla juga berusaha menutup telinga putrinya agar tidak mendengar dan melihat konflik yang terjadi di sana.
Mikhayla hanya berharap pihak rumah sakit ada yang mendengar suara mereka agar membawanya keluar ruangan.
"Papa akan menyesal kalau terus begini!" bentak Fera.
"Untuk apa papa menyesal?" Tian masih bersikap angkuh.
"Karena papa menyakiti anak sendiri," sahut Fera.
"Hmm." Tian hanya tersenyum sinis.
"Apa yang akan papa lakukan jika putri papa berada dalam keadaan seperti Mikhayla?" tanya Fera kemudian.
"Kalau papa punya putri pasti akan papa jaga baik-baik. Tidak akan papa biarkan putriku itu menyerahkan kegadisan pada laki-laki yang bukan suaminya seperti dia!"
"Dan papa menganggap diri papa suci?" Fera menatap mata Tian dengan sorot kebencian.
"Maksud mama apa?" Tiba-tiba Tian mencurigai sesuatu dari pertanyaan Fera.
"Bagaimana kalau Mikhayla sendiri adalah putri Papa?"
"Mana mungkin Ma?"
"Mana mungkin? Nyatanya dia adalah putri papa dengan wanita itu. Dengan wanita yang telah papa jadikan murahan. Dengan wanita yang tampa sepengetahuanku papa renggut kesuciannya!" teriak Fera dengan kesal. Mereka semua seolah lupa bahwa tempat mereka berpijak kali ini adalah sebuah rumah sakit.
"Apa?!"
Tentu saja Bima dan Mikhayla syok mendengar pernyataan dari Fera.
"Tidak mungkin Ma, itu tidak mungkin, bagaimana mungkin Bima dan Mikhayla ... Argh!" Bima memukul sandaran kursi yang di dudukinya dengan keras sambil mengucurkan air mata.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin!" teriak Bima sedangkan Mikhayla hanya duduk mematung. Tubuhnya seolah tidak ada tenaga sama sekali saat ini.
__ADS_1
"Oh Tuhan ampuni kami," ucap Mikhayla dalam hati.
Bersambung.