Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 53. Harapan


__ADS_3

"Ma! Tunggu Ma!" panggil Bima sambil berlari menyusul Fera.


"Ada apa Bim?"


"Bagaimana dengan Cantika Ma?" tanya Bima dengan tatapan sedihnya.


"Bukankah kata dokter dia sudah bisa diperbolehkan pulang?" tanya Fera heran.


"Maksudku hubungan antara Bima dan Mikhayla Ma, bagaimana dengan nasib Cantika?" tanya Bima sambil menunduk.


"Kau nikahilah Mikhayla, saya yakin papa pasti merestui hubungan kalian berdua. Mikhayla adalah putrinya dan tidak ada alasan bagi papamu untuk menolak Mikhayla yang sebenarnya adalah putrinya sendiri. Jika Mikhayla selama ini melakukan kesalahan yang melampaui batas itu juga salahnya. Kau tenang saja mama pasti akan membantu proses persiapan pernikahan kalian kalau diperlukan. Kau bisa menghubungi mama lewat telepon atau langsung datang ke rumah nenek." Fera menepuk bahu Bima dan hendak Pergi.


"Ma! Kau tidak boleh kemana-mana! Kau harus tinggal di rumah kita," ujar Tian menahan Fera.


"Papa renungkan lah! Tanyakan pada hati papa sendiri apa yang papa inginkan. Jangan memaksa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati papa karena kehidupan tidak akan datang dua kali. Maafkan Mama atas semua kesalahan mama. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku Pa."


"Ma, maksudku apakah Bima bisa menikah dengan Mikhayla?" tanya Bima lagi.


"Siapa lagi yang bisa menahan kalian untuk menikah? Kalau cinta kalian kuat jangan sampai goyah oleh gelombang kehidupan yang bisa menenggelamkan keinginan baik kalian."


"Tapi Ma, status kami bersaudara, bukankah haram jika kami menikah?"


Fera mengernyitkan dahi lalu beberapa kemudian tersadar bahwa akibat ceritanya tadi Mikhayla dan Bima malah menyimpulkan mereka saudara seayah.


"Itu mengapa kalian tadi tidak bersemangat mendengarkan cerita mama?" Dalam pikiran Fera seharusnya Mikhayla bahagia saat mengetahui dirinya masih punya ayah bahkan ayahnya sudah ada di depannya saat ini.


Namun, kenyataannya Mikhayla malah terlihat tidak senang dan Bima sendiri malah tidak tenang.


"Iya Ma harapan kami pupus sudah," ucap Bima dengan mata yang berkaca-kaca.


"Menikahlah karena kalian bukanlah bersaudara." Sekali lagi Fera menepuk bahu Bima.


"Maksud Mama, Bima adalah anak mama dan Mikhayla anak papa?" Bima masih belum bisa mengerti. Dia hanya bisa menerka-nerka.

__ADS_1


"Itu mengapa Mama seolah ingin berpisah dengan papa agar kami bisa bersatu? Mama ingin mengalah?" Bima pikir dirinya dan Mikhayla pasti saudara tiri dan mereka hanya bisa menikah jika kedua orang tua mereka berpisah terlebih dahulu.


"Apa mama tadi pernah bercerita bahwa mama pernah menikah sebelum menikah dengan papamu?"


Bima menggeleng.


"Itu artinya kalian pun bukan saudara tiri."


Bima bertambah bingung. Saat ini dirinya tidak bisa berpikir jernih akibat terlalu panik saat mengetahui kenyataan tentang Mikhayla.


"Apa Kak Bima bukanlah anak Tante Fera dan Om Tian?" Mikhayla mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Dia mungkin jahat sebab berharap apa yang ditanyakannya adalah suatu kebenaran. Dia tidak memikirkan perasaan Bima seperti apa jika seandainya hal itu benar.


Bima hanya menatap wajah Mikhayla dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.


"Jawabanmu tepat sekali Mika, kau benar-benar orang yang cerdas," ujar Fera.


Sontak saja mata Bima dan Mikhayla terbelalak.


"Ma!" protes Tian.


"Sudah Pa, sekarang tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Semuanya harus jelas. Apa papa tidak mau putri papa bahagia?"


"Bukan begitu Ma."


"Pa!" Bima ingin meminta penjelasan dari Tian langsung.


"Iya Bim, kau adalah putra dari kakak mamamu, kakaknya Fera. Kedua orang tuamu meninggal karena kecelakaan sehingga kami yang mengambil alih pengasuhanmu. Kami berharap dengan merawatmu kami pun akan diberikan kepercayaan punya anak sendiri dari Tuhan. Namun, Kenyataannya sampai saat ini kami berdua belum punya anak."


Akhirnya Bima bisa bernafas lega setelah mendapatkan keterangan dari kedua orang tua angkatnya.


"Mik, akhirnya kita bisa bersatu," ucap Bima sambil tersenyum senang. Mikhayla pun ikut tersenyum.


"Saya pergi!" ujar Fera lalu keluar dari kamar rawat Cantika.

__ADS_1


"Fera tunggu!" Kali ini Fera tidak ingin berkata apapun lagi. Dia berlari sambil meneteskan air mata.


"Selamat ya Pa, Papa sudah memilki keluarga yang komplit sementara aku hanya seorang diri. Mungkin aku yang mandul sehingga tidak bisa memberikan keturunan untuk papa." Fera menyeka air matanya.


"Tapi aku tidak sendirian, aku masih punya orang tua yang komplit." Fera sedikit tersenyum mengingat kedua orang tuanya yang masih sehat meskipun umurnya sudah lanjut.


"Ini saatnya aku berbakti pada mereka sebelum dipanggil oleh Yang Maha Kuasa." Fera menyetop taksi dan meminta sopir untuk mengantar ke rumah orang tuanya.


Di dalam kamar rawat Cantika, Tian bersimpuh di kaki Mikhayla untuk memohon maaf. Dia bukan hanya menelantarkan Mikhayla, tetapi dia juga telah menghina putrinya sendiri.


"Ampuni papa ya Mik!" mohon Tian, dia tidak ingin mendongak sebelum mendapatkan maaf dari Mikhayla.


"Sudahlah Pa, semuanya sudah terlanjur terjadi. Sekarang papa kasih tahu ke Mika dimana ayah dan ibu sekarang. Beliau sangat berjasa dalam hidup Mikhayla." Mendengar cerita Fera tadi membuat Mikhayla langsung teringat pada pak Faqih dan Susi. Kalau buka karena mereka Mikhayla tidak akan tumbuh besar dengan sehat.


"Mereka ada di panti jompo. Mereka mengalami stroke Mika setelah ditinggalkan oleh Mailena," jelas Tian.


"Ya Allah mengapa berat cobaan mereka. Kak apakah setelah menikah Kak Bima mengizinkan Mika membawa mereka kembali dan merawatnya?"


"Tentu saja Mik, apa yang membuatmu senang dan bisa membuatmu tenang pasti aku dukung."


"Terima kasih Kak."


"Iya, besok kita ke makam Mailena. Bukankah kau sangat ingin pergi ke sana?"


"Iya Kak, Mika benar-benar ingin berziarah ke kuburannya."


"Setelah itu papa akan antar kamu ke panti jompo untuk menemui orang tua angkamu."


"Baik Pa."


"Setelah itu baru kita urus pernikahan kalian."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2