Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 54. Akhir Segalanya


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian Cantika sudah benar-benar pulih dan sudah lincah kembali. Mikhayla dan Cantika sudah pindah dari toko ke rumah Tian sedangkan Bima lebih memilih tinggal bersama Fera di rumah orang tuanya.


Hari ini di kediaman Tian sedang diadakan pesta pernikahan antara Bima dan Mikhayla. Mereka berdua mengambil tema garden wedding dan diadakan di belakang rumah Tian sendiri.


Bukan tanpa alasan mereka memilih tempat itu selain lebih hemat biaya dengan tidak perlu menyewa gedung juga kebetulan halaman belakang rumah Tian amatlah luas.


Selain itu memilih rumah sendiri sebagai area pernikahan akan lebih fleksibel, karena tidak ada pembatasan waktu. Dengan menikah di rumah juga akan merasakan suasana yang lebih hommy, karena biasanya tidak hanya keluarga yang repot, tetapi akan ada bala bantuan dari tetangga.


Di berbagai sudut halaman Rumah Tian tertata indah. Bukan hanya bagian belakang rumah yang menjadi tempat berlangsungnya acara saja.


Dari depan rumah pun sudah dihiasi dengan bunga-bunga dan juga berbagai papan bunga berisi ucapan selamat menikah dengan warna-warni yang begitu meriah.


Lorong-lorong yang menjadi akses utama masuk ke halaman belakang pun dihias dengan tidak kalah indah.


Pelaminan bernuansa putih dan elegan dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip menjadi pemandangan tersendiri yang memukau semua pengunjung yang datang. Mikhayla dan Bima bukanlah keturunan orang kaya, tetapi keduanya sudah benar-benar merencanakan agar pesta pernikahan mereka berkesan.


Kursi-kursi undangan sudah tertata rapi dengan pita yang menambah cantik suasana. Bangku dan meja prasmanan pun sudah penuh dengan makanan.


Di pintu masuk, Agnes membagikan blom box buatan toko Mikhayla sendiri sebagai souvernir untuk para tamu.


Mikhayla yang berada di dalam kamar tampak grogi. Di sisinya bukan hanya ada Tian dan Cantika yang menemani, Rani sang mama dan juga Faqih beserta Susi yang merupakan orang tua angkatnya juga ada di dalam kamar yang menjadi tempat riasnya.


"Sudah ya Dek, ingat jangan sembarangan mengusap wajahnya, nanti make up nya berantakan," ujar MUA sambil menutup tas yang menjadi penyimpanan alat-alat make up.


Mikhayla hanya mengangguk.


"Mik, pengantin prianya datang," lapor Fergi di depan pintu.


"Ayo bersiap-siap," ucap Rani.


"Iya Ma."


Di luar terdengar suara orang-orang sangat berisik, sebentar kemudian terdengar bunyi kembang api yang dinyalakan, menandakan mempelai pria sudah memasuki rumah mempelai wanita.


Bima ditemani oleh Fera dan orang-orang yang membawa hantaran pun masuk ke dalam rumah Tian. Setelah meletakkan barang-barang hantaran, mereka langsung duduk di kursi yang dipersiapkan untuk besan sedangkan para pria bergabung dengan tamu pria lainnya untuk mendengarkan sambutan dari pihak wanita disambung jawaban dari pihak pria. Setelahnya mereka membaca shalawat terlebih dahulu sebelum akhirnya akad nikah dilangsungkan.


Tian dan Rani menyerahkan perwalian kepada pak penghulu sedangkan dia hanya duduk saja dengan menunduk di samping pak penghulu karena merasa malu begitupun dengan Rani yang duduk di sampingnya.


Sebenarnya Tian ingin sekali menjadi wali anaknya, tetapi sayangnya anak yang lahir diluar nikah tidak bernazab pada ayahnya.


Bima melirik Tian kemudian melirik Cantika yang ada di samping kirinya. Bima meneteskan air mata karena mengingat suatu hari nanti akan mengalami hal yang sama dengan Tian.


"Sudah siap Nak Bima?" tanya pak penghulu.


Fera mengelus-elus punggung Bima sedangkan Cantika nampak tersenyum senang.


"Iya Pak," jawab Bima mantap.


Pak penghulu pun mengucapkan kalimat ijab disambut kalimat qabul oleh Bima dalam sekali hentakan.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah."


Kata 'sah' terdengar dari segala penjuru ruangan yang menandakan keduanya sudah sah dalam ikatan pernikahan.


"Alhamdulillah."


Pak penghulu pun membacakan doa dijawab kata 'aamiin' oleh semua yang hadir di tempat itu.


Selesai berdoa Mikhayla dan Bima naik ke pelaminan dan semua yang hadir diberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat sebelum menikmati menu prasmanan yang dihidangkan sementara keluarga dan teman-teman serta karyawan di toko Mikhayla naik ke atas pelaminan untuk melakukan sesi foto-foto.


Banyak tamu undangan yang pulang, tetapi banyak juga yang baru datang. Mereka yang sibuk dengan pekerjaan di pagi hari ada yang menyempatkan hadir di saat jam makan siang kantor seperti teman sekantor Bima dan juga Tian. Ada pula yang datang sore bahkan malam hari.


Bima bersyukur meskipun dia sudah resign dari pekerjaannya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, rekan-rekannya masih datang ke pesta pernikahan dirinya dan Mikhayla.


Malam semakin larut dan para tamu undangan sudah pulang semuanya.


Setelah menyerahkan Bima pada Tian, Fera langsung pamit pulang.


"Pa, jaga kedua anak-anak kita," ujar Fera pada Tian.


"Kau mau kemana?"


"Tentu saja pulang Pa."


"Dan sebentar lagi akan menjadi mantan," ujar Fera dengan tatapan sendu.


"Kau sudah tidak mencintaiku?" Tatapan Tian seolah menusuk ke relung hati terdalam Fera.


"Papa sudah tahu jawabannya, jadi untuk apa bertanya lagi?"


"Kalau begitu tetap tinggal di sini!"


"Tidak bisa."


"Kalau begitu aku yang ikut ke rumah orang tuamu."


Tentu saja Fera terbelalak.


"Aku tidak ingin menceraikanmu," ujar Tian begitu tegas.


"Pa!"


"Apalagi?"


"Keluarga papa sudah sempurna, jadi tidak butuh mama lagi. Kembali pada Rani, sambung kembali cinta kalian yang pernah terputus."


"Masa lalu tidak harus menjadi masa depan, bukan? Dulu aku memang sangat mencintai Rani. Namun, setelah hidup denganmu, seiring berjalannya waktu cinta itupun ikut memudar. Papa hanya mencintai mama."

__ADS_1


Fera menggeleng. Dia tidak bisa percaya itu.


"Selama hampir satu bulan ini kami hidup bersama dalam satu rumah atas permintaan Mikhayla, tapi kami seperti orang asing yang ada dalam satu kapal. Fera, kami tidak mungkin bisa bersama lagi. Hati kami sudah berbeda. Hati dan tubuh Tian sudah terpaut padamu. Jadi, kumohon jangan libatkan aku lagi dalam kehidupan kalian. Cukup masa lalu yang hampir membuatku menghancurkan pertalian kalian berdua. Hari ini dan seterusnya tidak lagi. Maafkan aku."


Fera membeku.


"Apa yang dikatakan Rani itu benar," sambung Tian.


"Dan Mikhayla memang sengaja meminta mama Rani tinggal di sini untuk mengetes apakah papa masih mencintai Mama Rani atau malah Mama Fera, dan ternyata Mikhayla lihat sendiri papa sering melamun tanpa kehadiran mama Fera. Kehadiran mama Rani di rumah ini seolah tidak berarti untuk papa," jelas Mikhayla.


"Wah, kau usil sekali ya mengerjai papa," ujar Tian sambil mencubit pipi Mikhayla.


"Pa, awas make up Mikhayla luntur," protes Mikhayla.


"Biarkan saja toh acaranya sudah selesai dan sebentar lagi juga bakal dibikin lebih luntur oleh Bima." Tian Terkekeh.


"Akhirnya keluarga Cantika utuh ya Mi," ujar Cantika dengan senyuman termanisnya.


"Iya sayang itu karena doa Cantika dikabulkan oleh Tuhan jadi, Cantika jangan lupa bersyukur." Mikhayla mencium pipi putrinya lalu disusul Bima.


"Iya Mi pasti."


"Yuk sayang kita ke kamar!" ajak Bima sambil menggenggam tangan Mikhayla.


"Cantika ikut," rengek Cantika.


"Nggak boleh Sayang papi sama mami mau buat adik untuk Cantika jadi nggak boleh diganggu. Cantika mau adik, kan? Cantika sama opa saja dulu ya! Besok baru boleh tidur sama papi mami."


"Iya deh, Cantika tidur sama opa saja."


"Tapi Opa mau bikin adik juga buat mami Mika," ujar Tian sambil menggandeng tangan Fera.


"Pa!" protes Fera.


"Papa kangen berat sama Mama, tidak salah kan jika malam ini ingin berdua saja sama Mama?" Tian tersenyum penuh arti.


"Lah Cantika sama siapa dong? Kenapa mereka semua jadi tidak perduli sama Cantika?" Anak itu menjadi bingung.


"Sama Oma Rani saja. Mereka memang sengaja meninggalkan Cantika sendirian agar tidur sama Oma Rani. Kan besok pagi Oma sudah akan kembali ke kampung."


"Oh ya Oma?"


"Iya. Sekarang Oma gendong ya?"


Cantika mengangguk.


"Okelah malam ini Cantika tidur sana Oma saja." Gadis kecil itu tersenyum dalam gendongan Rani.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2