Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 38. Merasa Dijebak (1)


__ADS_3

Sudah satu jam Fergi dan teman-temannya minum-minum. Wajah Fergi dan seluruh tubuhnya sudah terasa panas.


Seorang pria tampak mengedipkan mata ke arah Alyne.


Alyne mengernyitkan dahi, seolah bertanya apa maksud temannya itu.


"Sepertinya dia sudah mabuk, bawa saja dia ke kamarmu."


"Aku nggak berani, takut masih sadar dan menolakku."


"Kasih aja obat," usul pria itu.


"Iya juga ya." Wanita itu lalu meminta pada teman yang lainnya untuk membelikan obat.


Tidak menunggu lama wanita yang dibisikkan kalimat perintah tadi kembali dengan obat di tangannya.


Alyne mengedipkan mata kepala teman prianya sebagai isyarat agar mengajak Fergi berbicara supaya tidak melihat ke arahnya.


Pria yang mendapatkan kedipan mata itupun mengerti dan menghalangi pandangan Fergi dari meja di depannya lalu mengajaknya mengobrol.


Alyne memasang obat pada gelas. Sebelum menyerahkan pada Fergi dia mengaduknya terlebih dahulu sehingga penampakan di gelas itu tidak menimbulkan kecurigaan.


"Fer, lebih baik kau minum air putih dulu." Alyne mengulurkan tangan ke arah Fergi. Pria yang ada di hadapannya menoleh. Aline tersenyum dan mengedipkan mata pada pria itu.


"Oke, pria itu menyingkir dari hadapan Fergi yang sudah meracau tidak jelas.


"Fer minum air putih saja biar tubuhmu tidak berguna panas," ujar Alyne lagi.


Fergi mengangguk dan Alyne menyodorkan gelas berisi campuran antara obat dan air itu ke mulut Fergi.


Prank.


Gelas jatuh ke lantai dan pecah sebelum menyentuh ke mulut Fergi.


"Kamu!" Alyne geram kepada gadis bertubuh mungil yang menyenggol tangannya.


"Sorry," ucap Lucia tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Mikhayla, kenapa kau ada di sini?" Entah mengapa tiba-tiba wajah Lucia berubah menjadi Mikhayla di mata Fergi.


"Jadi dia kekasih yang membuatmu menolak ku?"


Fergi mengangguk dan Lucia hanya mengernyit tanpa mau melayangkan protes.


Alyne tertawa melihat keadaan Lucia yang tidak sepadan dengan dirinya. Alyne gadis cantik, tinggi semampai, hidung mancung dan kulit putih, rambut hitam lurus dan bermata biru. Siapapun yang melihatnya akan langsung terpikat dengan wanita itu. Namun, Fergi malah tergila-gila dengan gadis mungil dengan kulit sawo matang, dan hidung tidak terlalu mancung. Selain itu rambut Lucia terlihat kasar dan tidak begitu tertata dengan rapi.


Sungguh gadis yang tidak bisa merawat diri menurut Alyne. Fashion Lucia pun jauh dari kata modis.


"Memang kenapa?" tanya Lucia memandang tidak suka pada Alyne, gadis cantik tetapi licik.

__ADS_1


"Hei kau orang desa ya? Penampilanmu kumuh sekali," tegur Alyne dan semua teman-temannya tertawa.


"Hahaha, lihat dia lucu sekali kalau cemberut seperti itu," timpal teman Alyne yang lainnnya.


Pyur.


Lucia langsung mengambil gelas yang sudah terisi dengan alkohol dan menyiram pada Alyne dan temannya.


"Hei kau dasar ya!" Alyne tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Lucia.


"Ayo Bang kita pergi dari sini!"


Fergi mengangguk dan Lucia menarik tangan Fergi keluar dari bar.


"Hei tunggu!" Alyne hendak mengejar keduanya namun usia buru-buru mengangkat tangan.


"Kalau kalian masih ingin mengejar kami, jangan salahkan kami jika meminta penjaga menangkap kalian atau melaporkan pada polisi sebab CCTV telah merekam aktivitas kalian yang hendak meracuni Bang Fergi," ancam Lucia.


Mendengar ancaman Lucia akhirnya Alyne dan teman-temannya mundur dan duduk kembali di kursi masing-masing sedangkan Lucia terus melangkah, membawa Fergi menuju mobil pria itu.


"Gila ternyata anak itu berani juga."


"Sudahlah Alyne relakan saja Fergi, cari laki-laki lain yang lebih menggoda. Kalau tidak dapat biar saya saja yang memuaskanmu." Pria yang tadi mendukung Alyne untuk menjebak Fergi itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Saya memang maniak, tapi saya tidak mau tidur dengan lelaki yang sama."


"Saya pikir bukan gadis tadi yang gila melainkan dirimu, hahaha."


Lucia mendorong tubuh Fergi hingga masuk ke dalam mobil. Lalu perempuan itu mengambil alih setir mobil Fergi mengingat pria itu sekarang sudah mabuk berat.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan jalanan menuju hotel sangatlah lengang sehingga Lucia tidak begitu khawatir berkendara di kota yang sebelumnya tidak pernah dia datangi. Lucia sampai harus mengunakan google map agar dirinya tidak tersesat menyetir.


"Huh akhirnya sampai juga, ternyata tidak sulit berkendara do kota yang sama sekali tidak aku kenal." Lucia bernafas lega saat sudah memarkirkan mobil di parkiran hotel.


Dia memapah tubuh Fergi ke dalam kamarnya dan menidurkan Fergi di atas ranjang.


"Aku ganti bajumu dulu ya Bang," pamit Lucia sebelum mengganti baju pria itu yang sudah basah dengan keringat dan bau alkohol yang menyengat.


Fergi tidak menjawab hanya menatap wajah Lucia tak berkedip membuat perempuan itu salah tingkah.


Namun, tetap saja Lucia membuka baju atasan Fergi dan sebelum menggantinya dengan baju lain Lucia mengelap dulu tubuh Fergi dengan tisu basah.


Saat hendak memasangkan bahu Fergi, tiba-tiba pria itu muntah dan Muntahan itu mengenai baju Lucia.


"Ya Tuhan, Bang aku mandi saja sekalian ya." Lucia berlari ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Namun, dia lupa tidak membawa baju ganti sehingga memutuskan untuk keluar dengan handuk Fergi saja.


Aroma sabun menguar dari tubuh Lucia sehingga membuat Fergi langsung bangun dari berbaringnya.


"Mika, kau cantik sekali." Mata Fergi terbelalak melihat Lucia hanya memakai handuk saja di tubuhnya.

__ADS_1


Buru-buru Lucia membuka koper Fergi untuk meminjam baju pria itu sebentar sebelum mengambil baju di kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar Fergi.


Fergi mendekati Lucia yang duduk membuka koper.


"Kau memakai handuk seperti ini hendak menggodaku ya!"


"Tidak Bang, saya hanya ingin meminjam baju dulu."


"Mika!" Mendadak Fergi mengecup kening Lucia membuat gadis itu sontak mendorong tubuh Fergi ke belakang dan dirinya juga mundur setelah menarik salah satu baju dari dalam koper.


"Mika sebentar lagi saya akan menikahimu, apa salahnya kita melakukan ini sekarang?"


Lucia menggeleng takut, dia memang mencintai Fergi, tetapi dia tidak bodoh sehingga harus menyerahkan keperawanannya sebelum menikah. Apalagi Fergi menganggap dirinya Mikhayla dan dalam keadaan mabuk.


Fergi terus maju ke depan sehingga tubuh Lucia terhimpit ke dinding.


"Bang jangan, sadarlah! Aku juga bukan Mikhayla."


Fergi tidak menggubris ucapan Lucia dan membawa tubuh wanita itu ke atas kasur.


Lucia memberontak hingga handuknya jatuh begitu saja.


"Bang jangan, lepaskan Bang. Aku mohon!"


Brak.


Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar. Lucia langsung meraih handuk dan menutup tubuhnya kembali.


"Fergi!!!"


Mata Lucia terbelalak melihat yang berdiri di depan pintu adalah orang tua Fergi dan ibunya sendiri.


"Tante? Mimi?"


Fergi pun menoleh.


"Mommy?"


"Kau harus nikahi Lucia Fer, jangan seenaknya membawa kabur anak orang dan berbuat senonoh seperti ini," ujar sang Mommy.


"Lucia?" Fergi memandang Lucia tak percaya bukankah wanita yang berdiri di hadapannya tadi adalah Mikhayla?


"Tapi Mom–"


"Tidak ada tapi-tapian, mommy malu Fer sama Tante Hilda. Kau pura-pura tidak mau sama Lusia ternyata diembat juga."


"Mom Fergi bisa jelaskan ka–"


"Aku tidak mau tahu, sekarang juga kamu nikahi dia. Daddy dan papinya Lucia ada di luar. Jadi jangan malu-maluin kamu!"

__ADS_1


Fergi menghela nafas berat.


Bersambung.


__ADS_2