Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 30. Siasat


__ADS_3

"Bagaimana Rin?" tanya semua karyawan yang berada di toko Mikhayla saat melihat Rina kembali dengan beberapa buket bunga dan bloom box di tangannya.


Semua karyawan itu langsung berdiri menyambut kedatangan Rina dengan rasa penasaran.


Rina mengangkat wajah dan melihat ke arah teman-temannya. Perempuan itu menghela nafas melihat toko benar-benar sepi dan hanya terlihat beberapa orang yang berjalan keluar dari toko dengan membawa buket bunga di tangannya.


"Bagaimana-bagaimana?" Agnes yang sangat penasaran langsung berlari ke arah Rina dan mencabut buket bunga di tangan Rina.


"Biasa aja, malahan lebih rapi buatan kita di sini," komentar Agnes dan Rina hanya mengangguk sambil terus berjalan ke arah bangunan toko.


"Bu Mika mana?"


"Sedang keluar, katanya beliau mau menjemput Cantika di sekolah," jawab Tutik.


"Oh kalau begitu tunggu Bu Mika saja biar saya tidak perlu menjelaskan untuk kedua kalinya."


"Huuuu, pelit amat punya suara," sorak karyawan yang lain sebab Rina hanya mau mengatakan informasi yang didapatnya setelah Mikhayla kembali.


"Aku senang kalau kalian menyoraki aku seperti tadi, berasa artis saja diriku ini," kelakar Rina membuat teman-teman wanita yang lain mencebik.


Rina malah tertawa terbahak-bahak.


"Ya sudah tuh ada pembeli, layani yang baik, yang ramah biar nggak kabur juga pelanggan ini," ujar Johan.


"Siap Bang Jo." Agnes langsung berdiri dan berjalan ke tempatnya biasa melayani pembeli.


"Kita kembali ke tempat masing-masing, biasakan bersabar. Jadi informasi tetap menunggu kedatangan Bu Mika," ujar Rina lagi.


"Huh pelit."

__ADS_1


Mereka pun kembali ke posisi masing-masing.


Beberapa saat kemudian terdengar suara motor matic Mikhayla memasuki halaman toko.


"Sepertinya Bu Mika sudah datang." Semua karyawan melongo ke arah halaman toko dan mendapati Mikhayla datang dengan membonceng Cantika di belakangnya.


"Bagaimana Rina?" tanya Mikhayla setelah memarkirkan motor dan berjalan ke arah toko.


"Iya Bu, saya sudah tahu apa yang membuat semua pelanggan lari ke sana."


"Barangnya lebih bagus?" tanya Mikhayla penasaran.


"Bukan, tapi harganya yang benar-benar miring Bu, apa nggak rugi kalau mereka menjual semurah itu?"


"Kita diskusikan nanti. Sekarang aku mau ngurusi Cantika dulu."


"Siap Bu."


Setelah mengganti pakaian Cantika, Mikhayla langsung mengambil maka6n dan menyuapi putrinya. Setelah itu barulah Mikhayla kembali ke samping karyawannya.


"Coba lihat barangnya!"


Agnes pun memberikan beberapa buket bunga dan bloom box yang tadi dibawa oleh Agnes.


Mikhayla pun melihat secara teliti satu-satu.


"Lumayan sih meski masih lebih bagus karya kita."


"Iya Bu, tapi karena harganya setengah dari harga yang biasa kita jual jadi orang-orang banyak yang lari ke sana kecuali pembeli yang memang mementingkan kualitas."

__ADS_1


"Harga bunga hidupnya bagaimana?"


"Harga di toko itu sama dengan harga bunga di supplier kita mengambil barang."


"Wah, sepertinya benar apa yang dikatakan Agnes tadi, toko itu tidak serius berbisnis hanya saja ingin menghancurkan toko kita. Mereka hanya ingin merusak harga agar toko kita bangkrut."


"Solusinya bagaimana Bu? Apa kita juga harus menurunkan harga?" tanya Tutik.


"Kalau harga diturunkan sedikit nggak ngaruh kayaknya tetap murah di sana, tapi kalau harga diturunkan drastis kita bisa rugi sebab kita kan memang tidak begitu banyak mengambil keuntungan?"


"Iya juga ya Mik."


"Iya Bang Jo."


"Bagaimana kalau kita beli saja bunga hidupnya yang di sana, ya dalam artian kita kulakan di sana. Daripada harus ke supplier dengan harga yang sama kan mending beli ke toko itu biar hemat ongkos." Mikhayla meminta pendapat semua karyawannya.


"Itu ide bagus sih Bu, hanya saja buat apa kita menumpuk barang kalau tidak laku," ujar Agnes.


"Itu dia masalahnya. Kalau uang kita beku di situ mungkin saja nggak ada uang lagi untuk bayar gaji kalian. Hanya saya pikir semakin kita banyak ambil barang dari toko itu, toko tersebut akan segera bangkrut. Karena sudah bangkrut berarti toko kita akan bisa laris kembali seperti sebelum-sebelumnya."


"Bu Mika benar, tapi kendalanya memang di modal sih Bu."


Mikhayla tampak berpikir sejenak.


"Aku telepon Fergi dulu, dia juga harus diberitahu karena di toko ini juga ada uang dia juga."


Segera Mikhayla menelpon Fergi dan menyampaikan masalah yang terjadi pada tokonya saat ini.


"Bagaimana Bu?" tanya Rina sesaat ketika melihat Mikhayla menutup telepon dari Fergi.

__ADS_1


"Dia setuju, katanya masalah keuangan dia yang akan menangani. Dia yang akan menanggungnya. Hanya saja dia tidak bisa datang ke sini karena saat ini sedang ada di luar negari. Fergi sedang mengikuti kontes chef internasional."


Bersambung.


__ADS_2