Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 7. Cobaan, Pengkhianatan, Dan Tantangan


__ADS_3

"Lumayan ya Kin hasil usaha kita bulan ini. Kupikir nggak bisa bayar gaji teman-teman, tapi kayaknya cukup deh." Mikhayla menghitung hasil penjualan buket dan produk toko lainnnya.


"Berarti perjanjian dibatalkan ya, kita semua jadi dibayar bulan ini," ujar Johan. Semua karyawan pun mengangguk antusias mendengar perkataan Johan.


"Tentu, saya tahu kok kalian pada butuh duit," ujar Mikhayla sambil tersenyum. Wanita itu menghitung uang dan diberikan pada beberapa karyawan secara bergantian.


"Udah ya, jadi masih semangat kan kerjanya?"


"Masih dong."


"Ya udah ya Mik kita kembali bekerja lagi," ujar Johan sambil berdiri dan bergegas untuk melanjutkan pekerjaan begitupun dengan yang lainnya.


"Mik aku juga dong dan kamu ambil bagianmu juga. Hasilnya langsung kita paruh dua," saran Kinar saat semua karyawan sudah pergi dan menyisakan mereka berdua saja.


"Hmm, apa tidak sebaiknya kita ambil sebagian saja dulu Kin, kita harus menyisihkan untuk menyicil hutang-hutang kita. Setelah modal balik semua baru kita akan bagi dua."


"Ckk, aku butuh uangnya Mik, lagipula perjanjian kita kan masih lama dengan Ganjar."


"Hmm, baiklah kalau itu mau kamu." Mikhayla pun memberikan bagian Kinar.


"Nah kalau begini kan asyik, aku jadi semangat kerjanya," ujar Kinar tersenyum manis lalu melenggang pergi dan menemui karyawan yang lain. Mikhayla hanya bisa tersenyum kecut. Kalau Kinar seperti ini terus kapan modalnya bisa kembali dan isi toko menjadi milik diri dan juga Kinar seutuhnya.


"Ah, sudahlah yang penting modalnya masih utuh." Mikhayla pasrah.


3 bulan menggeluti dunia bisnis bunga sebagai pengusaha sekaligus florist akhirnya kini Mikhayla tidak hanya menjual buket bunga, bloom box, dan karangan bunga. Namun, benda kecil seperti korsase(aksesori kecil berbentuk bunga yang disematkan pada kerah pakaian wanita atau diikatkan di pergelangan tangan) dan juga boutonnierses(lubang kancing berukuran kecil, terdiri dari satu hingga tiga bunga yang dikenakan pada kerah pengantin pria atau pendamping pria dalam upacara pernikahan) pun menjadi perhatiannya. Bahkan kini Mikhayla juga menjual tanaman bunga walaupun jenisnya masih terbatas dikarenakan masih tersendat modal.


Walaupun hanya hal kecil dan benda kecil. Namun, karena toko tersebut menjadi lengkap orang-orang semakin memilih toko tersebut untuk urusan membeli rangkaian bunga maupun bunga hidup sebagai tanaman hias.


Oleh karena semakin banyak pelanggan. Perlahan, tapi pasti toko tersebut banyak kemajuan dan mengalami perkembangan pesat. Terbukti dengan isi toko yang semakin banyak dan beragam.


Namun dua bulan kemudian


Ganjar si pemilik modal datang untuk menagih hutang Mikhayla dan Kinar.


"Perjanjian kalian sudah jatuh tempo. Jadi saya harap kalian membayar semua modalnya sekarang."


"Apa Pak? Apa Bapak tidak salah? Kan perjanjiannya adalah satu tahun Pak," sanggah Mikhayla akan keterangan dari Ganjar.


"Itu kalau setiap bulannya kalian menyicil 10% dengan bunganya, tapi kalian tidak melakukannya."


"Maaf Pak, satu bulan setelah kami meminjam modal kami memang tidak nyicil dan itu sudah aturannya kan? Kami akan menyicil di bulan kedua dan selanjutnya."


"Nyatanya sampai 5 bulan tidak ada uang yang masuk ke saya. Kalian mengingkari perjanjian."


"Loh-loh Bapak ini ngomong apa? Saya bayar kok," bantah Mikhayla.


"Bayar sama siapa? Sama bayang-bayang saya? Atau bayar dalam mimpi?"


"Kin!" Mikhayla menatap Kinar untuk meminta penjelasan. Namun wanita itu malah menghindari tatapan Mikhayla dengan menunduk.


"Kin jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!" tekan Mikhayla.


"Aku tidak ikut campur Mik masalah hutang piutang toko." Setelah mengatakan hal itu Kinar berdiri dan hendak pergi.


"Kin!" Mikhayla menarik tangan Kinar. "Jadi benar kamu yang mengambil sendiri uangnya?" Mikhayla menatap mata Kinar tak berkedip. Wanita itu melotot dengan aura mengancam.


"Itu uang hasil kerjaku." Kinar menyentak tangan Mikhayla lalu berlari keluar toko.


"Kinar!" teriak Mikhayla lalu berlari mengejar Kinar. Namun, tangannya ditahan oleh Ganjar.


"Nyonya tidak boleh pergi sebelum membayar hutang-hutangnya!"


"Ah!" Mikhayla menyentak tangannya dengan kesal sebab Kinar telah berhasil naik ojek dan kini telah pergi meninggalkan dirinya dan juga hutang-hutangnya.


"Ini rincian hutang-hutangnya."


Mikhayla meraih kertas dari tangan ganjar.


"Sebanyak itu Pak?" Mikhayla benar-benar tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Ya."


"Bunganya hampir seratus persen? Tapi saya tetap pernah menyetujui akan hal itu."


"Tapi Nyonya sudah membubuhkan tanda tangan dan itu artinya Nyonya sudah menyetujui perjanjian ini."


"Kinar!" Mikhayla emosi. Menyesal dia mempercayai Kinar untuk mengurus segalanya.


"Ternyata dia menipuku, ternyata yang baik di depan mata belum tentu baik di belakang." Hari ini Mikhayla benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Bagaimana Nyonya sudah ada uangnya? Melihat perkembangan toko seharusnya adalah ya!"


"Seharusnya ada meskipun tidak cukup, tapi sayangnya uang untuk membayar hutang telah diambil Kinar tanpa sepengetahuanku. Beri saya waktu, setelah semua barang-barang toko terjual saya akan membayar semuanya."


"Baiklah saya akan memberikan kelonggaran waktu. Bulan depan sudah harus lunas."


"Baik Pak."


Pria itu mengangguk dan meninggalkan Mikhayla yang terlihat syok.


"Mami kenapa?" Cantika berlari ke arah Mikhayla dan mendekap tubuh ibunya dari belakang.


Mikhayla menoleh dan mencoba tersenyum. "Mami tidak apa-apa."


"Benarkah? Tapi mami tadi terlihat murung."


"Iya mami tadi hanya memikirkan bagaimana caranya merangkai bunga sesuai permintaan pelanggan."


"Rangkaiannya susah ya mami?"


Mikhayla mengangguk.


"Yuk Cantika ganti baju dulu. Eh tapi tadi diantar siapa?"


"Bu guru," jawab Mikhayla jelas. Anak itu memang tidak ada cadel-cadelnya sejak kecil.


"Maaf ya tadi mami nggak sempat jemput Cantika. sebenarnya sudah mau berangkat untuk menjemput kamu eh tapi tadi ada tamu yang datang."


"Iya mami Cantika kamu mengerti. Kan mami akhir-akhir ini memang sibuk karena banyak pelanggan yang harus dilayani."

__ADS_1


"Umm, memang pintar nih anak mami," ucap Mikhayla sambil mencubit kedua pipi putrinya.


"Jangan dicubit terus mami, nanti pipi Cantika menjadi bakpao." Cantika merengut.


"Eh kata siapa?"


"Teman-teman." Masih cemberut.


"Biarin yang penting bagi mami Cantika itu cantik seperti namanya."


Anak itu kemudian jadi tersenyum.


"Aku sayang mami." Gadis kecil itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Mami juga sayang Cantika. Yuk ganti baju dulu!"


"Cantika mau coba ganti baju sendiri Mi."


"Oh oke silahkan!"


Cantika mengangguk dan berlari masuk ke dalam kamar.


"Bang Johan sini!"


Johan berlari-lari ke arah Mikhayla.


"Ada apa Mik?"


"Tolong carikan orang yang mau membeli semua isi toko."


"Maksudnya Mik?"


"Aku mau menjual semua isi toko secepatnya kalau perlu barang-barang dagangan di toko ini akan saya lelang."


"Jadi tokonya akan ditutup?"


"Iya Bang Jo, sorry ya kalian tidak akan bisa bekerja lagi di sini."


"Pasti karena Kinar ya?" Sebenarnya Johan sempat mendengar pembicaraan Mikhayla, Kinar dan Ganjar tadi. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Mikhayla akan mengambil jalan menutup toko.


"Ya begitulah, tapi sudahlah ini cobaan untuk kita semua."


Andai Mikhayla tidak ingat siapa yang membawanya ke toko ini 6 tahun yang lalu, dia pasti akan melaporkan Kinar kepada polisi dengan tuduhan penipuan. Namun, dia tidak akan melakukan hal ini mengingat wanita itu telah membersamainya dalam suka dan duku selama beberapa tahun belakangan.


"Entah mengapa Kinar tega melakukan hal ini."


"Sabar ya Mik."


"Iya Bang Jo bantu aku ya supaya dagangan di toko cepat terjual."


"Oke beres."


***


"Ada yang ingin bertemu dirimu Mik, katanya beliau ingin menawar semua bunga-bunga dan bahan yang ada di sini."


"Suruh masuk Bang Jo!"


Setelah orang yang dimaksud oleh Johan bertemu dengan Mikhayla dan mendiskusikan harga akhirnya mereka berdua mencapai kesepakatan.


"Terima kasih, besok barang-barangnya akan saya angkut semua. Ini uang muka dan besok akan saya bayar sisanya."


"Terima kasih Pak."


"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu." Setelah berjabatan tangan pria itu pergi.


Esok hari pria yang membeli barang-barang dari toko Mikhayla datang dengan membawa truk. Setelah menyelesaikan sisa pembayaran, anak buahnya langsung mengangkut barang-barang menuju truk.


Cantika yang melihat semua barang-barang diangkut cemberut di depan pintu.


"Mami kenapa bunga-bunga Cantika dibawa orang itu semua?" Anak itu melihat orang-orang dengan tatapan tidak suka.


"Oh itu mereka membeli semua barang kita. Itu tandanya barang-barang kita laris sayang," gila Mikaila agar cantik tidak bersedih.


"Terus mami dan tante-tante sama paman ini akan bekerja apa kalau semuanya dibawa?"


"Nanti mami akan kulakukan barang yang baru lagi biar barang yang ada di toko ini semuanya fresh."


"Oh begitu ya Mami?" tanya Cantika sumringah.


"Iya sayang."


"Hmm, baiklah."


Setelah semua barang-barang diangkut, Mikhayla langsung memberikan gaji untuk semua karyawannya sebelum pergi.


"Nggak usah Mik, nggak usah digaji kita kan tidak ful sebulan kerjanya.


"Nggak apa-apa ini hak kalian. Ambillah dan sisanya ini akan saya berikan pada Pak Ganjar."


"Tapi Mik-"


"Sudahlah ambil saja. Ada keluarga yang harus kamu nafkahi juga, kan?"


"Baiklah Mik kami ambil ya. Lain kali kalau buka usaha lagi jangan lupa ya panggil kami. Kami siap bekerja padamu lagi."


"Aamiin semoga yang kalian ucapkan itu menjadi kenyataan."


"Aamiin, kalau begitu kami pamit ya Mik?"


"Iya hati-hati kalian."


Setelah semua orang pergi, Mikhayla mengajak Cantika ke rumah Pak Ginanjar guna membayar hutang.


"Sisanya kapan ini?"


"Nanti Pak kalau sudah ada uangnya."


"Jangan lama-lama!"

__ADS_1


Mikhayla mengangguk lemah.


"Baik aku tunggu."


Esok hari.


"Mami kok tokonya jadi sepi? Gara-gara mami jual semua bahan dan bunga Tante dan om Johan tidak datang lagi."


"Bukan begitu sayang mereka hanya ingin beristirahat beberapa hari."


"Mami tidak berbohong, kan?" Cantika menelisik wajah sang mami.


"Emang wajah mami terlihat berbohong?"


"Emm ...." Cantika menggeleng.


"Karena mami sekarang sudah tidak sibuk, yuk kita jalan-jalan."


"Asyik, ayo mami." Cantika berjingkrak kegirangan.


Seharian itu Mikhayla menemani Cantika bermain di pusat permainan.


"Lapar!" Gadis kecil itu mengusap perutnya.


"Oke kalau begitu kita makan di restoran."


"Oke Mami."


Mereka pun berjalan ke restoran yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri di sana.


"Ada apa kok ramai sekali?"


"Iya Mi ramai banget, apa ada pertunjukan? Ada badut?"


"Bukan Mbak, di dalam ada kontes memasak menu seperti yang dicontohkan oleh pemilik kafe dalam rangka merayakan ultahnya yang ke 27. Hadiahnya besar loh Mbak. Sayangnya saya tidak ada bakat memasak. Yang ada semua masakan yang aku olah rasanya hambar." Wanita itu pergi sambil tertawa-tawa.


Mikhayla masuk ke dalam dan menyaksikan pengolahan menu oleh Fergi. Chef sekaligus pemilik restoran itu.


"Baiklah tanpa berbasa-basi lagi, untuk meringkas waktu saya akan langsung ke praktek ya. Berhubung ibu saya orang Rusia, sebagai anak yang terlahir dari rahim seorang ibu dan sangat menyayanginya ibunya maka tahun ini menu yang saya pilih adalah kulebyaka dan juga desert honey cake." Fergi menjeda ucapannya sebentar untuk menarik nafas.


"Untuk menu yang pertama adalah kulebyaka dimana ini adalah pai Rusia dengan isian banyak. Jadi kalian perhatikan secara seksama dan teliti, satu saja rasa isiannya hancur maka sudah dapat dipastikan kalian tidak bisa memboyong hadiah uang sebesar 25 juta."



Gambar: Kulebyaka.


"Apa 25 juta?" Mikhayla tak pernah menduga hadiahnya sebanyak itu.


"Iya Mbak, Pak Fergi ini adalah pria yang royal," ujar seseorang.


"Oke perhatikan! Saya akan memulai membuat menunya. Kulebyaka ini bisa berlapis-lapis, tetapi yang akan saya buat hanya 5 lapis saja."


Mikhayla mendekat ke depan sedangkan Cantika lebih memilih duduk di sebuah kursi dengan tenang. Dia tahu sang mama tertarik dengan acara tersebut dan anak ini tidak mau mengganggunya.


Waktu bergulir begitu cepat, dengan kecekatan yang dimiliki Fergi sudah berhasil membuat menu pertamanya.


"Oke inilah hasilnya. Sekarang siapa yang mau mengikuti tantangan saya untuk membuat menu Kulebyeka seenak buatan saya?"


"Saya."


"Saya."


"Saya."


Beberapa orang mengacungkan tangan dan dipersilahkan maju ke depan satu persatu.


"Kol yang Anda masak terlalu matang sehingga kol yang menjadi isiannya lembek. Sorry Anda gugur."


Peserta pertama mengangguk dan mundur ke belakang.


"Sorry nasi yang menjadi isiannya terlalu keras, mungkin anda memasak nasinya kurang air. Anda juga gugur." Peserta kedua pun undur ke belakang.


"Ikan salmonnya terlalu sedikit. Anda terlalu pelit sehingga rasanya kurang lezat."


"Huuuu!"


Peserta ketiga mundur sambil menggaruk kepala sehingga diiringi sorak-sorai dari semua penonton.


"Rasanya terlalu hambar." Peserta ke-empat pun masih gagal.


"Ada lagi? Siapa antrian selanjutnya?"


Tidak ada yang maju, rupanya tadi yang sudah mendaftar nyalinya ciut.


"Kalau tidak ada yang berani lagi berarti uang 25 juta kembali masuk kantong," ujar Fergi sambil menggeleng dan tersenyum.


"Saya Tuan." Mikhayla yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu langsung mendaftarkan diri. Perkara dia menang atau tidak urusan nanti yang penting sekarang mencoba dulu.


"Mami! Mami! Mami!" Cantika turun dari kursi dan berjalan ke arah Mikhayla untuk menyemangati.


"Oke boleh, silahkan."


Mikhayla mengangguk dan maju ke depan. Beberapa karyawan restoran tampak membenahi tempat memasak dan menyiapkan bahan-bahan. Setelah itu Mikhayla langsung memasak dengan tenang. Setiap protes Fergi kepada peserta tadi dia jadikan acuan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.


"Mami pasti bisa!" Cantika terlalu heboh.


Mikhayla mendongak dan tersenyum manis pada putrinya. Cantika adalah semangatnya. Apapun akan Mikhayla lakukan demi masa depan sang anak.


Waktu cepat berlalu dan kini Mikhayla sudah menyelesaikan tantangannya. Setelah meletakkan hasil Kulebyaka buatannya di atas piring, ia lalu menyajikannya di atas meja.


"Sudah Tuan, silahkan dicicipi!"


"Baiklah." Fergi mendekati piring Mikhayla dan mencicipi kulebyaka buatan wanita ini.


Mikhayla meringis melihat pria itu mencicipi masakannya seperti tidak berselera. Dalam hati Mikhayla menebak-nebak apakah kulebyaka buatannya hambar ataukah malah rasanya hancur.


"Kamu pernah memasak?" tanya Fergi sebelum menilai. Mikhayla semakin meringis. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Fergi ucapkan selanjutnya.


"Rasanya begitu ...."

__ADS_1


Jantung Mikhayla begitu berdetak kencang menunggu hasil penilaian dan keputusan Fergi.


Bersambung.


__ADS_2