
Jam sudah menunjukkan pukul 6 malam waktu setempat. Segera Fergi mengendarai mobilnya menuju tempat acara diadakannya lomba memasak kelas dunia.
Setelah beberapa peserta maju ke depan dan melakukan tantangan yang diberikan untuk memasak menu-menu yang sudah disiapkan oleh panitia kini giliran Fergi untuk menunjukkan bakatnya.
Fergi adalah peserta ke-8 yang berhasil memasuki babak semifinal. Merupakan peserta yang terakhir, pria itu sangat nervous sekali.
Fergi menghela nafas sebelum akhirnya maju ke depan.
"Apakah Anda sudah siap?" tanya seorang panitia sebelum mempersilahkan Fergi untuk memperlihatkan kemampuannya.
"Sangat siap," jawab Fergi mantap meskipun dalam hati masih terasa grogi.
"Kalau begitu silakan dimulai!"
Fergi pun mengangguk dan mulai beraksi membuat menu yang diminta oleh panitia. Hampir 1 jam menu belum selesai juga padahal peserta yang lain hanya menyelesaikan menu tersebut dalam waktu setengah jam dan bahkan ada yang hanya 25 menit saja selesai.
Sontak waktu yang sudah mepet itu membuat Fergi ketar-ketir takut waktu yang diberikan terlampau sehingga gagal memasuki final.
"10 menit lagi, selesai tidak selesai silakan masakannya dibawa ke depan para juri," himbau seorang panitia yang berdiri tegap di hadapan Fergi dengan mengunakan bahasa Inggris.
Fergi mengangguk dan semakin mempercepat gerakannya.
"Tiga menit lagi!"
Fergi mengangkat tangan pertanda menu yang dibuatnya sudah selesai.
"Silahkan dibawa ke depan!"
Fergi mengangguk lagi dan langsung membawa piring putih berbentuk segiempat ke meja di hadapannya para juri.
Fergi merasa lebih tegang saat satu persatu juri mencicipi masakannya.
Namun, dia kemudian merasa lega saat penilaian dari para juri semua bernilai positif dan merasa puas terhadap menu buatan Fergi.
Semua peserta dipersilahkan untuk beristirahat sedangkan juri berdiskusi di depan untuk menentukan pemenangnya.
15 menit kemudian juri langsung mengumumkan siapa saja anggota yang masuk ke babak final dan ternyata Fergi adalah salah satu dari keempat peserta yang dipilih oleh para juri.
Untuk itu pria tersebut harus mempersiapkan diri lagi untuk bertanding di babak selanjutnya malam ini juga.
__ADS_1
"Hah rasanya tegang sekali," gumam Fergi.
"Dibuat enjoy saja, selamat ya masuk ke babak berikutnya," ucap seorang wanita sambil menepuk bahu Fergi dan undur ke belakang karena dirinya ternyata tidak masuk ke dalam 4 peserta terpilih.
"Makasih atas ucapan selamatnya. Semoga kamu terpilih di dalam perlombaan lainnya."
"Terima kasih." Wanita itu melambaikan tangan kepada Fergi dan duduk di kursi penonton.
Berbeda dengan babak sebelumnya di mana para peserta dipanggil satu persatu untuk maju ke depan dan melakukan aksi mereka memberikan menu terbaik. Di babak final ini 4 peserta langsung membuat menu secara bersamaan.
"Penilaiannya adalah siapa yang bisa menyelesaikan menu dalam waktu tercepat dengan rasa yang sama atau mirip dengan menu buatan salah satu juri di perlombaan ini serta kreasi tatanannya di piring dialah yang memenangkan perlombaan itu." Panitia meminta peserta satu persatu baju ke depan dan mencicipi menu yang sudah berada di atas meja.
"Bagaimana semua peserta sudah siap?"
"Siap," jawab keempat peserta secara serempak.
"Baiklah, ambil bahan-bahan yang sekiranya dibutuhkan. Jangan sampai ada bahan yang ketinggalan sebab kalau sampai itu terjadi kalian tidak bisa mengambilnya lagi jika waktu pemilihan bahan sudah usai. Bagaimana sudah benar-benar siap?"
"Siap!"
"Oke, mulai!"
Seorang gadis di salah satu kursi penonton tampak tegang. Menanti hasil pertandingan dengan harap-harap cemas.
"Semoga Bang Fergi bisa mewujudkan cita-citanya untuk menjadi Chef yang mendunia," batin gadis itu dengan penuh harap. Gadis itu nekat mengikuti Fergi sampai negara ini tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya hanya untuk menyaksikannya langsung pertandingan yang dikuti oleh pria yang dicintainya ini. Namun, walaupun demikian gadis ini tidak berani menampakkan diri di hadapan Fergi karena takut akan mempengaruhi mood pria itu.
Lucia, nama gadis itu, tahu Fergi sangat membenci dirinya meskipun dia adalah tunangannya sendiri.
"Waktu pengambilan bahan-bahan sudah selesai sekarang kembali ke meja kalian masing-masing!" Terdengar suara peringatan dari dalam mikrofon.
Fergi dan yang lainnya langsung membawa keranjang masing-masing ke meja masing-masing.
Sampai di meja Fergi tersenyum saat memeriksa bahannya ternyata sudah lengkap. Lucia yang melihat Fergi tersenyum pun ikut tersenyum.
"Silahkan dimulai memasaknya!"
Semua peserta pun berlomba-lomba menghidangkan olahan terbaik tangannya. Kali ini waktu yang diperlukan lebih panjang dari sebelumnya yaitu 2 jam harus selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 menit waktu setempat. Untung saja Fergi sudah tidur banyak siang tadi sehingga tidak mengantuk sama sekali malam ini. Fergi tidak mengerti mengapa pertandingan memasak ini malah dilaksanakan pada malam hari dan tidak ditunda besok saja.
__ADS_1
Tapi tidak masalah baginya karena dia sudah menyiapkan segalanya, fisik dan mentalnya.
Satu jam berlalu ke tiga peserta sudah menyelesaikan tantangan mereka sedangkan Fergi masih belum selesai juga. Maklumlah chef-chef yang ikut dalam perlombaan itu adalah pilihan terbaik dari berbagai negara sehingga selain masakan mereka sudah terjamin enak mereka juga mampu menyelesaikan tantangan membuat menu dalam waktu singkat. Fergi terpilih saja sebagai utusan negaranya sudah bersyukur apalagi kalau sampai menenangkan lomba ini.
Lucia berdiri dari tempat duduknya dan mengintip ke arah Fergi apakah sudah hampir selesai atau belum. Gadis itu menggerakkan tangannya nervous padahal Fergi masih terlihat tenang-tenang saja.
"Tenang waktu masih tinggal satu jam lagi. Hanya saja kecepatan dalam menyelesaikan menu tantangan juga masuk penilaian." Suara dari mikrofon terdengar memperingatkan.
Fergi mengangguk lalu dengan ekspresi santai dia melakukan plating.
Lucia yang menyaksikan turut bernafas lega karena akhirnya Fergi pun menyelesaikan tantangannya juga.
Satu jam kemudian pemenang lomba pun diumumkan. Fergi melompat kegirangan mendengar namanya disebut sebagai juara pertama. Lucia yang berada di kursi penonton pun berpindah tempat dan melakukan sujud syukur membuat semua orang menatap aneh padanya sebab tidak tahu kenapa Lucia tiba-tiba melakukan hal tersebut.
Fergi dipersilahkan naik ke podium untuk menerima hadiah. Setelahnya dia langsung berniat pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Hei kita rayakan kemenanganmu." Alyne, gadis yang tadi mengucapkan kata selamat pada Fergi menepuk pundak Fergi kembali.
"Rayakan?"
"Kita minum-minum dulu."
"Maaf saya tidak bisa saya harus kembali ke hotel. Ini sudah hampir pagi."
"Ayolah hargai kami yang mengajakmu. Setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Iya nggak teman-teman?"
"Alyne benar."
"Baiklah."
Akhirnya Fergi mengiyakan ajakan teman-teman sesama peserta lomba yang terlebih dulu gugur dalam perlombaan.
Mereka langsung menuju sebuah bar dan minum-minum.
"Ayo tambah lagi!"
"Sorry aku tidak biasa minum jadi minum sebanyak ini sudah membuat perutku terbakar," tolak Fergi.
"Ayolah masa begini saja sudah KO," bujuk Alyne yang membuat Fergi merasa tertantang. Hingga ia minum-minum kembali.
__ADS_1
Bersambung.