
Tiga hari setelah momen makan siang bersama Fergi dan para karyawan di toko bunga milik Mikhayla, Fergi tidak lagi datang ke toko tersebut.
"Mi sepi ya kalau nggak ada Om Fergi ke sini," keluh Cantika pada Mikhayla. Mereka baru saja pulang dari sekolah Cantika dan sekarang baru turun dari motor.
"Kan kamu tahu sendiri Om Fergi itu sibuk jadi jangan sebut nama dia lagi agar matanya tidak berkedut sehingga mengganggu pekerjaannya," jelas Mikhayla sambil mendorong motor masuk garasi.
"Bukannya Mami ya yang meminta Om Fergi untuk tidak datang lagi ke sini dan menemui kita," protes Cantika.
"Bukan begitu Sayang kamu salah paham," jawab Mikhayla.
"Cantika mendengar sendiri kemarin yang Mami katakan pada Om Fergi." Cantika nampak cemberut.
Mendengar ucapan Cantika Mikhayla menghela nafas. Dalam hati dia menyesal karena kemarin menyampaikan permintaannya kepada Fergi di depan Cantika. Seharusnya Mikhayla mengajak Fergi menjauh dulu dari Cantika agar gadis kecil itu tidak mendengar pembicaraan keduanya.
Namun, karena ego Mikhayla yang terlalu tinggi sebab di sana masih ada ibu dari Fergi yang mendengar pembicaraan keduanya, dan Mikhayla ingin agar wanita tersebut tahu bahwa bukan dirinyalah yang mendekati Fergi melainkan si Fergi sendiri, jadi terpaksa Mikhayla menyampaikan hal itu, meskipun di depan Cantika putrinya.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan Sayang."
"Aku mau ketemu Om Fergi," rengek Cantika.
"Tidak boleh sayang. Om Fergi sibuk."
"Kalau nggak ada Om Fergi nggak seru, Cantika merasa hidup Cantika hampa. Kalau ada Om Fergi Cantika merasa seperti punya papi."
"Kan ada mami sayang. Mami bisa menjadi Mami sekaligus papi buat kamu."
__ADS_1
"Tetap saja tidak sama. Cantika kangen Om Fergi." Gadis kecil itu tetap merajuk.
"Beli es krim yuk!" ajak Mikhayla agar Cantika bisa melupakan Fergi.
"Nggak mau."
"Nanti kamu boleh beli banyak dengan banyak varian rasa," rayu Mikhayla.
"Cantika nggak mau minum es."
"Beli boneka Barbie, bagaimana?"
Cantika menggeleng.
"Beli Kentucky?"
"Cantika mami bilang nggak boleh ya tetap nggak boleh."
"Mami jahat!" ketus Cantika.
"Cantika!" bentak Mikhayla membuat Cantika langsung menunduk dan diam.
"Sekarang kamu masuk dan ganti baju. Setelah itu makan masakan mami! Tidak perlu pergi kemana-mana."
Mikhayla berbalik dan langsung masuk ke dalam di ikuti Cantika di belakangnya.
__ADS_1
Setelah menaruh tas Cantika duduk di tepi ranjang dengan ekspresi sedih. Mikhayla mengganti seragam sekolah Cantika dengan baju rumahan. Keduanya terlihat saling diam. Tidak ada yang bicara sepatah katapun.
Mikhayla bangkit berdiri lalu meninggalkan Cantika ke dapur untuk mengambilkan makan.
Beberapa saat Mikhayla kembali ke kamar. "Cantika makan sayang!"
Cantika menggeleng masih dengan posisi tubuh yang tidak berubah sekalipun.
Cantika berjalan perlahan kemudian duduk di sisinya.
Melihat putrinya menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut dengan gemetar, Mikhayla tahu Cantika takut padanya. Bahkan Cantika saat ini tidak berani memandang wajahnya.
Ya Tuhan ampuni aku. Cantika, maafkan atas kesalahan mami di masa lalu. Seharusnya kamu tidak bersedih seperti ini karena kamu sebenarnya masih memiliki ayah. Namun, cara Tuhan untuk menghadirkan dirimu begitu menyakitkan bagi mami karena ayahmu sendiri sampai tidak mengakuimu.
"Cantika makan ya sayang," bujuk Mikhayla lagi. Wanita itu begitu khawatir, pasalnya sudah sejak tadi pagi Cantika tidak mau makan.
"Cantika kenyang Mi."
"Kenyang dari apa kau bahkan belum makan hari ini. Masih mau ketemu Om Fergi?" Mikhayla meletakkan piring di atas kasur dan mengelus-elus punggung putrinya.
Cantika menggeleng lagi dengan tubuh yang nampak bergetar.
Melihat kondisi Cantika yang seperti ini ada rasa sedih dan sesak yang menyeruak ke dalam hati. Mikhayla sadar Cantika membutuhkan kasih sayang seorang ayah sehingga ketika dia mendapatkan kasih sayang dari Fergi gadis kecil itu sangat tidak ingin melepaskannya.
"Cantika maafkan Mami."
__ADS_1
Bersambung.