
"Ayo kita segera ke rumah sakit."
Mikhayla pun membawa Cantika ditemani oleh Johan dan Kinar. Sampai di rumah sakit segera mereka membawa Cantika ke ruangan UGD.
"Sakit apa?"
"Panas dan batuk Dok, tapi yang lebih mengkhawatirkan dia tidak mau menyusu dan terus saja menangis." Tidak perduli yang memeriksa putrinya dokter atau perawat, Mikhayla langsung memanggil pria itu dengan sebutan dokter.
"Anak Ibu ternyata mengidap penyakit Asfiksia. Anak ini tidak bisa menyusu karena sesak nafas. Kami akan membawa dan merawatnya di ruang ICU anak," ujar seorang petugas medis sambil berusaha untuk memasang infus ke lengan Cantika.
Mikhayla hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa meneteskan air mata tatkala menyaksikan petugas medis kesusahan mencari urat nadi pada tangan mungil putrinya untuk dipasangkan jarum infus.
"Sabar ya Mik." Kinar mengusap bahu Mikhayla untuk menguatkan. Dia berharap Cantika akan baik-baik saja dan Mikhayla tidak down setelah mengalami cobaan yang bertubi-tubi.
Brankar didorong dari ruangan UGD menuju ruang ICU anak diikuti Kinar dan Mikhayla di sampingnya.
Sampai di ruangan ICU anak setelah seorang suster menerima Cantika suster lainnya tampak menjelaskan pada Mikhayla.
"Sebelum ibu memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab merawat bayi Ibu sampai sembuh kami ingin menjelaskan prosedur yang harus dipatuhi di sini. Pertama selama dirawat di rumah sakit ini bayi Ibu tidak boleh menggunakan pakaian dari rumah. Jadi semua pakaian yang dikenakan harus dari rumah sakit untuk menjamin kehigienisannya."
"Kalau hanya tentang itu tidak masalah Sus." Kinar yang menjawab sedangkan Mikhayla hanya mengangguk saja.
"Baik. Yang ke-dua kami akan memasang selang di mulut anak Ibu sampai ke perut."
Mikhayla meringis mendengar penjelasan suster kali ini. "Haruskah Sus?"
"Iya Ibu, sebab anak ibu tidak bisa mendapatkan nutrisi kalau tidak menggunakan selang. Bukankah mulutnya menolak ketika diberikan ASI ataupun susu formula."
Mikhayla menatap ke arah Kinar dan wanita itu mengangguk setuju.
"Selain selang makanan, anak ibu juga harus kami berikan selang oksigen agar bisa bernafas dan yang ibu tahu sendiri tadi juga sudah dipasang selang infus. Bagaimana apakah Ibu setuju?"
"Apapun itu kami akan tetap setuju Sus, jika itu menyangkut keselamatan anak saya."
"Baiklah kalau Ibu setuju tanda tangani berkas persetujuan ini. Setelah menyetujui hal ini diharapkan tidak ada tuntutan terhadap rumah sakit sebab kemungkinan apapun bisa terjadi. Namun, Ibu jangan khawatir kami semua akan berusaha keras untuk menyembuhkan anak Ibu." Suster tersebut menyerahkan berkas dan pulpen ke hadapan Mikhayla.
"Oh ya selama dirawat disini Ibu tidak diperkenankan menunggui. Ibu boleh datang menjenguk saat melihat tidak ada dokter yang bertugas memeriksa di ruangan ini. Jangan lupa untuk menggunakan pakaian khusus yang disediakan kami untuk memastikan tempat ini steril ketika Ibu mau membesuk putri Ibu. Satu lagi, ibu harus mengirimi bayi Ibu dengan ASI sebab kalau tidak kami akan memberi susu formula."
"Iya Sus," ucap Mikhayla setuju dengan persyaratan yang disampaikan oleh dokter apalagi kelas rumah sakit yang dipilih bukannya kelas satu yang punya kamar khusus melainkan satu kamar berisi banyak pasien.
Setelah menandatangani surat itu Mikhayla disuruh mengurus administrasi ke bagian administrasi rumah sakit. Wanita itu tidak langsung ke bagian administrasi, tetapi lebih dulu melihat bayinya yang dipasangi beberapa selang dan diletakkan ke dalam box bayi bening seperti inkubator.
Mikhayla menatap wajah Cantika dengan berderai air mata.
"Yang kuat ya Nak dan jangan tinggalkan mami sendiri."
Wanita itu lalu beralih menatap lengan Cantika yang sudah dipasangi gelang nama.
"Mami pergi dulu, nanti mami kembali lagi."
"Kin kamu disini dulu ya, aku mau urus sesuatu dulu!"
Kinar mengangguk.
Mikhayla berjalan keluar dari ruang ICU anak menuju ruang administrasi sedangkan Kinar masih belum keluar dari ruangan itu. Tampak suster memberikan baju yang tadi dipakai oleh Cantika ke tangannya.
Mikhayla tertegun di depan meja resepsionis saat dirinya dimintai KK dan akte kelahiran Cantika.
"Hai Mik, kenapa sedih siapa yang sakit?" Seorang pria menepuk bahu Mikhayla.
Mikhayla menoleh dan terkejut mendapati siapa orang yang berdiri di hadapannya kini.
"Kak Reynold, apa kabar?"
"Baik. Kamu sendiri kenapa sedih?"
Mikhayla menggeleng.
"Ayolah cerita sama Kakak! Kakak tahu kamu sekarang ada masalah. Sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan sama kakak?"
Mikhayla menggeleng.
"Okelah kalau itu masalah privasi."
Mikhayla mengangguk.
"Mik, ini pakaian Cantika. Saya bawa pulang ya sebab sudah ditelepon sama teman-teman disuruh secepatnya pulang. Katanya ada pelanggan yang ingin menghandle pesanannya dan ingin bertemu denganku langsung."
"Baiklah Kin, pergilah!"
"Kamu tidak apa-apa kan sendirian? Atau aku minta saja Bang Jo, untuk menemanimu di sini?"
__ADS_1
"Tidak usah Kinar biar aku sendiri saja. Ajak Bang Johan kembali ke toko sebab masih banyak pesanan yang harus diantar dengan mobil."
"Yakin nggak apa-apa kamu kita tinggal sendirian?"
"Tidak apa-apa, aku yang akan menjaganya."
Kinar menoleh ke arah Reynold dan menatap pria itu penasaran, tetapi akhirnya mengangguk juga. "Aku titip temanku."
"Mik, aku pergi dulu ya, semoga putri kecilmu segera pulih," ucap Kinar sambil berlalu pergi.
"Putri kecil? Kau sudah menikah?" Reynold terbelalak tak percaya. "Kenapa tidak mengundangku?! Kau tega sekali."
Mikhayla menggeleng. Wajahnya terlihat sendu.
"Ayo duduk sini katakan apa yang terjadi!" Reynold menyeret Mikhayla dan membawanya duduk di sebuah kursi.
"Belum mau cerita juga?" Reynold tidak mengerti mengapa Mikhayla yang dulu sudah berubah sekarang. Mikhayla yang ceria dan sering mengadu padanya tentang apapun dulu sekarang berubah menjadi sendu dan tertutup.
"Ya sudah deh kalau tidak mau bercerita. Bagaimana kabar Mailena dan Bima?"
"Aku tidak tahu."
"Mik, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kabar mereka kamu tidak tahu? Kamu masih tinggal di rumah, kan?" desak Reynold.
"Sayangnya tidak lagi Kak, aku sudah hampir satu tahun keluar dari rumah. Mungkin saja Kak Bima sudah menikah dengan Kak Mailena dan sudah menunggu momen kelahiran buah hatinya."
Mikhayla meneteskan air mata. Entah mengapa saat mengingat nama pria itu hatinya melow. Apalagi saat di rumah sakit beberapa waktu lalu dia melihat Mailena mengusap-usap perutnya. Mikhayla membayangkan bayi dalam perut Mailena pasti mendapatkan banyak kasih sayang termasuk dari ayahnya sendiri, berbeda dengan Cantika yang hanya mendapatkan kasih sayang dari dirinya saja.
"Bima menikah dengan Mailena?" tanya Reynold tak percaya. Yang dia tahu diantara mereka tidak ada hubungan apapun kecuali hanya teman meskipun Reynold tahu Mailena memang mencintai Bima. Namun, dia juga tahu Bima tidak mencintai gadis itu.
Mikhayla mengangguk sedangkan air matanya sudah membasahi pipi.
"Kamu masih mencintainya? Kupikir cintamu padanya hanya cinta monyet saja."
Mikhayla mengusap pipinya yang basah. "Aku tidak mencintainya lagi Kak. Pria penghianat seperti dia tidak pantas dicintai. Setelah mengatakan cinta kepadaku dan berhasil merenggut kesucianku, dia mengatakan cinta pada Kak Mailena dan melamarnya."
Segera Mikhayla menutup mulut saat menyadari dirinya keceplosan dan malah membuka aibnya sendiri. Memang sejak kecil Mikhayla sangat dekat dengan Reynold seperti kakak dan adik sebab kedua orang tuanya juga bersahabat dan Reynold sering datang ke rumah orang tua Mikhayla dan menjadi teman bermain dan belajar Mikhayla.
"Apa? Jadi Cantika yang disebutkan tadi adalah putri Kamu dengan Bima?"
Terpaksa Mikhayla mengangguk sebab Reynold sudah tahu semuanya.
Mikhayla mengangguk.
"Kumohon Kak jangan katakan padanya bahwa Cantika adalah anak Kak Bima. Aku ingin mereka tahu bahwa anakku dengan Kak Bima sudah tiada."
"Kalau itu serahkan padaku, biar aku mengurus segalanya. Aku tidak akan membiarkan Bima mendapatkan kembali bayi yang disia-siakannya."
"Terima kasih Kak."
"Sekarang bawa aku menemui putrimu."
Mikhayla mengangguk dan membawa Reynold ke dalam ruang ICU anak atau lebih tepatnya disebut ruangan NICU.
"Apa yang terjadi?" Mikhayla khawatir melihat para suster panik di dalam sana.
"Ada pasien yang meninggal dunia."
Deg. Entah mengapa Mikhayla merasa tidak enak. Dia langsung menelusup masuk ke dalam menyaksikan pasien yang dikerumuni ada di ruangan yang sama dengan putrinya.
"Ya Tuhan, kumohon jangan ambil Cantika dari hidupku."
***
5 Tahun Kemudian.
"Mami!" Seorang anak kecil berteriak sambil berlari ke arah ibunya yang sedang menjemput di depan sekolah TK.
"Jangan lari-larian sayang!" teriak Mikhayla sambil turun dari motor matic dan merentangkan tangan agar si kecil masuk ke dalam pelukannya.
"Mami tadi Cantika dapat bintang 4."
"Oh ya?" Mikhayla tersenyum bahagia.
Anak tersebut mengangguk sambil tersenyum menggemaskan. Mikhayla yang tidak tahan langsung mencubit pipi tembem putrinya. "Anak siapa dulu?"
"Anak Mami Mika," gadis kecil itu tersenyum menunjukan gigi kelincinya yang lucu.
"Tadi Cantika sudah bisa mengeja bacaan dengan lancar. Kata Bu guru Mika pintar."
"Emang anak mami anak pintar." Mikhayla menggendong tubuh Cantika dan mendudukkan di atas motor.
__ADS_1
"Aku mau berdiri di depan aja Mam."
"Oke baiklah."
Mereka berdua pun pulang ke toko.
"Mik, Pak Iwan meninggal dunia."
Kedatangan mereka berdua disambut dengan berita duka. Mikhayla syok sebab tidak mendengar kabar Pak Iwan sakit dan tiba-tiba malah mendengar kabar kematiannya.
"Kenapa Tuhan memanggil beliau secepat ini? Beliau sangat baik padaku." Mikhayla merasa sangat kehilangan.
"Mungkin Tuhan lebih sayang pada beliau. Teman-teman sudah berbelasungkawa ke rumah keluarga dan aku menunggumu untuk pergi ke sana."
"Baiklah Kin, kita segera ke sana."
"Iya Mik aku akan mengunci pintu toko dulu."
Mikhayla mengangguk dan setelah Kinar mengunci pintu, ketiganya langsung berangkat ke rumah Pak Iwan.
Setelah acara penguburan Pak Iwan istri dari almarhum langsung memanggil seluruh karyawannya untuk mendiskusikannya sesuatu.
"Maaf ya anak-anakku. Kalian tahu sendiri kan bagaimana kondisi perekonomian ibu setelah ditinggalkan oleh suami. Pak Iwan pergi meninggalkan hutang di Bank jadi untuk bulan ini saya minta modal yang ada di toko jangan diputar lagi ya. Ibu akan ambil untuk bayar setoran Bank yang sudah jatuh tempo."
"Berapa juta Bu?"
"40 juta. Kalau tidak membayar ibu takut ruko itu akan disita."
"Ibu kan bisa minta penangguhan?"
"Ibu tidak mau lagi berurusan dengan Bank."
"Baik Bu, sepertinya tidak masalah kalau hanya 40 juta insyaAllah toko masih bisa beroperasi," ujar Mikhayla sebagai penanggung jawab toko.
"Mik kamu yakin?" Kinar terlihat ragu.
"Yakin asal Bu Iwan tidak meminta uang modal lagi."
"Tidak Nak, saya tidak akan mengurangi modal lagi."
"Baik Bu, nanti Ibu bisa ambil uangnya di toko langsung."
"Baik Nak, terima kasih ya, semuanya."
"Sama-sama Bu." Semua karyawan pun pamit kembali ke toko.
Setelah kematian Pak Iwan pengelolaan toko digantikan sang anak yang bernama Anton. Sayangnya Anton sama sekali tidak perduli dengan keadaan toko. Pria itu selalu datang ke toko dan mengambil paksa uang hasil penjualan toko tersebut untuk digunakan berjudi dan mabuk-mabukan.
Saat datang ke toko Anton selalu dalam keadaan mabuk dan mengamuk jika tidak dituruti keinginannya. Pria itu sama sekali tidak mau memikirkan nasib toko ke depannya akan seperti apa.
"Kinar bagaimana ini toko sudah dalam keadaan bangkrut."
"Ya sudah Mik, kita kembalikan saja kepada Bu Iwan dan kita pergi dari tempat ini dan mencari pekerjaan lain."
"Tapi aku sayang sama toko ini. Selain aku sudah nyaman tinggal di sini, toko ini juga prospektif bagus."
Semua karyawan yang mendengar perkataan Mikhayla mengangguk.
"Ya mau bagaimana lagi Mik, Bu Iwan juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Kinar putus asa.
"Andai saja ada yang mau meminjamkan modal pada kita. Kalau ada barang jaminan mungkin aku sudah meminjam dari Bank. Saya yakin dalam waktu cepat akan balik modal." Mikhayla sangat menyayangkan jika toko bunga itu harus ditutup.
"Bagaimana kalau kita pinjam uang pada temanku saja, usul Kinar."
"Memang ada?"
"Ada sih kapan hari dia nawarin aku kalau aku mau buka usaha sendiri."
"Boleh tuh Kin dicoba. Kalau memang ada modal kalian semua mau kan bekerja sama? Untuk satu bulan mungkin kami tidak membayar kalian dulu. Nanti gaji kalian akan dirapel di bulan kedua."
Semua teman-temannya saling pandang lalu mengangguk. Bagi mereka tak mengapa jika hanya satu bulan saja gajinya dihutangi. Namun, jika sampai dua bulan mereka akan memilih pergi dan mencari pekerjaan lain.
"Baiklah kalau begitu ayo kita langsung ke rumah temanku," ajak Kinar.
Mereka berdua langsung menuju rumah teman Kinar, setelah dari sana Mikhayla dan Kinar langsung menemui Bu Iwan untuk membicarakan keinginan keduanya menyewa ruko tempatnya bernaung itu untuk melanjutkan usaha toko bunga.
Bu Iwan tidak keberatan, bahkan senang jika Mikhayla dan Kinar mengambil alih toko tersebut sebab memang sayang jika ditutup. Apalagi dengan menyewakan kepada keduanya, Bu Iwan akan mendapatkan uang sewa setiap tahunnya. Lumayan daripada membiarkan tempat itu kosong dan tidak menghasilkan apa-apa. Dengan menyewakan pada Mikhayla dan Kinar kedua pihak sama-sama diuntungkan, dan yang pasti Mikhayla tidak akan meninggalkan Cantika sendirian di rumah jika bekerja dan ngekos di tempat yang berbeda.
Bersambung.
Menurut kalian ceritaku ini bagaimana alurnya teman-teman. Tolong koreksinya ya. 🙏
__ADS_1