Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 52. Masa Lalu


__ADS_3

"Apa maksudmu Fera!" bentak Tian, dia tidak mau dipermainkan oleh istrinya sendiri.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Beberapa orang suster dan dokter masuk ke dalam ruang rawat Cantika.


"Sebaiknya kalau ada masalah selesaikan di luar saja! Suara kalian tidak hanya menganggu pasien di kamar ini saja, tetapi juga pasien di kamar lainnya," himbau dokter.


"Iya maaf Dok, kami janji tidak akan bersuara keras lagi," sahut Fera.


"Baiklah kalau begitu, tapi kalau kami masih mendengar suara ribut-ribut dari dalam maka jangan salahkan kami kalau memanggil pak satpam dan mengusir kalian keluar dari rumah sakit ini."


"Baik Dok."


"Di kamar sebelah sedang berdua, putra mereka meninggal dunia setelah dilakukan operasi, jadi mohon pengertiannya," ucap seorang suster dengan suara lirih.


"Baik Sus," jawab Tian.


"Jelaskan Fera!" perintah Tian kemudian dengan suara yang sudah merendah sesaat setelah suster dan dokter keluar dari ruangan itu.


Fera menarik nafas panjang sebelum menceritakan. Rasanya sangat berat dan sesak seperti menghimpit ribuan beban.


"Duduk dulu Pa!"


Tian mengangguk. Setelah menghela nafas dia duduk.

__ADS_1


"Huffft. Tiga tahun kita dijodohkan oleh orang tua dan selama itu papa tidak pernah bisa membalas cintaku." Fera menjeda ucapannya sebentar. Rasa sesak mendera saat harus mengingat masa lalunya lagi. Masa lalu yang ingin dikuburnya jauh-jauh.


"Mama bukannya tidak tahu bahwa papa saat itu menjalin hubungan dengan Rani di belakangku. Mama sudah meminta kepada kedua orang tuaku untuk membatalkan perjodohan itu saja karena mama tahu hubungan itu tidak bisa diteruskan, tidak akan ada kebahagiaan jika hanya ada cinta sepihak dalam sebuah hubungan. Namun, kedua orang tuaku tetep memaksaku agar terus mempertahankan hubungan itu apalagi kedua orang tua kita sudah sepakat menikahkan kita secepatnya."


"Ya kamu benar, waktu itu aku memang masih mencintai orang lain," timpal Tian dan hal itu masih membuat hati Fera sakit.


"Sebenarnya malam itu mama sudah berniat untuk kabur dari rumah, tapi malam itu juga kau datang dan mengatakan bahwa kau tulus mau menikahiku."


"Aku yang memang sangat mencintaimu saat itu tentu saja bahagia karena cintaku terbalaskan hingga akhirnya kita menikah, kau benar-benar menunjukkan bahwa kau memang sudah mencintaiku dengan sikapmu yang begitu perhatian.


Namun, aku tidak pernah menyangka, tepat satu bulan setelah pesta pernikahan kita, Rani datang membawa bayi yang masih merah di tangannya. Dia memberikan bayi itu kepadaku dan memintaku untuk menyerahkan padamu. Dia mengatakan bahwa bayi itu adalah buah cinta kalian, hasil perbuatanmu dengannya." Fera menunduk dan meneteskan air mata. Sesaat kemudian wanita itu terisak.


"Papa tahu? Waktu itu mama sangat kecewa, kecewa sekali sama papa. Kalau mama tidak ingat dosa mungkin mama sudah melakukan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan kenyataan yang ada."


"Namun, mama egois. Mama tidak mau papa kembali pada Rani karena menclaim papa adalah milik mama dan bayi yang ada dalam tangan mama waktu itupun tidak mama berikan pada papa sesuai keinginan Rani karena takut dengan anak itu papa akan selalu mengingat wajah Rani. Mama berinisiatif untuk membuangnya. Namun, ketika bayi itu mama letakkan di tempat manapun, bayi itu selalu menangis seolah tidak ingin berpisah dengan mama."


"Minum Ma." Tian menyodorkan satu botol air mineral ke tangan Fera. Dia tahu Fera sangat tersiksa ketika menceritakan itu semua.


Fera pun meraih dan meneguknya.


"Karena bingung harus apa akhirnya mama memutuskan menemui Susi untuk meminta pendapatnya. Malam yang gelap itu akhirnya mama memutuskan untuk pergi ke rumah Susi dengan menaiki taksi, kebetulan waktu itu papa sedang bekerja ke luar kota jadi mama bebas pulang, pergi kapan saja.


Sampai di depan rumah Susi Mama berubah pikiran. Mama takut kalau meminta pendapat dia, dia akan menceritakan kepada suaminya yang otomatis suaminya juga akan langsung menceritakan pada papa.

__ADS_1


Saat itu mata mama terfokus pada tempat sampah yang sudah dalam keadaan kosong sehingga langsung terlintas di pikiran mama untuk menaruh bayi itu di dalam sana.


Dengan tangan gemetar mama meletakkan bayi itu. Setelahnya mama cepat-cepat pergi dari rumah Susi. Namun, mama masih mengawasi dari jarak jauh agar tahu anak itu jatuh ke tangan siapa sebab waktu itu para tetangga bebas keluar masuk pekarangan Susi karena tidak ada pagarnya.


Bayi mungil itu menangis kencang ketika saya meninggalkan dirinya di kolong sampah membuat hati kecil Mama meringis karena merasa sudah melakukan kejahatan kepada bayi yang tidak berdosa. Namun, apa boleh buat itu adalah cara satu-satunya untuk menyelamatkan rumah tangga kita yang sudah terlanjur terjalin.


Begitu lama bayi itu menangis sampai tangisan itu terdengar di telinga Susi dan Pak Fakih sehingga mereka berdua langsung mencari sumber suara tangisan itu dan mereka langsung menemukan bayi dalam tempat sampah dan mengangkatnya sebagai anak mereka.


Antara tersenyum dan meneteskan air mata malam itu Mama kembali ke rumah.


Malam itu juga Susi menelpon mama, tapi mama tidak mengangkat teleponnya karena mama tahu dia hanya akan mengabarkan bahwa menemukan bayi di depan rumahnya. Benar saja keesokan harinya Pak Faqih dan Susi langsung mengumumkan penemuan bayi di depan rumahnya yang dia beri nama Mikhayla."


Tian menghembuskan nafas kasar. "Jadi Mikhayla adalah putriku?" tanya Tian sambil memandang ke arah Mikaila.


Namun, Mikhayla memalingkan muka dan pura-pura tidak mendengar semua yang sudah diceritakan oleh Fera.


"Ya dia memang putrimu. Jadi sebelum Papa menilai orang lain lebih baik papa nilai diri sendiri. Kenapa Mikhayla harus tergoda oleh rayuan Bima dan sampai menyerahkan kesuciannya? Anggap itu sebagai balasan karena papa juga melakukannya dengan Rani dan tidak mau bertanggung jawab sampai dia melahirkan. Oh ya, ini alamat Rani saat ini, jika papa masih mencintainya kejarlah dia. Ini saatnya kita akhiri pernikahan kita." Setelah menyerahkan kertas bertuliskan alamat Rani di kampung Fera langsung bangkit dari duduknya dan melangkah keluar ruangan.


"Ma!" panggil Tian. Namun, Fera tidak mengindahkan.


Ini saatnya berjalan ke depan tanpa bayang-bayang masa lalu lagi. Biarkan semua kembali sebagaimana mestinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2