Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 27. Buku Harian Mailena


__ADS_3

"Selamat pagi menjelang siang Pak!" sapa Bima sambil turun dari mobil dan berjalan ke arah pos satpam.


"Mas ini ...." Satpam menunjuk ke arah Bima sambil mengingat-ingat.


"Bima Pak, yang tempo dulu pernah datang ke rumah ini," potong Bima akan perkataan pak satpam.


Sudah ada janji dengan Pak ...."


"Belum Pak, saya kesini ingin bertemu beliau dan ingin meminta izin untuk masuk kamar mantan istri saya," jelas Bima membuat hati Mikhayla serasa teriris sembilu mendengar Bima mengatakan Mailena istri meskipun di depan kata istri sudah ada kata mantan.


"Oh, kalau begitu Mas Bima tunggu di sini dulu ya, biar saya panggilkan Tuan dulu!"


"Baik Pak."


Pak satpam pun masuk ke dalam dan melapor pada majikannya.


"Duduk di sini dulu Mik!" Bima menepuk kursi plastik yang ada di sampingnya.


"Biar saya tunggu di sini saja Kak." Mikhayla memilih berdiri sambil bersandar pada bagian samping mobil Bima.


Tidak menunggu lama pemilik rumah langsung berjalan menghampiri Bima di pos satpam.


"Kamu Bim? Ayo masuk!"


"Terima kasih Om."


"Kangen ya sama almarhumah istri kamu?" tanya pria itu sambil merangkul bahu Bima.


Deg.


Perasaan Mikhayla menjadi tidak nyaman.


"Jadi benar Kak Mailena sudah tiada? Mengapa tidak ada yang mengabariku?" gumam Mikhayla. Wanita itu terdiam di tempat sedangkan Bima sudah melangkah jauh ke depan.


"Tunggu Om!" Bima menoleh ke belakang dan tidak menemukan Mikhayla di belakangnya. Bima langsung mengedarkan pandangannya ke arah pintu pagar.


"Ya ampun Mika!"


"Siapa?" tanya pria pemilik rumah sambil melepaskan rangkulannya.


"Itu Omโ€“"


"Mik sini!" Bima melambaikan tangan ke arah Mikhayla.


"Siapa kamu? Kekasih ya? Oh jadi kamu ke sini mau melihat kamar mantan istri kamu sebelum akhirnya menikah lagi." Pria itu menepuk bahu Bima.


"Dia cinta pertama saya Om, dan dia adalah adik almarhumah istri saya."

__ADS_1


Pria pemilik rumah itu hanya bisa mengernyit sambil menggaruk kepalanya.


"Kalau mencintai adiknya kenapa malah menikahi kakaknya? Aneh nih putra Tian." Pria itu berkata dalam hati.


Melihat lambaian tangan Bima, Mikhayla tersadar dari lamunannya dan akhirnya berlari ke arah Bima yang berjalan kembali ke arahnya.


"Loh bukankah dia yang pernah datang kemari?" Pria itu tampak kaget.


"Iya Pak saya pernah datang kemari dan menanyakan keberadaan keluarga saya, tapi waktu itu bapak mengatakan tidak tahu mereka kemana." Mikhayla berkata sambil melemparkan senyum ramah.


"Iya benar, saya memang tidak tahu kemana pemilik rumah ini pindah dan saya juga lupa kalau pemilik rumah ini adalah mertua Bima, jadi mohon maaf tidak bisa memberitahumu waktu itu."


"Tidak apa-apa Pak, waktu itu pun Kak Bima sedang terbaring di rumah sakit dan tidak mungkin juga bisa bapak telepon."


Pria itu hanya mengangguk.


"Ayo, ayo masuk!"


Mikhayla mengangguk dan mengikuti kedua pria di hadapannya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Cantik dia, pantas saja kau tidak bisa move on. Jangan-jangan istrimu meninggal karena tahu kamu mencintai adiknya sendiri," bisik pria itu di telinga Bima.


Makjleb.


Perkataan pria itu langsung menusuk ke relung hati Bima. Apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Mungkin Mailena meninggal karena penyakitnya, tetapi yang mendorong itu semua adalah rahasia Bima dengan sang adik.


"Tidak usah Om kita langsung ke kamar saja."


"Baiklah, biar kita ngopinya nanti saja setelah urusan kalian beres."


Bima mengangguk sedangkan pria pemilik rumah itu hanya menunjukkan jari jempol ke arah Bima.


"Ayo Mik!" ajak Bima.


Mikhayla pun mengangguk dan langsung berjalan cepat menaiki tangga mendahului Bima. Rumah ini pernah menjadi tempat tinggalnya, jadi Mikhayla sudah pasti tahu dimana letak kamar Mailena.


Krak.


Pintu kamar dibuka oleh Mikhayla, masih menampakkan suasana seperti dulu. Ternyata baik Mailena maupun pemilik rumah saat ini tidak pernah mengotak-atik kamar tersebut.


Mikhayla tampak mengitari ruangan tersebut. Terbayang wajah sang kakak di pelupuk matanya.


"Kak, Mika kangen." Terbayang pula saat dirinya bermain boneka di kamar ini berdua dengan Mailena. Sang ibu datang dan memeluk keduanya lalu mengajak mereka berdua untuk turun dan makan.


"Ibu, aku juga kangen ibu." Mikhayla meneteskan air mata. Dulu Susi sangat menyayanginya. Meskipun Mikhayla hanya anak pungut, tetapi wanita itu tidak pernah membeda-bedakannya dengan Mailena, putrinya sendiri.


Melihat air mata menetes di pelupuk mata Mikhayla, Bima semakin bersalah. Maksud hati ingin membahagiakan Mailena di sisa-sisa hidupnya malah membuat wanita itu drop dan tentu saja secara tidak langsung dia membuat Mikhayla kecewa dan terluka untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Buku harianku." Di atas meja rias bertumpuk 2 buku harian. Yang paling atas adalah buku harian Mikhayla sendiri dan yang berada di bawahnya adalah buku harian Mailena.


Mikhayla meraih buku hariannya sendiri yang berwarna biru muda dan membuka secara perlahan.


Saat dia membaca, dia kaget sendiri sebab di sana, di halaman terakhir dia menulis kalimat penyesalan dan harapannya agar Bima benar-benar menepati janjinya setelah dirinya tidur dengan Bima. Mikhayla juga menuliskan bahwa Bima adalah cinta pertama dan terakhir untuknya.


"Apa jangan-janganโ€“"


Segera Mikhayla mengambil buku harian Mailena.


[Dek, kenapa kamu tidak bercerita pada kakak jika kau juga mencintai Bima?


Seandainya kau menceritakan semua itu maka kakak akan mengalah padamu. Umur kakak tidak akan lama lagi, dokter memprediksi hanya satu tahun saja kakak bisa bertahan dan paling lama dua tahun jika beruntung.


Apalah artinya kebahagiaan kakak yang hanya sesaat itu dibandingkan kebahagianmu? Apalagi kakak mendengar bahwa kamu hamil anak Bima walaupun semua orang menutupi semua itu.


Ternyata itulah alasanmu keluar dari rumah? Kau berbohong bahwa kau ingin belajar mandiri. Kamu tidak ingin aku tahu itu semua selain juga karena diusir ayah? Atau kau tidak ingin cemburu melihat aku dan Bima bersanding di pelaminan?


Ah, andai waktu bisa diputar kembali, aku pastikan tidak akan meminta permintaan terakhirku menikah dengan Bima pada ayah dan mengorbankan perasaan cinta kalian berdua.


Ya cinta. Seperti besarnya cintamu pada Bima, maka begitulah cinta Bima padamu. Hingga saat kami memadu kasih, dia selalu menyebut namamu di atas tubuhku. Aku benci Dek saat dia selalu menyebut namamu di saat tak tepat. Dari itu aku sadar Bima hanya mencintaimu, cintanya padaku hanya semu belaka. Hanya ingin membuatku bahagia walau nyatanya semakin membuatku menderita menahan sesak yang dia ciptakan tanpa sengaja.


Pulanglah adikku, Mika! Kembalilah bersama Bima. Aku kembalikan dia padamu, pemilik hati yang sebenarnya sebelum aku kembali pada sang pencinta.


Mailena, kakak yang selalu menyayangimu tanpa batas waktu.๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“ ].


Mikhayla menutup buku harian Mailena dengan bercucuran air mata. Sedih dan sesak menyeruak ke dalam hati.


"Maafkan aku, semua gara-gara aku. Itu tulisan terakhir yang ditulis oleh Mailena sebelum menghembuskan nafas terakhir di atas buku hariannya dan juga buku harianmu."


Mikhayla menggelengkan kepalanya.


"Kak Bima tega!"


"Maafkan aku."


"Kenapa setelah menyakiti Mika, kak Bima malah menyakiti Kak Mailena hah!" bentak Mikhayla.


"Aku tidak sadar Mik, aku keceplosan."


Mikhayla menggeleng lagi. "Kejam sekali! Apa susahnya menyenangkan kak Mailena? Aku tidak habis pikir dengan Kak Bima. Kak Bima suka mempermainkan hati wanita!"


"Maafkan aku Mik, tapi asal kau tahu, aku memang hanya mencintaimu. Aku tidak ingin menyentuh Mailena, tetapi dia selalu memintaku untuk menjalankan tanggung jawab sebagai seorang suami. Dia menagih nafkah batin, tapi aku tidak berselera dengan tubuhnya. Sebab tidak ingin dia marah dan sedih, aku melayaninya. Namun, aku membayangkan dirimu yang tidur denganku sebab kalau tidak seperti itu aku tidak bisa dan aku tidak sengaja menyebut namamu setiap kali melakukan hubungan suami istri dengan Mailena," terang Bima.


"Kau jahat, arrrgh!" Mikhayla mendorong tubuh Bima ke belakang dengan kuat hingga hampir membentur tembok.


Mikhayla langsung berlari ke lantai bawah sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2