
"Mik maafkan aku," gumamnya.
Bima lalu kembali ke sisi Mikhayla dan duduk di samping ranjang. Pria itu meraba dahi Mikhayla takut-takut Mikhayla tidak hanya sakit kepala melainkan demam.
"Aku tidak apa-apa Kak," ujar Mikhayla sambil meringis sambil menekan kepalanya.
"Sakit banget ya Mik?" tanya Bima khawatir. "Apa perlu aku bawa kamu ke dokter?"
"Tidak usah Kak nanti juga bakal sembuh sendiri," tolak Mikhayla.
"Setelah minum obat dan dibawa tidur biasanya akan sembuh. Nitip Cantika ya Kak!"
Bima mengangguk. Mikhayla mencoba untuk memejamkan mata. Denyut kepala yang terasa keras sekali membuatnya merasa tidak kuat dengan rasa sakit itu dan ingin segera tertidur agar tidak bisa merasakan rasa sakit itu lagi.
"Arggh!"
"Mik?"
"Sudah Kak aku nggak ingin bicara." Mikhayla mengangkat tangannya agar Bima tidak menyentuh dirinya lagi.
"Aku mau tidur."
Bima mengangguk dan membiarkan Mikhayla yang berusaha untuk terlelap.
"Beristirahatlah dan jangan memikirkan apapun. Urusan Cantika dan toko biar aku yang tangani."
"Terima kasih Kak," sahut Mikhayla dengan mata yang sudah tertutup.
Bima dan Cantika senantiasa menjaga Mikhayla sampai wanita itu benar-benar bisa terlelap.
"Kita keluar saja yuk biar tidak menganggu mami. Biarkan Mamimu istirahat!" ajaj Bima.
Cantika menaruh tas pada tempatnya lalu berjalan keluar kamar.
"Eh Cantika nggak ganti baju dulu?" tanya Bima melihat Cantika masih dengan pakaian seragamnya.
"Nggak usah Om. Nggak ada yang bisa bantu Cantika. Mami sudah tidur dan tante-tante yang biasanya bekerja di sini nggak ada," keluh gadis kecil itu.
"Mau Om Bima bantu?"
"Nggak ah, om Bima kan laki-laki, Cantika malu."
"Ya sudah kalau begitu kita nongkrong di depan dulu yuk! Siapa tahu ada yang mau beli bunga mami," ajak Bima.
"Ayo Om!"
Mereka berdua pun melangkah ke toko dan duduk di sana.
"Eh Cantika nggak mau makan biar Om pesan online?"
__ADS_1
"Nggak Cantika mau tunggu mami aja."
"Oke. Cantika tahu kemana para karyawan mami?" tanya Bima penasaran sebab toko yang bisanya ramai kini terlihat sudah sepi.
"Cantika juga nggak tahu Om, tadi pagi waktu Cantika masih mau berangkat sekolah ramai di sini, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Cantika juga bingung kemana Tante Agnes dan Tante Tutik pergi."
"Oh mungkin mereka sedang kulakukan sekarang," tebak Bima.
"Bisa jadi Om."
"Oh ya Cantika pernah lihat nggak muka papi Cantika?" tanya Bima kemudian. Gadis kecil itu menggeleng lemah.
"Kata mami papi sudah meninggal saat Cantika masih kecil." Wajah Cantika terlihat murung.
"Om Bima mau tanya, kalau misalnya papi Cantika masih hidup dan kembali ke sisi Cantika, apakah Cantika akan senang?"
"Tidak mungkin Om. Kata mami papi sudah ada di surga dan kata bu guru surga itu indah. Mana mungkin papi mau kembali ke sini?" Cantika memainkan bunga plastik yang ada di dekatnya.
"Kan Om tanya seumpama papi Cantika masih hidup apakah Cantika akan sayang sama dia?"
Cantika menggeleng.
"Loh kenapa?" tanya Bima heran.
"Kalau memang masih hidup berarti papi tega ninggalin Cantika sama mami selama ini," jawab Cantika polos.
"Apa Cantika tidak bisa memaafkan papi Cantika?" tanya Bima lagi.
"Cantika tahu siapa nama papi Cantika?" tanya Bima lebih lanjut.
"Papi Reynolds Sebastian," jawab anak itu cepat.
"Dan Cantika tahu wajahnya seperti apa?"
Cantika menggeleng. "Mami tidak menyimpan fotonya mungkin sebab tiap kali Cantika bertanya tentang papi, mami malah menangis."
Bima menghela nafas panjang. Kecurigaannya semakin menguat. Kalau memang Cantika Putri dari Reynols mana mungkin Mikhayla tidak mau menunjukkan foto Reynolds pada Cantika dan untuk apa menyembunyikan keberadaan Reynolds yang sebenarnya.
"Cantika tahu nggak dengan pria yang dikejar Om Bima di sekolahan Cantika tadi pagi?"
"Tidak tahu Om."
"Dia yang namanya Reynolds Sebastian," ujar Bima.
Sontak saja Cantika langsung terlihat kaget.
"Jadi maksud Om Bima papi memang masih hidup?"
Bima mengangguk.
__ADS_1
"Kau bisa tanyakan pada mami Mika kalau dia sudah sehat nanti. Kalau sekarang jangan dulu ya Cantik, mami masih belum sehat. Kalau disuruh berpikir takutnya mami malam tambah sakit," jelas Bima.
Cantika mengangguk ragu.
"Anak manis," ujar Bima sambil mengusap kepala Cantika.
"Tapi Om kalau memang papi masih hidup Cantika tidak mau papi bersama dengan mami lagi. Cantika mau Om Fergi saja ya menjadi papi Cantika."
Bima menelan ludah mendengar keputusan Cantika. Iya kalau Reynolds papi Cantika yang sebenarnya, kalau dirinya bagaimana? Berarti Cantika pun tidak menginginkan dirinya mendampingi sang mami.
Tiba-tiba terpikir oleh Bima untuk melakukan tes DNA. Dia tidak mau terus-menerus berperang dengan rasa penasarannya.
"Tapi bagaimana caranya untuk mendapatkan sampel dari Cantika tanpa anak itu tahu?"
"Cantika kalau di sekolah kukunya diperiksa tidak sama Bu guru?"
"Tiap hari Om."
"Coba lihat!"
Cantika pun menunjukkan jari-jari tangannya.
"Wah sudah bersih semua ya," ujar Bima sumringah padahal dalam hati kecewa sebab tidak bisa berpura-pura memotong kuku Cantika.
"Iya Om sebab tiap hari mami selalu memeriksa kuku Cantika."
"Wah mami Mika perhatian banget ya sama Cantika sampai kukunya diperiksa setiap hari."
"Mami Mika kan memang mami terbaik," ujar Cantika bangga.
Tidak hanya Cantika, Bima pun salut dengan kemampuan Mikhayla. Seorang wanita yang di usir dari rumah dalam keadaan hamil dan tidak membawa uang sepeserpun mampu membuktikan pada dunia bahwa dirinya bukan hanya saja mampu bertahan melainkan juga mencapai sukses.
"Cantika rambutnya panjang begini nggak mau dipotong?"
Cantika menggeleng. "Ini sudah dipotong sama mami."
"Dipotong oleh mami sendiri? Nggak ke salon?"
"Tidak, kata mami kalau bisa dilakukan sendiri kenapa harus merepotkan orang lain? Lebih hemat juga kata mami." Anak itu tersenyum manis.
Bima mengurungkan niatnya untuk meminta beberapa helai rambut Cantika sebab takut anak itu akan melapor pada Mikhayla mengingat daya ingat Cantika begitu kuat. Bima tidak mau Mikhayla akan semakin marah padanya.
"Lain kali saja aku curi rambutnya saat tidur," batin Bima. Beberapa hari ini dia berniat ingin menemani Cantika sebab Mikhayla tidak mungkin ingkar janji pada putrinya itu untuk mengizinkan Cantika pergi bersama Bima.
Aku harus pandai mencuri-curi waktu agar rasa penasaranku cepat terjawab. Mengapa aku berpikir ada yang ganjal dan Cantika memang putriku. Namun, kalau memang demikian apa gunanya bagi Mikhayla menyembunyikan status Cantika padaku?
"Om itu Tante Agnes datang!" seruan Cantika langsung membuyarkan lamunan Bima.
"Oh ya kalau begitu kamu ganti baju ya sama Tante Agnes! Memang seragam ini besok nggak dipakai lagi?"
__ADS_1
"Besok masih pakai ini Om."
Bersambung.