
"Atau jangan-jangan Cantika memang anak–" Bima langsung menutup mulutnya sendiri.
"Om Bima ngomong apa? Cantika anak siapa? Dan orang yang dikejar Om Bima tadi siapa?" tanya Cantika penasaran. Gadis itu akan cerewet kalau penasaran dengan sesuatu.
"Ah nggak Om Bima salah ngomong. Yuk aku antar pulang!"
Cantika mengangguk.
"Sini Om Bima gendong." Bima pun menggendong tubuh Cantika sampai mobil dan mendudukkan gadis kecil itu di samping kemudi. Setelah itu Bima memutar langkah melalui depan mobil dan masuk ke kursi kemudi.
"Cantika mau langsung pulang ke rumah apa mau Om Bima ajak jalan-jalan dulu? Nanti Om Bima belikan es krim dan boneka, mau?"
Cantika menggeleng. "Aku tidak ingin mami mencariku karena telat pulang," tolaknya.
Bima menghela nafas. "Baiklah kita langsung pulang saja." Bima pun langsung menyetir mobilnya menuju ruko tempat Mikhayla dan Cantika tinggal.
"Sudah sampai, ayo tu–!"
Sebelum Bima menyelesaikan kalimatnya Cantika lebih dulu turun dari mobil.
"Mami, Mami, Mami! Cantika heboh dan berlari ke arah Mikhayla yang sedang merangkai bunga.
"Kamu sudah datang Sayang?" Mikhayla mengalihkan perhatiannya dari bunga plastik ke wajah Cantika yang terlihat begitu sumringah.
"Cantika dapat cokelat Mami." Cantika mengulurkan tiga batang cokelat ke hadapan Mikhayla.
"Ada boneka juga."
Mikhayla mengangguk dengan bibir yang tersenyum.
"Makan saja, Cantika suka cokelat kan?" Mikhayla mencubit pipi tembem putrinya.
"Emang boleh? Ini Cantika dikasih om-om yang tidak Mikhayla kenal. Nanti ada racunnya lagi." Mikhayla menggeleng kecil, ketakutannya selama ini akan kehilangan sang anak bukan hanya membuat dirinya yang parno, tetapi Cantika juga.
"Nggak akan, itu aman kok. Dia itu teman mami," jelas Mikhayla membuat Cantika langsung antusias.
"Berarti Om itu tidak bohong dong. Om itu bilang memang teman mami."
Mikhayla mengangguk. Dia pikir yang diceritakan oleh Cantika adalah Reynolds.
__ADS_1
"Sini biar mami buku bungkus cokelatnya!" Mikhayla membuka bungkus cokelat dan menyuapkan ke mulut Cantika.
"Enak?"
"Enak mami, yang satu ini buat mami." Cantika mengulurkan satu batang cokelat kepada Mikhayla.
"Nggak usah sayang, buat Cantika saja."
"Kan masih ada satu. Yang ini mami yang makan saja ya!" Cantika seolah mendesak Mikhayla, segera wanita itupun mengangguk dan memakan satu batang cokelat.
"Enak kan mami?"
Mikhayla mengangguk.
"Kalau Om itu tenan mami, lain kali Cantika boleh ya jalan-jalan dengan Om itu sehabis pulang sekolah?"
"Boleh saja asal pamit pada mami."
"Mami janji?"
"Iya, janji."
"Iya Mama janji."
Cantika menyodorkan jari telunjuknya untuk ditautkan dengan jari telunjuk Mikhayla seperti yang dia lihat di film kartun saat berjanji.
"Terima kasih mami." Cantika langsung mencium pipi Mikhayla membuat maminya itu mencium balik pipi Cantika.
"Sama-sama Sayang."
"Oh ya Om Reynolds mana?"
"Reynold sudah pergi." Bima yang menjawab dan baru menampakkan diri di depan Mikhayla setelah sebelumnya sempat bersembunyi di balik dinding toko.
"Kamu?"
"Dia Om yang aku ceritakan mami," jelas Cantika.
Mikhayla langsung memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut kencang karena syok.
__ADS_1
"Jelaskan kenapa kamu membohongiku?!" desak Bima. Dia harus mendapatkan penjelasan saat ini juga.
"Aku juga tidak tahu." Mikhayla tidak bisa berpikir saat ini.
"Mik tolonglah jujur padaku. Benarkah Cantika itu anak Reynolds ataukah putriku? Kalau iya kenapa kamu menyembunyikan keberadaan Reynolds?"
"Kak Bima tolong jangan tanyakan itu sekarang. Kepalaku sakit sekali."
Bima menghela nafas.
"Om bantu mami masuk ke dalam," pinta Cantika.
Bima pun mengangguk dan membantu Mikhayla masuk ke dalam kamar.
"Aargh sakit!" Mikhayla menekan kepalanya dengan keras saat sudah meringkuk di atas ranjang.
"Tolong ambilkan obat yang ada di dalam laci!"
Bima pun berjalan ke arah laci dan mengambil obat serta menuangkan air putih ke dalam gelas lalu menaruh di atas meja samping ranjang.
"Ayo aku bantu duduk!"
Mikhayla yang sudah tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi karena semua karyawannya tidak ada di toko akhirnya menerima setiap bantuan dari Bima.
Setelah membantu Mikhayla duduk barulah Bima membantu Mikhayla minum obat. Kemudahan membantu membaringkan Mikhayla lagi.
Cantika duduk di samping Mikhayla dengan raut wajah yang sedih.
"Dia usah khawatir mami akan baik-baik saja," ujar Bima menghibur Cantika.
Cantika hanya mengangguk dan tidak bersuara. Bisa dilihat dari wajah Cantika bahwa gadis kecil itu sangat ketakutan akan kehilanganmu maminya.
Bima melangkah ke arah laci berniat untuk mengembalikan sisa obat karena tadi langsung mengambil satu kaplet.
Pria itu tertegun melihat sebuah catatan dokter di dalam laci itu.
Mikhayla sakit-sakitan karena mendonorkan darahnya untukku? Ya Tuhan ternyata dia masih sayang padaku sehingga berkorban sejauh ini.
"Mik maafkan aku," gumamnya.
__ADS_1
Bersambung