
"Pasien butuh darah B dan kebetulan saat ini stok di rumah sakit ini habis, jadi kami harus mencarinya di tempat lain. Stok darah O sebagai golongan darah universal pun kosong saat ini."
"Ambil darah saya Sus." Mikhayla langsung mengambil keputusan.
"Mbak yakin?" Suster menatap Mikhayla serius.
"Sangat yakin."
"Baiklah kita lakukan pemeriksaan dulu sebelum mengambil darah Mbak."
Mikhayla mengangguk.
"Ayo mari ikut saya!" Suster berjalan cepat menuju sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut sudah ada dokter yang bertugas.
Suster mempersilahkan Mikhayla masuk ke dalam dan memberitahukan kepada dokter bahwa Mikhayla siap untuk mendonorkan dan suster ingin dokter memeriksa kecocokannya dulu.
"Dokter Mbak ini katanya mau mendonorkan darah untuk pasien yang baru masuk. Katanya sih golongan darahnya juga B."
"Baik Sus."
"Mari mendekat!"
Mikhayla mengangguk dan berjalan ke arah dokter sedangkan suster tampak mempersiapkan formulir.
Dokter menatap wajah Mikhayla terlebih dahulu sebelum memeriksa, membuat Mikhayla merasa risih.
"Maaf saya hanya ingin memastikan Anda dalam keadaan sehat-sehat saja." Dokter tampaknya mengerti dengan rasa ketidaknyamanan Mikhayla.
"Tidak apa-apa Dok."
"Anda tidak pusing? Saya lihat muka Anda pucat. Saya tidak mau setelah anda diambil darahnya akan membuat Anda sakit sendiri."
"Tidak Dokter saya sehat. Wajah saya pucat karena khawatir dengan keadaan Kak Bima bukan karena kurang darah."
"Oh baiklah kalau begitu. Mari kita cek kesehatan dulu, tapi ada baiknya isi formulirnya dulu!"
Suster pun menyodorkan formulir ke hadapan Mikhayla. Wanita itu segera meraih kertas dan pulpen yang disodorkan dan mengisinya dengan cepat. Bagi Mikhayla saat ini satu menit pun sangat berarti sebab terlambat sedikit saja nyawa Bima bisa melayang.
Kemudian dokter pun mengecek tekanan darah, kadar hemoglobin, suhu tubuh, dan mengukur nadi Mikhayla.
"Bagaimana Dok?" tanya Mikhayla ketir. Semoga saja dokter tidak tahu kalau dirinya sedang menstruasi sekarang. Bisa-bisa donor darah tidak bisa dilakukan karena dokter lebih mengkhawatirkan dirinya dibandingkan Bima.
"Bagus semuanya. Sus ayo kita cek golongan darahnya siapa tahu bukan B." Dokter tidak mau mengambil resiko jikalau golongan darah Mikhayla ternyata tidak sama sebab bukannya membuat pasien sembuh malah takutnya dapat memicu reaksi sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan gejala seperti demam, mual, hingga sesak napas pada pasien. Dokter juga harus mengantisipasi siapa tahu wanita yang ada di depannya ini bukan mau membantu, tetapi malah ingin membuat pasien semakin parah.
"Saya rasa tidak perlu Dok, Saya yakin golongan darah saya memang B dan sudah diperiksa dulu. Kalau masih diperiksa lagi ini akan memperlambat pengambilan darah dan juga transfusi darah pada pasien sedangkan pasien sendiri sekarang dalam keadaan kritis. Apakah dokter mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Kak Bima?"
__ADS_1
"Anda memang keluarganya? Bisa menunjukkan tanda bukti?"
Mikhayla menggeleng.
"Kalau begitu ikuti prosedur rumah sakit!" Dokter tersebut berubah galak.
Ingin rasanya Mikhayla mengutuk dokter tersebut menjadi kodok dan melemparnya ke tengah sawah. Mikhayla geram dan khawatir secara bersamaan.
"Baiklah," ucapnya pasrah.
"Tapi jangan lama-lama kalau tidak, apabila terjadi sesuatu pada pasien dokter dan suster akan saya tuntut."
"Baik."
Dokter pun segera melakukan pekerjaannya. Setelah diketahui ternyata darah Mikhayla cocok, darah Mikhayla pun diambil.
"Sudah Dokter?"
"Sudah, tapi Anda diharapkan istirahat dulu agar tidak pusing."
Mikhayla mengangguk sedangkan suster langsung membawa darah ke ruangan Bima kini dirawat.
Beberapa saat kemudian, Mikhayla bangkit dari berbaring dan duduk.
"Sudah tidak pusing dan lemas?" tanya dokter yang melihat Mikhayla bangun.
"Baiklah Anda boleh pergi, dan ini suplemen untuk Anda minum. Jangan lupa istirahat yang cukup, makan-makanan yang bergizi agar tenaga cepat pulih."
"Baik Dok."
Setelah menerima suplemen dari tangan dokter, Mikhayla pamit.
Ternyata dokternya baik, kenapa aku kesal ya tadi?
Mikhayla berjalan pelan, kembali ke ruang UGD. Terlihat dokter baru keluar dari dalam sana.
"Bagaimana keadaan pasien yang namanya Bima Dok?"
"Dia sudah melewati masa-masa kritisnya setelah dilakukan transfusi darah tadi. Nanti kalau sudah sadar dan kondisi tambah membaik akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Syukurlah kalau begitu terima kasih ya Dok."
"Sama-sama, saya permisi."
Mikhayla mengangguk dan dokternya melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Mikhayla mengintip dari pintu kemudian hendak berjalan masuk. Namun, langkanya tertahan saat ada yang menyentuh bahunya.
Mikhayla menoleh. "Tante Fera, Om Tian?" Mikhayla tampak kaget.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Tian ketus.
"Ya jangan dekati anak saya lagi. Dasar wanita pembawa sial. Kemarin-kemarin kami ditahan gara-gara kamu sekarang Bima juga kecelakaan karena kamu," ketus Fera.
"Astaghfirullahal adzim, maksud Tante apa?"
"Nggak usah berlagak bodoh. Saya tahu Bima mengalami kecelakaan pasca menemui dirimu. Ih! Cuss, jauh-jauh dari kami! Bisa-bisa kami kena sial lagi." Fera mengibas-ngibaskan tangannya agar Mikhayla angkat kaki dari tempat itu.
Mikhayla terbelalak. "Semua sudah takdir bukan karena Mika. Kalau Tante yakin saya adalah wanita pembawa sial mengapa tidak Tante cegah saja Kak Bima agar tidak menemui Mika. Bukankah Tante tadi mengatakan bahwa Tante tahu Bima ke tempat saya?"
"Huh, kamu ya Mik selalu saja melawan kalau orang tua ngomong," ketus Tian.
"Saya tidak suka ditindas Om. Saya akan bersikap sebagaimana orang lain bersikap pada saya. Jika orang itu bersikap baik dan lembut maka sikap saya akan jauh lebih baik dan lembut dari orang itu begitupun sebaliknya," tegas Mikhayla.
"Hmm, pantas saja Fakih lebih memilih mengusir dirimu daripada mempertahankan untuk tinggal di rumahnya. Nyolot sih sama omongan orang tua," ujar Tian.
Mikhayla hanya menggeleng. Tidak tahu harus berkata apalagi terhadap kedua orang tua ini. Mikhayla tidak mengerti kenapa kedua orang tua Bima yang dulunya baik malah menjadi jahat seperti ini.
"Iyalah untuk apa mempertahankan manusia pembawa sial di sana. Pantas saja dulu kedua orang tuanya membuangnya di tempat sampah."
Mikhayla mengepalkan tangan. Hampir saja tangannya menonjok pipi Fera, tetapi dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan. Selain mereka adalah orang tua, Mikhayla tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
"Ah!" Mikhayla mengibaskan tangannya begitu saja dan hendak pergi.
"Papa tahu kan dia juga yang telah membuat Mailena harus ...."
Mendengar nama sang kakak disebut Mikhayla berhenti.
"Dimana Kak Mailena. Kalian membawanya kemana?"
Mendengar pertanyaan Mikhayla tentang sang kakak, Tian tersenyum mengecek.
"Cari saja sendiri, kami yakin kau tidak akan pernah menemukannya karena kau telah menghancurkan dirinya."
"Saya? Menghancurkan Kak Mailena?" Mikhayla tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tian. Wanita itu menjadi diam dan merenung.
"Sudah Ma kita tinggalkan saja dia. Mama tidak ingin sial lagi, kan?"
"Iya Pa."
"Ingat ya kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Bima kau yang harus bertanggung jawab sebab kau yang telah membuatnya seperti ini. Dasar perempuan pembawa sial!"
__ADS_1
Bersambung.