Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 48. Terenyuh


__ADS_3

Tiga bulan Cantika masih terbaring di rumah sakit. Bima dan Mikhayla senantiasa menjaga keduanya. Dua bulan sebelumnya mereka menjaga Cantika secara bergiliran.


Namun, di bulan ketiga ini, kedua orang tuanya itu bahkan tidak memikirkan apapun kecuali tentang kesehatan sang putri.


"Mik, kamu pulanglah dulu," saran Fergi melihat Mikhayla sudah terlihat tidak memikirkan dirinya sendiri. Mikhayla bahkan tidak mau menyisir rambutnya, wanita itu terlihat hampir gila memikirkan nasib putrinya.


"Aku tidak akan pulang Fer sebelum Cantika sadar." Begitu setiap kali ada yang menyarankan dirinya pulang dan beristirahat sebentar.


"Kau juga akan sakit kalau begini terus."


"Biarlah Fer, biar tidak hanyalah Cantika yang merasakan kesakitan ini."


Fergi hanya bisa menggeleng lemah mendengar jawaban dari Mikhayla.


Tidak jauh berbeda dengan Mikhayla, Bima pun sama dengan wanita itu. Dia tidak pernah mau meninggalkan rumah sakit selama satu bulan terakhir ini. Permintaan Fera dan Tian agar Bima pulang pun seperti angin lalu yang tidak pernah diangggap sedikitpun.


"Kalau begitu makanlah ini!" Fergi menyodorkan kotak makanan ke arah Mikhayla. Namun, Wanita itu menggeleng.


"Bim, kamu makanlah!" Kali ini Fergi beralih pada Bima. Dia tidak tega melihat tubuh keduanya sangat kurus karena.


Bima pun menggeleng. Dia menolak kotak makan yang diberikan oleh Fergi.


"Sini aku bicara dulu!" Fergi menarik tubuh Bima keluar sedangkan Mikhayla tatapannya masih fokus pada Cantika. Dia tidak mau menoleh kepada siapapun. Dalam hati Mikhayla berharap agar melihat tubuh Cantika bergerak.


"Apa sih Fer?" Bima protes karena Fergi main tarik begitu saja.


"Aku ingin bicara sama kamu," ucap Fergi dengan suara tegas.


"Bicaralah!"


"Bim, perasaan takut akan kehilangan orang yang kita cintai adalah wajar. Namun, jika sampai membuatku mengabaikan sesuatu di sekitarmu itu namanya kau tidak memiliki perasaan."


"Maksud kamu apa Fer? Saya sedang bersedih dan jangan tambah bebanku lagi."


"Bodoh! Lihatlah Fer! Gara-gara kamu larut dalam kesedihanmu yang terlalu dalam kau bahkan melupakan Mikhayla yang butuh sandaran, tapi melihatmu lemah seperti ini, apa kau bisa diandalkan? Ah, andai saja aku bisa memengaruhi Mikhayla."


"Apa maksudmu?" Bima menatap tajam ke arah Fergi.

__ADS_1


"Lihatlah tubuhmu yang kurus kering seperti ini dan lihatlah tubuh Mikhayla yang juga turut kurus sepertimu!" Fergi menunjuk tubuh Bima kemudian tubuh Mikhayla.


"Kesedihanmu semakin membuat Mikhayla bersedih. Seharusnya di saat seperti ini kau bisa menyemangatinya, memaksa dia untuk tidak melupakan waktu makannya, bukan malah ikut terpuruk."


Bima diam sesaat. "Kau benar Fer," ucapnya kemudian.


"Ini, paksa dia makan!" Fergi menyodorkan kotak makan ke tangan Bima.


"Terima kasih, akan saya coba."


Fergi mengangguk dan pergi dari hadapan Bima sedangkan Bima masuk kembali ke dalam ruangan.


"Mik makan!" seru Bima.


"Aku tidak lapar Kak. Bagaimana aku bisa makan sementara Cantika sudah tiga bulan ini tidak makan?"


"Tapi dia sudah ada asupan infus Mik, sedangkan dirimu?"


Mikhayla menggeleng.


"Kak Bima sendiri?"


"Kak! Kak Bima ngomong apa?"


"Aku ngomong apa adanya. Apa tujuan kita tidak makan kalau memang tidak ingin ke arah itu?"


"Aku hanya tidak selera Kak."


"Dipaksa Mika, kalau tidak mana bisa masuk nih makanan. Dicoba ya?"


Akhirnya Mikhayla mengangguk sebab takut apa yang dikatakan Bima menjadi kenyataan. Dia tidak bisa membayangkan jika Cantika sadar tetapi kedua orang tuanya sudah meninggalkan dirinya karena kelaparan.


Bima tersenyum tipis. "Aku suapi." Dia langsung membuka kotak makanan dan menyuapkan nasi ke mulut Mikhayla.


"Enak?" tanya Bima dan Mikhayla hanya mengangguk lemah.


Fergi yang sedari tadi terlihat pergi sebenarnya tidak benar-benar pergi dari depan ruangan itu, tetapi memilih mengintip ke arah Bima dan Mikhayla.

__ADS_1


Melihat Mikhayla mau makan barulah Fergi bernafas lega dan meninggalkan mereka berdua dengan tenang.


"Kak Bima juga makan, kau tampak sangat kurus sekarang." Mikhayla mengambil alih sendok di tangan Bima dan menyuapi pria itu.


Awalnya Bima menolak, tetapi kemudian terpaksa menerima suapan Mikhayla karena wanita itu memaksanya.


"Sudah kau yang habiskan saja, apa kau tidak sadar bahwa tubuhmu lebih kurus dari tubuhku?"


Mikhayla langsung memeriksa tubuhnya sendiri. Dia langsung menghembuskan nafas berat kala menyadari bajunya sudah terlihat kebesaran di tubuhnya.


"Makanya makan lagi!"


"Kita habiskan berdua ya Kak?"


Bima mengangguk.


"Mik, kalau Cantika melihat kita akur begini pasti dia senang. Semoga saja setelah sadar dia bisa menerimaku dan aku akan langsung melamarmu."


Mikhayla memandang ke arah Cantika lalu mengangguk.


"Semoga putri kita segera sembuh ya Kak?"


"Iya Mik semoga saja Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa kita berdua. Sekarang kita makan lagi." Bima menyuapkan lagi nasi ke mulut Mikhayla kemudian ke mulutnya sendiri.


Di pintu kamar rawat, Fera dan Tian menghentikan langkah untuk masuk.


"Biarkan mereka menyelesaikan makannya dulu Pa," ujar Fera.


Tian urung masuk dan memilih duduk di sebuah kursi yang ada di depan kamar rawat.


"Pa, sepertinya kita harus merestui mereka." Fera mulai iba terhadap keduanya. Dia juga tidak tega melihat Bima tubuhnya kurus seperti itu.


"Kita lihat saja nanti setelah Cantika sadar," jawab Tian datar. Hingga saat ini Tian masih belum bisa menyukai Mikhayla apalagi sampai bersimpati padanya seperti yang terjadi pada Fera sekarang.


"Sepertinya kebahagiaan Bima memang ada pada Cantika."


"Kau jangan terlalu melibatkan perasaan Ma dalam menilai sesuatu. Kau hanya terenyuh melihat keadaan wanita itu. Ingat, apa yang kamu lihat belum tentu kebenarannya," ujar Tian masih dengan ekspresi acuh tak acuh.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2