
Beberapa saat kemudian Bima kembali setelah berdoa begitu lama di mushalla rumah sakit.
Ternyata sampai di ruang IGD Cantika sudah tidak ada di sana. Bima panik.
"Kemana Cantika? Kemana Reynold? Jangan-jangan ...!" Pikiran Bima kembali dibayangi hal-hal buruk. Dia sangat takut Cantika sudah dipindahkan ke dalam kamar mayat.
"Bim, Cantika sudah dipindahkan!" seru Reynold sambil berjalan menghampiri Bima yang terlihat mondar-mandir di depan ruang IGD.
"Pindah ke mana Rey?"
"Ke ruangan intensif-lah memangnya ke mana lagi?"
Bima langsung mengelus dada mendengar jawaban dari dia sedikit bisa bernafas lega.
"Antarkan aku ke sana!" pintanya dan Reynold hanya mengangguk lalu berjalan di depan Bima.
Sampai di kamar Cantika Bima lalu terduduk lemas. Jalan satu-satunya hanya menunggu keajaiban dari Tuhan.
"Bangun Sayang, ijinkan papi hidup dan merawat Cantika hingga tumbuh dewasa." Air mata Bima menetes kembali. Dia berusaha belajar ikhlas, tetapi hal itu sangatlah sulit.
"Lebih baik kau jenguk Mikhayla dulu, biar saya yang menjaga Cantika," saran Bima. Dia menepuk-nepuk pundak Bima, berharap sahabatnya itu bisa tabah dalam menghadapi semuanya cobaan ini.
Bima mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Sus tolong antar dia ke ruangan Bu Mika!" pinta Reynold pada suster yang hendak masuk ke ruangan Cantika.
"Baik Pak, mari!" Suster itu berjalan di depan Bima. Mengantarkan pria itu ke ruang rawat Mikhayla.
"Saya antar sampai di sini ya Pak," ujar suster setelah mereka sampai di pintu ruang rawat Mikhayla.
"Baik Sus, terima kasih." Bima masuk ke dalam.
"Bagaimana Fer?" tanya Bima pada pergi yang tengah duduk di sebuah kursi sambil bersandar.
"Belum sadar juga, tapi kamu tenang saja, kata dokter setelah menghabiskan satu infus Mikhayla pasti akan sadar."
Bima menghela nafas panjang. "Ya semoga saja itu benar sebab saya bingung karena semuanya sakit yang mana yang akan saya jaga?"
"Kamu tenang saja Bim, ada saya dan Reynold di sini yang akan membantumu."
"Tapi kalian berdua sama-sama punya keluarga."
"Tidak masalah, keluarga kami tidak apa-apa. Lagi pula kamu sekarang kan terkena musibah masa kami membiarkan kamu menjaga Mikhayla dan Cantika sendiri begitu saja padahal selama ini saya dan Cantika juga Mikhayla begitu dekat, meskipun tidak ada tali kekeluargaan diantara kami bertiga."
__ADS_1
"Terima kasih." Hanya kata itu yang mampu Bima ucapkan.
"Kalau kamu mau pulang sebentar, pulanglah! Biar saya dan Reynold bagi tugas. Ada yang menjaga Mikhayla dan ada yang menjaga Cantika."
"Aku tidak akan pulang sebelum diantara keduanya ada yang sadar."
Fergi hanya bisa mengangguk, dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu nanti saya kembali," pamit Fergi.
"Ya pergilah!"
Fergi keluar dari ruangan itu untuk memberi ruang Bima berdua dengan Mikhayla meskipun wanita itu sekarang masih dalam keadaan yang tidak sadar.
Sepertinya Fergi, Bima meratap di sisi Mikhayla.
"Mik, bangun dong! Aku tidak bisa menghadapi ini sendirian. Aku memang pria Mik, tapi aku tidak sekuatnya dirimu." Bima terisak begitu lama di samping Mikhayla hingga tanpa sadar dia tertidur.
Hari sudah menjelang sore, Bima masih belum bangun juga dari tidurnya sedangkan Fergi lebih memilih menemani Reynold duduk-duduk di depan ruang rawat Cantika.
Tangan Mikhayla tampak bergerak-gerak dan menyentuh wajah Bima membuat pria itu langsung terbangun.
"Mik, kau sudah siuman?" tanya Bima begitu sumringah melihat Mikhayla sudah sadar dari pingsannya.
Bima menggeleng.
"Bagaimana aku bisa pulang Mik melihat kalian berdua sama-sama berjuang melawan maut?" batin Bima.
"Cantika bagaimana Kak?" tanya Mikhayla lagi.
Bima menatap wajah Mikhayla sebelum akhirnya menjawab.
"Kata dokter dia tidak apa-apa cuma belum boleh pulang saja dari rumah sakit." Terpaksa Bima berbohong karena takut Mikhayla kesehatannya drob lagi.
"Oh syukurlah kalau begitu. Kepalanya bagaimana?"
"Tidak apa-apa hanya diperban saja. Kau tahu kan kalau daerah kepala itu meskipun luka sedikit kelihatan parah?"
"Iya Kak. Antar aku ke sana yuk, aku ingin menjenguknya."
"Jangan Mik, lebih baik kamu istirahat dulu biar cepat pulih. Saya tidak mau kalau Cantika melihat kamu diinfus dalam keadaan begini, putri kita akan kaget dan drop."
"Kak Bima benar. Kak Bima tolong jagain dia ya. Katakan saya masih belum bisa–"
__ADS_1
"Iya Mik, kau tenang saja. Aku pasti menjaganya dan saat ini ada Rey dan Fergi yang masih menjaga dia."
"Saya bersyukur dikeliling orang-orang baik. Kau tahu Kak, Fergi dan Kak Reynold selalu ada di saat kami membutuhkan bantuannya. Bahkan saya bisa dibilang sukses mengelola toko karena bantuan Fergi.
"Maafkan aku Mik, aku justru meninggalkanmu disaat masa-masanya sulit."
"Sudah Kak, kita tidak perlu melihat ke belakang lagi. Sekarang kita fokus kepada kebahagiaan Cantika saja."
Mendengar nama Cantika disebut lagi wajah Bima terlihat sendu.
Bagaimana kalau sampai kau tahu keadaan Cantika yang sebenarnya Mik?
"Bima, kupikir kemana seharian nggak pulang-pulang ternyata kau ada di sini!" Fera menatap tajam ke arah Bima.
"Kak?" Cantika menatap Bima dengan getir, dia sangat lelah jika hari ini harus menghadapi ocehan Fera.
"Tenanglah!" Bima bangkit dari duduknya dan menghampiri sang mama dan menarik keluar dari kamar rawat Mikhayla.
"Kenapa sih Bim, main tarik-tarik segala?" protes Fera.
"Karena saya tidak mau mama menyakiti dia lagi."
"Wanita itu membawa pengaruh buruk kepadamu jadi Mama minta tinggalkan dia! Gara-gara dia sekarang kau suka membantah mama."
"Pengaruh buruk apa maksud Mama? Mikhayla tidak pernah melakukan apapun. Dia tidak pernah mengusik kehidupan Mama dan Mama ..., bahkan Mama sendiri yang telah mengusik dia dengan cara menculik Cantika. Tolong Ma, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dan membuat keributan. Bima mohon!" Bima merosot dari pegangan Fera dan bersimpuh di kaki sang mama.
"Bangun Bim! Malu dilihat orang. Apapun alasannya mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian."
Mendengar ucapan Fera, Bima bangkit dan menarik tangan Fera.
"Bim, mau kau bawa kemana mama? Mama belum puas jika belum mengata-ngatai Mikhayla!"
"Mama ikut Bima dulu, setelah itu silahkan jika mama mau mengambil keputusan apapun. Yang jelas Bima akan tetep menikahi Mikhayla. Dengan atau tanpa restu Mama dan papa."
"Kau ... dia siapa Bim?" Fera terdiam di pintu.
"Lihatlah! Cucu mama sedang sekarat sekarang. Apakah mama tidak pernah berpikir untuk memberikan kebahagiaan untuknya?" Bima menunjuk Cantika dengan air mata yang berderai.
"Kasihan dia Ma, selama ini dia harus hidup tanpa seorang ayah, dan Bima? Bima malah asyik dengan kehidupan Bima sendiri tanpa pernah memikirkan bagaimana dia menjalani hari-harinya hanya dengan seorang ibu. Mikhayla, seorang wanita yang menjadi sebatang kara hanya gara-gara perlakuan Bima yang tidak bertanggung jawab."
"Cucu? Jadi benar dia putrimu?"
"Ya dan disaat dia sudah tahu jika aku adalah papinya, dia malah begini, berada antara hidup dan mati. Mama bayangkan jika Mika sampai tahu jika putrinya seperti ini? Dia akan sangat hancur, makanya kumohon jangan tambah bebannya lagi. Mama boleh membencinya tapi tetap harus mengingat bahwa Mikaila adalah ibu dari cucu Mama sendiri." Bima berucap dengan menggebuk-gebu sedangkan Fera diam seketika.
__ADS_1
Bersambung.