
Tar.
Tiba-tiba saja gelas yang berada dalam genggaman Mikhayla pecah. Untung saja Cantika segera mundur ke belakang kalau tidak pecahan gelas itu pasti mengenai kakinya.
"Astaghfirullah hal adzim, pertanda apa ini?" Mikhayla menekan dadanya yang tiba-tiba berdebar hebat.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Bertanya sambil menatap Cantika yang juga terlihat kaget.
Anak kecil itu menggeleng. "Mami sendiri?"
Mikhayla pun menggeleng.
"Ada kecelakaan, ada kecelakaan." Suara orang-orang terdengar riuh di luar.
Deg.
"Ada apa itu, siapa yang kecelakaan?"
Johan dan Agnes sang karyawati langsung sigap.
"Kami cek dulu keluar."
Mikhayla mengangguk sambil menetralkan debaran jantungnya. Setelah dirinya sudah mulai nyaman, Mikhayla melangkahkan kakinya keluar kamar dengan menggandeng tangan Cantika.
"Ada apa ya Nes?"
"Itu Bu katanya orang-orang pria yang tadi menemui Ibu Mika mengalami kecelakaan," terang Agnes.
"Bagaimana mungkin orang-orang yakin itu Kak Bima?" Mikhayla pikir orang-orang ngawur saja.
"Itu tadi kan salah satu pelanggan kita menyetir mobilnya di belakang mobil Pak Bima dan dia yakin itu yang mengalami kecelakaan adalah Pak Bima Bu dilihat dari nopol mobilnya katanya. Pelanggan kita itu menelpon ke toko karena berpikir Pak Bima adalah kerabat kita," terang karyawati yang lain.
"Kak Bima?" Mikhayla tertegun. Namun, kemudian dia langsung tersadar.
"Nes nitip Cantika ya, aku akan mengecek ke lokasi. Dimana tempat kejadiannya?"
"Di depan gedung Alita Bakery di dekat lampu merah itu Bu."
"Oke thanks saya akan segera ke sana."
"Mama pergi dulu ya Cantika, kamu baik-baik ya sama Tante Agnes."
"Baik Mi."
Mikhayla mengangguk dan langsung mengeluarkan motor matic-nya dari garasi.
"Aku pergi dulu ya!"
"Hati-hati Mi."
"Hati-hati Bu."
Mikhayla pun mengendarai motornya keluar dari area toko menuju jalan raya.
__ADS_1
"Kak Bima, Kak Bima. Semoga itu bukan dirimu Kak. Semoga orang-orang salah mengira saja." Berharap dalam hati sedang hatinya ketar-ketir sendiri.
Mikhayla menambah kecepatan saat jalanan sepi dan mengurangi kecepatan lagi jika jalanan ramai.
Beberapa meter dari posisinya saat ini Mikhayla berhenti sebab jalanan tampak macet
"Inikah lokasinya?" Mikhayla tidak fokus. Setelah melihat-lihat keadaan sekitar ternyata benar durinya sekarang berada di sekitar Alita Bakery.
Mikhayla menepikan motornya melihat tidak mungkin dirinya menembus kemacetan yang terjadi. Wanita itu berlari di tengah keramaian jalan raya.
Di depan matanya terlihat beberapa orang mengangkat tubuh Bima yang berlumuran darah dari dalam mobil.
Mikhayla berlari lebih kencang lagi, tak perduli orang-orang meneriaki dirinya dengan ocehan karena menyenggol bahu mereka.
"Kak Bima?"
Orang-orang yang mengusung tubuh korban kecelakaan terdiam sesaat dan menoleh pada Mikhayla yang berlari ke arahnya. Orang-orang yang mengerti bahwa Mikhayla adalah kerabat dari korban kecelakaan menyingkir dan memberi jalan.
"Mbak kenal dengan pria ini?" tanya seorang pria yang berdiri menyaksikan proses evakuasi sebab pintu mobil tidak bisa terbuka. Namun, kini sudah berhasil dicongkel dan mengeluarkan korban dari dalam mobil.
Mikhayla tidak langsung menjawab, melainkan melongo terlebih dahulu ke arah korban untuk memastikan apakah benar korban tersebut adalah Bima atau bukan.
Mikhayla menggeleng sebab tidak bisa melihat wajah korban tersebut karena dikelilingi oleh orang-orang. "Saya tidak bisa melihatnya."
"Minggir semua, beri Mbak ini jalan siapa tahu korban ini adalah keluarganya!"
"Kalau iya kasihan ya sebab pria ini sudah meninggal.
Deg.
Bagaimana kalau memang benar Bima meninggal? Apa yang akan dikatakan pada Cantika suatu hari nanti? Akankah selamanya dirinya menyembunyikan kebenaran? Bila Cantika tahu Bima adalah ayahnya akankah dia marah sebab sampai sang ayah benar-benar tiada dirinya tidak pernah diberitahu?
"Mbak, Mbak tidak apa-apa?" Seseorang terlihat khawatir melihat keadaan Mikhayla.
"Permisi saya ingin melihat lebih jelas." Mikhayla menerobos masuk.
"Rambutnya-" Mikhayla tertegun. Dari rambutnya yang sedikit ikal dia yakin pria itu adalah Bima, apalagi pakaian yang digunakan atasan berwarna putih dengan celana jeans hitam.
"Kak Bima!" Air mata mulai menetes. Mikhayla mengulurkan tangannya yang masih bergetar, mengusap darah yang memenuhi wajah pria itu. Orang-orang yang menyaksikan hanya meringis dan terharu melihat Mikhayla menyentuh darah mayat tersebut.
"Bukan." Mikhayla berpaling dan pergi dari tempat tersebut.
"Hei jangan berpusat pada korban di mobil itu, bantuin korban dalam mobil ini dong. Sepertinya yang di sini belum meninggal." Seseorang berteriak pada yang lainnya.
"Korban lagi?" Mikhayla mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.
Dua orang tampak mengeluarkan korban dari dalam mobil.
"Sudah menghubungi ambulance belum?" tanyanya panik.
"Sudah ambulance sudah melaju ke tempat ini."
"Bagus semoga cepat sampai sebab satu menit saja terlambat hal-hal apapun bisa terjadi."
__ADS_1
"Kak Bima?"
"Ini Kakak Eneng?"
"Iya Pak, tolong Pak segera bawa dia ke rumah sakit!"
"Masih menunggu ambulance datang Neng."
"Kelamaan Pak. Mas-mas, Bapak-bapak ada yang membawa mobil dan bisa membawa kakak saya ke rumah sakit sekarang juga? Saya janji akan membayar e kali lipat dari ongkos sebenarnya."
"Ayo Mbak itu mobil saya." Seseorang menawarkan diri.
"Terima kasih Mas. Tolong Pak bawa ke mobil itu ya." Mikhayla memohon dengan sangat dengan mengatupkan tangan di depan dadanya pertanda dirinya sangat memohon belas kasih orang-orang.
Tubuh Bima pun diangkat ke mobil dan dibawa ke rumah sakit. Mikhayla pun ikut dalam mobil tersebut. Dalam keadaan masih panik dia meraih ponsel di dalam saku celananya.
"Bang Jo tolong jemput motor saya di depan bengkel sebelum lampu merah ya!"
"Oke Mik, kamu tidak apa-apa, kan?"
"Tidak Bang Jo, mohon bantuannya ya!"
"Oke siap."
***
"Dokter! Dokter!" tolong tangani Kak Bima Dok!" Mikhayla tampak berlari di depan brankar yang didorong oleh para perawat dimana Bima dibaringkan.
Mikhayla panik sebab mengingat korban yang satunya meninggal dunia. Apalagi melihat keadaan Bima yang sama dengan pria itu. Sama-sama bersimbah darah.
"Ayo-ayo cepat Sus!"
Perawat semakin cepat mendorong brankar Bima hingga akhirnya memasuki instalasi IGD.
Mikhayla berdiri di luar ruangan, menunggu dengan gelisah. Mondar-mandir tak tentu arah.
Di dalam ruangan.
"Sus siapkan kantong darah B! Pasien banyak kehilangan darah dan harus mendapatkan donor darah secepatnya."
"B dok?"
"Iya secepatnya!"
"Tapi golongan B sedang tidak ada stoknya Dok, tadi pagi pasien juga membutuhkan golongan darah yang sama dan kami menemukannya di PMI, tetapi di sana sudah kosong."
"Apapun caranya kita harus mendapatkan darah itu. Kalau perlu hubungi rumah sakit lain!"
Perawat yang diperintahkan langsung keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaannya Sus?" Mikhayla menghentikan perawat di depan pintu.
"Pasien butuh darah B dan kebetulan saat ini stok habis, jadi kami harus mencarinya di tempat lain."
__ADS_1
Bersambung.