
Mikhayla langsung mengambil ponsel yang diserahkan oleh Cantika dan memeriksanya.
Mikhayla terkejut melihat memang benar di dalam ponsel tersebut ada foto Fergi dengan baju pengantin sedang mencium kening Lucia.
Bagi Mikhayla sendiri hal itu tidak masalah sebab dirinya hanya menganggap Fergi tidak lebih dari seorang sahabat, meskipun perhatian Fergi kadang melebihi kata sahabat itu sendiri. Namun, yang Mikhayla tidak habis pikir mengapa Fergi harus mengirim foto pernikahannya ke dalam ponsel miliknya dan lebih aneh lagi saat mengingat Fergi sempat mengirimkan gambar cincin dan mengatakan akan menikahi dirinya.
Apa yang diinginkan Fergi sebenarnya? Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana akibatnya kalau dilihat oleh Cantika seperti ini?
"Sudahlah Sayang berarti om Fergi mencintai wanita ini," jelas Mikhayla sambil menunjuk wajah Lucia dalam ponsel.
Cantika cemberut. "Tapi Om Fergi ingkar janji," protesnya.
"Nanti om Fergi pasti akan menjelaskan pada Cantika kenapa itu harus terjadi. Lagipula meskipun om Fergi menikah dengan orang lain, dia tetap akan sayang sama Cantika," jelas Mikhayla.
"Mommy bohong!" Cantika ngambek dan langsung berlari ke dalam kamar.
"Cantika!" panggil Mikhayla. Namun, Cantika tidak menggubris seruan sang mami. Anak itu berlari dengan berderai air mata.
"Cantika!" teriak Mikhayla lagi, tetap saja Cantika terus berlari dan langsung menutup kasar pintu kamar.
"Agnes! Jaga toko ya, saya mau menghibur Cantika dulu!"
"Iya Bu."
Mikhayla mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar. Ternyata Cantika mengunci kamarnya dari dalam.
"Cantika buka pintunya sayang!"
Cantika tidak menggubris seruan Mikhayla.
Tok tok tok.
"Sayang buka pintunya dong! Cantika sayang nggak sama mami?"
Kreet.
Akhirnya pintu dibuka juga. Cantika memegang handle pintu dengan wajah yang menunduk.
"Cantika sayang nggak sama mami?" ulang Mikhayla.
Anak itu mengangguk.
Cantika langsung menggendong tubuh putrinya menuju ranjang dan mendudukkan tubuh putrinya di tepian ranjang.
"Sudah jangan menangis," ucap Mikhayla sambil menghapus air mata di pipi Cantika.
Anak itu tidak menjawab dan masih saja meneteskan air mata.
Mikhayla langsung menarik tubuh Cantika dan memeluk serta mencium pipinya.
__ADS_1
"Cantika dengarkan mami ya Nak! Yang namanya jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jadi kalau om Fergi sekarang tidak menikah sama mami berarti mami bukan jodoh om Fergi, tapi jodoh om Fergi adalah wanita itu kalau dipaksakan tidak baik nanti bisa berpisah juga pada akhirnya," jelas Mikhayla agar Cantika bisa mengerti bahwa sesuatu itu tidak selamanya bisa dipaksakan.
"Tapi om Fergi bohong seharusnya kalau mau nikah sama orang lain enggak berjanji pada Cantika." Cantika tetep kekeh pada pendiriannya.
"Mungkin itu di luar kendali om Fergi sayang," ujar Mikhayla sambil membelai rambut cantika.
"Biarkan saja om Fergi bahagia dengan pilihannya. Kalau sama mami belum tentu mami Mika bisa membahagiakan Om Fergi lagipula mamanya om Fergi tidak suka sama mami."
"Cantika ingin ketemu sama papi, katanya om Reynold itu papi Cantika dan belum meninggal."
Sontak saja permintaan Cantika ini membuat Mikhayla syok.
"Kata siapa Cantika? Papi Reynold memang sudah tiada."
"Tidak, hari kemarin saat di sekolah papi Reynold datang, tapi karena melihat Om Bima ada di sana papi Reynold malah pergi. Kalau mami tidak menikah dengan om Fergi lebih baik mami kembali pada papi Reynold saja, tapi kalau mami tidak mau juga mami harus menikah dengan om Bima."
"Cantika!" Mikhayla tidak habis pikir dengan permintaan putrinya itu. Mana mungkin Mikhayla menikah dengan Reynold, sebab selain diantara keduanya tidak ada perasaan cinta, Reynold juga sudah punya istri.
Mikhayla tidak mungkin mewujudkan permintaan putrinya itu, kalau tidak dia akan merusak rumah tangga orang lain.
Dengan Bima pun juga tidak mungkin, kedua orang tua Bima sangat membenci dirinya. Biarlah Mikhayla ingin hidup sebagai singgle parents saja.
"Cantika, Reynold papi Cantika itu bukan Om Reynold yang itu," jelas Mikhayla.
"Tapi kata om Bima om Reynold itu adalah papi Cantika." Anak itu memberengut.
"Kalau memang bukan, Cantika mau lihat foto papi," rengek Cantika kemudian.
Mikhayla geram pada Bima.
Apa maunya dia?
"Mana foto papi, mami? Teman-teman bilang Cantika tidak punya papi. Cantika akan menunjukkan fotonya pada teman-teman."
Mikhayla tertegun. Dia bingung foto siapa yang akan dia berikan pada Cantika.
"Bu maaf menganggu. Ada pak Bima di luar," ucap Agnes di pintu kamar.
"Mau apalagi dia?"
Agnes hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dia juga tidak tahu.
"Hei apa kabar? Mau nggak hari ini jalan-jalan sama om Bima?" sapa Bima di belakang tubuh Agnes.
"Kak Bima?" Mikhayla bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Kak Bima mau apa sih sebenarnya?" tanya Mikhayla geram.
"Cuma mau ngajak Cantika jalan-jalan. Apa aku salah?" tanya Bima dengan ekspresi wajah yang begitu tenang.
__ADS_1
"Sekarang bukan waktu yang tepat," ketus Mikhayla.
"Saya mau Om," sahut Cantika dari atas ranjang.
"Tuh putri kamu sendiri mau, kenapa kamu malah melarangnya?!"
"Karena aku tidak suka dia bersamamu, kau akan meracuni pikirannya," ujar Mikhayla.
"Mik, jangan berlebihan lah. Aku menyayangi dia seperti aku menyayangimu. Mana mungkin aku memberikan pengaruh buruk padanya?"
"Tapi ka–u"
"Ayolah Mami izinkan Cantika jalan-jalan sama om Bima. Mami kan sudah janji sama Cantika akan mengizinkan Cantika kalau jalan-jalan sama Om Bima," desak Cantika.
"Tapi kan waktu itu mami tidak tahu jika pria yang kau maksud adalah Om Bima," protes Cantika.
"Memangnya kenapa kalau om yang saya maksud itu adalah Om Bima? Apa bedanya dia dengan om Reynold dan juga om Fergi? Apa mami pernah ada masalah dengan Om Bima sehingga Cantika tidak bisa pergi dengannya?"
Pertanyaan Cantika membuat Mikhayla tertegun. Pikirannya melayang kepada beberapa tahun silam di mana Bima telah berhasil merenggut kesuciannya dan menjanjikan hal-hal yang manis padanya.
Mikhayla meneteskan air mata.
"Mami menangis?" tanya Cantika. Tiba-tiba anak itu khawatir dengan keadaan sang mami.
"Kalau begitu Cantika tidak jadi pergi dengan om Bima."
"Pergilah Cantika! Mami tidak apa-apa," ucap Mikhayla dengan senyum yang dipaksakan.
"Beneran mami?" Anak itu terlihat ceria kembali.
Mikhayla mengangguk.
Cantika balas tersenyum dengan mata yang berbinar seolah bersemangat lagi.
"Ya pergilah bersama om Bima dan pulangnya jangan malam-malam!"
"Baik Mik, aku antari Cantika ke sini nanti sebelum jam 4 sore," ujar Bima dan Cantika hanya mengangguk.
Cantika terlihat menuju lemari untuk mencari baju ganti.
"Aku berjanji Mik akan membahagiakan dirimu dan Cantika. Maka kumohon izinkan aku kembali padamu. Izinkan aku menikahimu, menepati janji yang sempat tertunda."
Mikhayla tampak menghela nafas.
"Meskipun Mikhayla bukanlah putrimu seperti yang kau duga, apa kau akan tetap menyayanginya?"
"Aku berjanji akan menyayanginya. Bukankah mencintai ibunya juga harus menerima anaknya?"
"Beri aku waktu untuk memikirkannya!"
__ADS_1
Bersambung.