
"Reynolds Sebastian? Jadi benar kau punya hubungan dengannya?"
Mikhayla mengernyit, tidak mengerti dengan apa yang Bima katakan.
"Ya dia suamiku dan dia adalah ayah dari Cantika." Mikhayla tidak ingin berbasa-basi. Dia ingin Bima segera pergi saat ini.
Bima terdiam, kata-kata Salsa, sahabat dari Mikhayla dan Felisha terngiang kembali di telinganya.
"Bagaimana mungkin Kak Bima mencintai gadis yang hatinya sudah terpaut dengan pria lain. Kau lihat sendiri, bahkan gadis itu terlalu menempel dengan Kak Reynolds. Dia mau dengan Kak Bima karena kesepian ditinggal pria itu keluar negeri. Kak Bima hanya pelarian semata."
Tanpa berkata-kata lagi Bima berbalik dan meninggalkan toko bunga tanpa pamit. Dia segera berjalan menuju mobil. Setelah keluar dari area toko dan sampai di jalan raya, Bima segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Astaghfirullah hal adzim, ada apa dengan dia?" Dari jauh Mikhayla bisa melihat Bima menyetir mobilnya dengan cara tidak normal.
"Bang Jo dan semuanya sorry hari ini saya tidak bisa membantu kalian, tiba-tiba saja kepalaku pening." Mikhayla beralasan padahal air matanya ingin segera tumpah ruah. Dia tidak ingin menangis di hadapan orang banyak. Meski hatinya sering rapuh, tetapi dia tidak ingin orang lain menganggapnya lemah. Dia harus selalu terlihat kuat dan baik-baik saja.
"Mami tidak apa-apa?" Cantika yang sudah menyelesaikan makan dan kini beralih bermain puzzle segera naik ke atas ranjang melihat sang mami tiduran dengan posisi telungkup dimana wajahnya ditekan pada bantal.
"Mami tidak apa-apa Sayang." Mikhayla memiringkan wajah dan menatap wajah putrinya sambil berusaha tersenyum. Wanita itu mengelus-elus pipi putrinya yang halus.
"Tapi mami kok nangis? Apa om tadi menyakiti mami?" Ternyata Cantika mengawasi dari jauh saat Mikhayla berbicara dengan Bima.
"Oh tidak Sayang mami tidak apa-apa hanya saja kepala mami sakit sekali. Biarkan mami istirahat dulu ya. Cantika tidak apa-apa kan main sendirian?"
"Iya mami Cantika tidak apa-apa. Mami istirahatlah."
__ADS_1
Mikhayla mengangguk dan menelungkupkan kembali wajahnya pada bantal.
"Cantika pijit ya mami biar kepala mami berkurang sakitnya." Cantika mengulurkan tangan ke kepala Mikhayla dan mencoba memijit. Meskipun tidak begitu terasa karena tenaganya yang lemah, tetapi sentuhan tangan Cantika membuat Mikhayla semakin menangis.
Di dalam hati Mikhayla merasa bersalah pada Cantika sebab telah membohongi sang putri akan keberadaan ayahnya.
"Ya Tuhan maafkan hamba yang telah menjauhkan Cantika dari papinya sendiri. Hamba tahu hamba salah, tapi jujur hamba masih benci kala mengingat kata-kata manisnya yang akhirnya berbuah pahit dalam kehidupanku." Mikhayla tak tahan lagi, dia bukan hanya mengeluarkan air mata, tetapi juga suara isakan.
"Mami kenapa, tambah sakit ya kepalanya?" Cantika panik lalu berlari keluar untuk menemui karyawan ibunya.
"Tante, Om Jo! Kepala mami sakit sekali tolong belikan obat ya!" pintanya.
Johan mengangguk dan segera bangkit, berjalan keluar dari area toko untuk membeli obat sedangkan satu orang karyawati ikut masuk ke kamar bersama Cantika dan memeriksa keadaan Mikhayla.
Cantika mengangguk.
Tidak butuh waktu lama bagi Johan untuk mendapatkan obat sakit kepala karena toko di seberapa jalan sana ada yang menjualnya. Buru-buru Johan menghampiri Mikhayla di kamar dan menyerahkan obat tersebut pada Cantika.
"Mami minum obat dulu." Cantika menyodorkan obat sakit kepala kepada Mikhayla dan karyawatinya memberikan segelas air putih.
"Kamu darimana mendapatkan obat ini Cantika?" Mikhayla kaget putrinya memegang sebuah tablet obat.
"Menyuruh om Johan tadi untuk membeli biar Mami cepat sembuh dan tidak menangis lagi. Cantika jadi sedih jika Mami nangis terus."
Tidak ingin membuat putrinya sedih, kecewa, dan curiga akhirnya Mikhayla meraih obat dan air putih lalu meneguknya, meskipun dirinya sama sekali tidak sakit kepala.
__ADS_1
Di jalanan Bima masih melajukan mobilnya dengan kencang. Ucapan Salsa beberapa tahun silam masih terus terngiang.
"Dia sudah tidak perawan. Dia bercerita menghabiskan malam panjang dengan Kak Reynolds di sebuah bar hingga mabuk dan akhirnya mereka melakukan making love."
"Dia bercerita padamu?"
"Ya dia bilang itu pengalaman pertama dan sangat seru."
Bima mengepalkan tangan. Dia pikir dirinya yang pertama menyentuh Mikhayla, nyatanya dia hanya mendapatkan sisa dari sahabatnya sendiri.
"Pantas saja saat tidur denganku dia tidak mengeluarkan darah sama sekali," gumam Bima dan karena kemarahannya ia menambah kecepatan mobilnya lagi.
Mobil melaju sangat kencang di jalanan dan pengendaranya sama sekali tidak fokus. Dari arah berbeda ada mobil tangki yang bergerak ke arahnya.
klakson panjang menggema di udara membuat Bima segera tersadar dari lamunannya.
Menyadari mobil akan tertabrak buru-buru Bima membanting setir ke samping.
Brak.
Mobil menabrak pembatas jalan.
"Aaaa!"
Bersambung.
__ADS_1