Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 21. Perpisahan


__ADS_3

"Pak!" Agnes memanggil Fergi di depan pintu karena jalannya terhalangi oleh tubuh ibunya Fergi yang berdiri di depan pintu.


"Masuk saja Nes!" perintah Fergi membuat sang ibu menyingkir dan meninggalkan tempat. Dia sudah merasa lega sebab Mikhayla sudah meminta langsung kepada Fergi agar menjauhi diri dan juga anaknya.


Agnes masuk ke dalam kamar dan menyodorkan segelas susu kepada Mikhayla.


"Taruh dulu Nes, nanti perutku begah kemasukan banyak air," tolak Mikhayla.


"Tidak akan Mik, cuma susu saja dan kamu hanya minum dua gelas saja dengan susu ini. Minumlah dan aku akan ke dapur untuk membuatkan makan siang untukmu. Untuk Cantika dan karyawan juga."


"Wah pasti enak nih masakan pak Fergi," ucap Agnes.


"Semoga kalian suka. Oh ya bisa aku minta bantuan lagi?"


"Boleh Pak. Agnes masih sehat kok," sahut Agnes lalu terkekeh.


"Jangan bercanda Nes, kalau kamu capek nanti aku minta bantuan karyawan yang lain saja."


"Nggak Pak Agnes nggak capek, serius kok."


"Ya sudah kalau begitu ikut aku ke dapur dan bantu membeli nanti Kalau ada bahan yang kurang. Kira-kira kalian mau makan apa?"


"Terserah deh Bapak mau masak apa yang penting enak," jawab Agnes.


"Cantika sama Mika?"


"Eh kok aku tadi yang jawab ya?" Agnes menggaruk kepalanya, dia merasa malu.


"Nggak apa-apa Nes saya tanya sama kalian semua termasuk dirimu. Sebab kamu sudah menjawab jadi sekarang saya bertanya pada Cantika dan Mikhayla."


"Oh," ucap Agnes tersenyum canggung.


"Terserah kamu lah Fer, kamu pasti tahu makanan seperti apa yang cocok di lidah kami."


"Bukan begitu, tapi kan selera orang macam-macam."


"Kalau dituruti satu-satu berarti kamu harus memasak berbagai macam menu dong."


"Iya juga ya Mik, aku kok nggak kepikiran ke sana. Ya sudah kami pergi dulu, ayo Nes!"


"Siap Pak," jawab Agnes sambil mengekor di belakang Fergi.


"Saya ikut membantu boleh Om?" tanya Cantika.


"Boleh sayang, yuk ikut Om."

__ADS_1


Akhirnya Agnes, Cantika dan Fergi meninggalkan kamar Mikhayla menuju dapur.


Mikhayla yang hanya tinggal seorang diri kini tampak duduk menyandarkan bahu di sandaran ranjang. Pikirannya terpecah belah.


Di satu sisi dia masih memikirkan nasib Bima. Apakah pria itu sudah sadar setelah mendapatkan donor darah darinya atau justru sebaliknya, keadaan Bima tidak baik-baik saja saat ini. Andai dirinya sehat pasti dia akan mengecek keadaan Bima meskipun hanya melihat dari jauh.


Kedua, jujur meskipun dia tidak bisa jatuh cinta pada Fergi, dirinya merasa keberatan jika tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama. Baginya Fergi adalah sahabat terbaik yang selalu ada di saat dirinya sedang membutuhkan pertolongan. Selain itu Mikhayla tidak tega memisahkan Fergi dan Cantika yang akhir-akhir ini sudah nampak begitu dekat.


Namun, di sisi lain Mikhayla tidak mau menghancurkan hubungan antara anak dan orang itu. Yaitu, antara Fergi dan ibunya sendiri. Apalagi saat dia mendengar bahwa Fergi sudah punya tunangan. Apapun ceritanya antara Fergi dan tunangannya hanya satu yang Mikhayla khawatirkan. Dia akan menyakiti hati wanita lain.


Sementara Mikhayla duduk termenung ketiganya sudah berkutat dengan bahan-bahan dapur. Kebetulan Fergi membuat menu dengan menyesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di dapur.


"Nes kamu tahu siapa orang yang mendapatkan donor darah dari Mika?" tanya Fergi sambil tangannya cekatan memasukkan bahan-bahan di atas wadah berukuran besar.


"Tidak tahu Pak," jawab Agnes sebab tidak ingin memberitahukan kabar yang belum jelas kebenarannya.


"Cantika tahu nggak?"


"Nggak tahu juga Om."


"Oh nggak ada yang tahu rupanya."


"Sebenarnya sebelum kejadian Bu Mika mendonorkan darah, ada pria bernama Bima yang datang kemari dan terlihat berdebat dengan Bu Mika."


"Berdebat?"


"Kalau begitu ada kemungkinan besar bahwa korban yang hidup itu adalah Bima dan Mikhayla mendonorkan darahnya untuk pria tersebut." Fergi mencoba menarik kesimpulan dari cerita Anges.


"Bisa jadi, tapi saya tidak bisa memastikan."


Fergi mengangguk.


"Kenapa bapak penasaran dengan orang tersebut?"


Fergi menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.


"Dari pengorbanan Mikhayla, saya yakin pria itu adalah orang yang berarti di hidup Mikhayla."


"Benar juga ya Pak."


"Kalau benar pria yang bernama Bima itu yang mendapatkan donor darah dari Mikhayla, aku curiga dia adalah papi dari Cantika."


"Om papi saya sudah meninggal. Kata mami Om Bima itu hanya mengaku kenal saja sama mami padahal tidak."


"Mami pernah ngomong gitu?"

__ADS_1


"Iya, waktu itu Om Bima mengejar mami saat berada di restoran yang ada di dekat sekolah Cantika."


"Oke begitu ya?"


"Iya."


"Berarti dugaanku sepertinya benar." Fergi bicara dalam hati.


Satu jam berselang akhirnya menu yang mereka buat kelar juga.


Agnes menghampar karpet di teras toko dan membawa menu makan siang buatan Fergi ke sana.


"Wah makan-makan nih," ucap Johan sambil menatap sumringah menu yang sudah terhidang di hadapannya.


"Sepertinya menunya enak-enak nih," ujar Tutik di jawab anggukan oleh karyawan yang lainnya.


"Siapa dulu dong yang masak, chef Fergi," ucap Agnes bersemangat.


"Cantika mami sudah dipanggil atau mau dibawa ke kamar saja makanannya?"


"Tidak perlu Om, mami sudah berjalan ke sini. Kata Mami dia mau makan bersama saja biar selera makannya bangkit kembali."


"Oh oke."


Tidak menunggu lama Mikhayla la muncul di belakang Cantika.


"Tuh dia Bu Mika."


Mereka pun makan bersama. Selesai makan ada seorang karyawan yang bertanya.


"Tumben Pak Fergi masak untuk kita semua. Memang ada acara apa Pak? Ulang tahun atau dapat undian?"


"Acara perpisahan," jawab Fergi reflek.


"Perpisahan?" tanya mereka serempak.


"Iya karena setelah ini saya tidak akan ke datang ke sini lagi."


"Memang bapak akan pergi kemana?"


"Tidak kemana-mana, tapi belakangan ini saya sepertinya akan mengalami kesibukan yang signifikan. Jadi nggak akan sempat ke sini lagi."


Mikhayla menatap Fergi dengan perasaan tidak enak. Dia tahu apa yang dikatakan Fergi saat ini tidaklah benar. Dia tahu Fergi tidak akan datang ke tempat ini lagi karena permintaan darinya.


"Fer apapun yang terjadi jangan sampai hubunganmu hancur dengan kedua orang tuamu, terutama ibumu sendiri. Kau tidak tahu saja bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga yang utuh ataupun tidak memiliki orang tua. Selagi beliau masih hidup maka berbaktilah sebelum terlambat."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2