
"Mbak tunggu dulu! Minum-minum lah sambil bercerita santai di sini!" seru pria pemilik rumah melihat Mikhayla nampak terburu-buru.
Sang istri yang melihat Mikhayla turun dengan menangis langsung menyenggol bahu sang suami.
"Ngapain sih mama pakai main senggol-senggolan sih!"
"Papa nggak lihat ya, bahwa perempuan tadi itu menangis?"
"Menangis?" Pria itu memandang Mikhayla yang berlari keluar rumah.
"Bim?" Langsung mencegat Bima yang berlari menyusul Mikhayla.
"Om tolong jangan halangi jalanku," mohon Bima.
"Katakan dulu apa yang kamu lakukan pada wanita tadi sehingga membuat dia terisak?"
"Tidak ada Om."
"Kalau tidak ada bagaimana mungkin dia bisa sedih seperti itu?"
"Hanya marah padaku sebab tidak memberitahukan atas kematian kakaknya," jelas Bima dengan terburu-buru.
"Baiklah kau boleh pergi, tapi awas ya kalau setelah saya mengecek cctv dan kau terbukti berlaku tidak senonoh di rumah ini padanya maka om akan menuntut," ancam pria pemilik rumah.
"Iya Om, cek saja!" Bima menerobos diantara pasangan suami istri pemilik rumah dan berlari mengejar Mikhayla keluar.
"Mik tunggu aku!" teriak Bima. Namun, Mikhayla tidak menoleh sedikitpun. Wanita itu sudah tampak masuk ke dalam taksi yang kebetulan melintas.
Segera Bima masuk ke dalam mobilnya sendiri dan menyusul Mikhayla.
Ckiiitz!
Bima langsung menghalangi gerakan taksi dengan menelusup dan mengerem mendadak mobilnya di depan mobil taksi yang ditumpangi oleh Mikhayla.
"Hei apa-apaan ini!" Pemilik taksi yang tidak senang berkendaranya diganggu langsung menghentikan mobilnya secara mendadak dan turun dari mobil.
Tok, tok, tok.
"Keluar!" perintah sopir taksi sambil mengetuk kaca mobil.
Bima dengan tenang keluar dari mobil.
"Apa mau anda? Anda tahu sikap berkendara anda seperti tadi bisa menyebabkan orang lain terluka bahkan menjemput nyawa."
"Saya tahu, tapi saya terpaksa karena ingin menyelamatkan calon istri saya."
"Maksud Anda?" sopir taksi itu bingung dengan perkataan Bima.
"Anda menculik istri saya. Kembalikan istri saya kalau tidak mau saya laporkan pada polisi!" ancam Bima.
"Apa?! Kau gila ya! Sudah jelas-jelas di mobil tersebut tertera tulisan taksi. Apa mungkin saya menculik istri Anda? Kalaupun ada istri anda di dalam sana maka dia hanya menikmati fasilitas jasa yang kami sediakan."
"Sekarang banyak model penculikan dengan modus menawar jasa sebagai taksi. Bisa saja kan hanya taksi gadungan?" ujar Bima sambil berjalan ke arah taksi.
__ADS_1
"Bawalah penumpangku kemanapun kau mau. Aku tidak mau ribet dan malas berhubungan dengan kalian!" teriak sopir taksi.
Melihat Bima akan segera sampai ke mobil taksi, Mikhayla menunduk dan berjalan ke arah depan lalu melompati sofa dan duduk di belakang setir. Dia langsung mengambil alih kemudi dan menyetir taksi meninggalkan tempat tersebut untuk menghindari Bima. Hari ini dia malas walaupun hanya sekedar mengobrol dengan Bima.
"Hei rampok! Rampok!" teriak sopir taksi salah paham.
"Mana rampoknya?" Orang-orang yang kebetulan melintas menghentikan mobil ataupun motor mereka lalu mengerumuninya sopir taksi dan juga Bima.
"Pergi dengan membawa taksi saya, dan pria ini adalah temannya. Pasti telah bersekongkol dengan wanita yang menculik mobil taksiku tadi."
Sontak saja orang-orang langsung menangkap tangan Bima ketika hendak masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Biar kujelaskan, semua hanya salah paham saja," terang Bima.
"Alah, tidak perlu omong kosong. Sudah jelas tadi kamu menghadang mobil saya dan setelahnya wanita yang pura-pura naik taksiku tadi langsung membawa kabur."
"Ah mana mungkin saya mau mengambil mobil taksi. Mobil di rumahku saja ada 3."
"Sudah-sudah jangan dengarkan dia. Segera bawa pria ini ke kantor polisi!"
Orang-orang pun langsung membaca Bima ke mobil mereka dan dibawa ke kantor polisi.
"Ya Tuhan kenapa Mika seceroboh ini sih?" gumam Bima dalam hati sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
****
Di tengah perjalanan, Mikhayla langsung dihadang oleh polisi.
"Eh, pak polisi ada apa Pak?" tanya Mikhayla kaget. Dia tidak sadar perbuatannya yang membawa taksi orang lain telah dilaporkan oleh sopir taksi.
"Anda ditangkap dengan tuduhan perampokan."
"Hah perampokan? Memang saya merampok apa Pak?" tanya Mikhayla masih tidak sadar.
"Anda membawa kabur mobil taksi orang."
Mikhayla langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan taksi.
"Ya ampun bagaimana ini bisa terjadi? Aku pikir mobil ini mobil Fergi."
"Pak ini hanya salah paham, saya terpaksa mengendarai taksi ini sebab sopir taksi lelet sekali mengendarai taksinya padahal saya sedang dikejar seseorang."
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi. Sekarang anda ikut kami!"
Mikhayla menarik nafas panjang.
"Baiklah," ucapnya pasrah.
***
"Kamu lagi. Sudah kubilang jauhi Bima. Kehadiranmu di samping kami hanya akan membawa petaka dalam kehidupan kami. Kau tetap saja wanita pembawa sial!" geram Fera melihat putranya akan ditahan akibat ulah Mikhayla.
Mikhayla hanya diam, malas melayani pasutri yang menurutnya aneh ini. Yang mengejar dirinya Bima, eh kedua orang ini yang selal mengatakan bahwa Mikhayla lah yang mengejar Bima.
__ADS_1
"Anda berdua kami bebaskan,"
ujar seorang polisi. Tentu saja Mikhayla maupun Bima kaget, sebab dari tadi menjelaskan ini itu para polisi bersikap seolah tidak percaya pada mereka. Namun, tiba-tiba saja mereka berdua dikatakan bebas.
"Mengapa bisa seperti ini Pak, bukankah bapak-bapak tadi tidak ada yang percaya pada kami?"
"Ada yang menjamin kalian berdua. Jadi kalian boleh pulang."
"Syukur Alhamdulillah." Mikhayla menghela nafas lega.
"Untung anak saya bebas kalau tidak kau yang harus mempertanggung jawabkan semuanya karena ini ulah nakal kamu," kecam Tian.
"Wah, wah, wah, pintar sekali kalian membalikkan fakta. Yang mengejar siapa dan yang dikejar siapa?" Fergi masuk ke dalam sambil bertepuk tangan.
"Kamu siapa. Ya jelaslah Mikhayla yang mengejar Bima. Orang dari kecil dia sudah menyukai Bima, tapi sayang dia tidak selevel dengan kami," sahut Fera.
"Oh ya siapa yang datang tadi pagi ke toko Mika? Tanyakan pada anak Nyonya sendiri.
"Fergi!" Mikhayla kaget ternyata Fergi tahu tentang kepergian dirinya dengan Bima tadi pagi.
"Kau siapa? Kenapa ikut campur urusan kami?" tanya Tian dengan angkuhnya.
Fergi mengulurkan tangan. "Perkenalkan, nama saya Fergi, calon suami Mikhayla."
"Apa?!" Tentu saja Bima kaget.
Mikhayla sendiri kaget dan langsung menutup mulut.
"Sebentar lagi kami akan menikah jadi jangan khawatir, Mikhayla tidak akan mau dekat-dekat dengan Bima lagi."
"Dan satu hal yang perlu kalian tahu, yang membebaskan putra kalian adalah saya dan saya peringatkan untuk bertindak lebih hati-hati ke depannya karena saya mungkin saja tidak akan menolong lagi."
Semua orang diam dan memandang Fergi tidak mengerti.
"Ayo Mik kita pulang sekarang!" ajak Fergi sambil mengulurkan tangannya ke depan Mikhayla.
Mikhayla menerima uluran tangan Fergi lalu bangkit dari duduknya. Mereka berdua berjalan keluar dari kantor polisi sambil bergandengan tangan.
Bima pun ikut bangkit dan keluar dengan ekspresi marah.
"Sombong sekali pria itu," geram Fera.
"Kita hancurkan Mikhayla melalui toko bunganya," bisik Tian di telinga Fera.
"Caranya Pa?"
"Kita buka toko bunga yang harganya lebih murah daripada toko Mikhayla."
"Ide bagus Pa, kita hancurkan harga agar Mikhayla kelabakan dan menangis karena harus kembali ke jalanan dan saya ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh pria itu untuk menolong Mikhayla."
"Kita lihat saja nanti Ma."
Bersambung.
__ADS_1