
"Kenapa penghasilan toko kita dari hari ke hari tambah merosot yang Bang Jo?" tanya Mikhayla pada Johan dan juga pada semua karyawannya.
"Itu bu sekarang orang-orang pada beli di toko baru yang ada di seberang jalan di dekat lampu merah itu," sahut Agnes.
"Ya betul itu Mik kukira nggak akan ngefek jadi aku nggak ngasih tahu kamu kalau toko kita ada saingan, eh ternyata malah begini," sambung Johan.
"Ada toko baru? Apakah pelayanan dan rangkaian bunganya lebih baik dari toko kita?"
Agnes menggeleng.
"Terus kenapa penghasilan kita merosot hampir dua kali lipat? Kalau begini terus kita bisa gulung tikar. Apa yang harus kita lakukan?" Mikhayla tampak berpikir keras.
Semua karyawan hanya diam, nampak berpikir sendiri-sendiri.
"Apa di toko baru itu laris, atau mungkin saja pembeli yang memang tidak membutuhkan bunga di bulan-bulan ini?"
"Sepertinya memang iya Bu, toko di sana membludak pembelinya berbanding terbalik dengan toko kita. Jadi bukan peminat bunga yang berkurang melainkan pelanggan kita sudah banyak yang berpindah tempat."
"Oh begitu ya?" Mikhayla tampak menggaruk kepala.
"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu menjaga kelangsungan toko ini Bu?" sela karyawan yang lain.
"Begini, bagaimana kalau saya perintahkan salah satu dari kalian untuk meneliti toko tersebut?"
"Maksudnya Bu Mika?"
__ADS_1
"Ada salah satu dari kalian yang pura-pura menjadi konsumen di sana. Cek kualitas dan harga kalau memang sama dengan punya kita, atau kualitas lebih baik, berarti kita harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Kita perbaiki kinerja kerja kita.
"Boleh juga itu Mik, sebagai tolak ukur kinerja kita. Apakah memang kualitas kita di sini rendah atau mungkin pelayanannya yang kurang, nanti kita bisa benahi bersama."
"Iya Bang Jo. Terus siapa yang mau ke sana?"
Mereka semua tampak berpikir. Setelah dipikirkan matang-matang akhirnya mereka mengutus Rina untuk membeli barang-barang di sana.
"Kalau Rina mereka tidak akan curiga sebab selama ini Rina kan ditugaskan untuk pengadaan barang sehingga jarang terlihat di toko. Saya kok jadi curiga ya toko baru itu dibangun untuk menghancurkan toko milik Bu Mika," tebak Agnes.
"Jangan berburuk sangka dulu lah Nes, dosa tahu," sanggah Rina.
"Iya, siapa tahu mereka membangun toko itu karena melihat prospeknya yang bagus," tambah Johan.
"Siap Bu."
"Oke sip. Kamu boleh pergi sekarang atau besok terserah kamu yang penting kita bisa mendapatkan informasi secepatnya," ujar Mikhayla lagi.
"Kalau begitu saya pergi sekarang juga Bu," pamit Rina lalu keluar dari toko.
"Eh tunggu Rin, uangnya!" seru Mikhayla.
"Oh iya Bu, saya lupa hehe." Rina cengengesan dan masuk kembali ke dalam toko.
"Entar kamu disangka mau nyuri lagi di tempat itu kalau tidak bawa uang," protes Agnes.
__ADS_1
"Nggak juga Nes, bilang aja cuma mau lihat-lihat doang. Kalau cocok beli nggak ya sudah kembali pulang."
"Terserah kamu lah Rin."
"Tunggu dulu ya Rin saya ambil uangnya!"
"Iya Bu."
Beberapa saat kemudian Mikhayla pun menyerahkan uang kepada Rina.
"Awas jangan dibawa kabur tuh uang. Laksanakan perintah Bu Mika kalau kamu masih ingin bekerja di tempat ini." Agnes bercanda sekaligus mengingatkan.
"Elaah Nes, emang kamu pikir aku Kinar apa? Aku punya otak loh Nes. Nggak mau lah menukar kesenangan sesaat dengan masa depan," bantah Rina.
"Kali aja kamu khilaf kayak Kinar."
"Ogah mana mau aku seperti itu."
"Sudah-sudah tidak usah berdebat. Pergilah Rin aku percaya padamu."
Rina mengangguk sambil berucap," Tuh kan Bu Mika aja percaya sama aku. Apa alasan kamu nggak percaya?"
"Iya, iya deh aku percaya. Sana buruan pergi!" usir Agnes dan Rina pun pergi sambil tertawa-tawa.
Bersambung.
__ADS_1