Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 40. Pernikahan Tanpa Cinta


__ADS_3

Di salah satu hotel bintang lima yang berada di kota Aussie, Australia sedang diadakan pernikahan antara Fergi dan Lucia.


Tidak banyak rekan-rekan yang datang untuk menghadiri acara pernikahan keduanya mengingat acara pernikahan itu mendadak dan dilaksanakan di negara orang.


Namun, Aditya tidak kehabisan akal untuk membuat pesta pernikahan itu ramai.


Mereka menebarkan selebaran makan gratis di hotel tersebut agar pernikahan keduanya bisa ramai seperti yang lainnya. Aditya juga menghubungi beberapa temannya yang tinggal di negara itu, begitupun dengan Loli dan juga orang tua dari Lucia.


Lucia menyalami tangan Fergi dan menciumnya setelah akad sudah selesai.


"Kecup dong kening istrimu," suruh Loli pada putranya.


Fergi menghela nafas berat sebelumnya akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh sang mommy.


Saat Fergi mengecup kening Lucia para pengunjung di hotel tersebut bersorak-sorai hingga suasana terdengar riuh. Saat itu pula Loli mengambil foto mereka berdua melalui ponsel Fergi dan mengirimkannya pada nomor ponsel Mikhayla.


"Semoga wanita itu tahu diri bahwa Fergi sudah punya istri," gumam Loli.


Tidak ada resepsi atas pernikahan keduanya karena tidak banyak kerabat dari orang tua Fergi maupun Lucia yang berada di sana. Para orang tua menunda resepsi mereka dan berencana akan mengadakan resepsi di tanah air saja.


Sudah kalian beristirahat ke dalam kamar kalian saja. Ayo daddy antar," ucap Aditya pada anak dan menantunya.


Fergi dan Lucia mengangguk dan mengikuti langkah Aditya ke kamar yang sudah disewa sebagai kamar pengantin oleh para orang tua.


"Kalian beristirahatlah, kami semua masih ingin mengobrol," ucap Aditya dan lagi-lagi keduanya hanya menjawab dengan anggukan.


"Bang akhirnya kita bisa menikah juga," ucap Lucia dengan ekspresi wajah yang sumringah.


"Kau senang kan dengan pernikahan ini?" tanya Fergi dengan menatap mata Lucia inten.


Tentu saja Gadis itu mengangguk. Menikah dengan Fergi adalah keinginan Lucia sejak kecil. Lucia memang mengagumi pria itu sejak masih TK karena saat itu Fergi terlihat begitu menyayangi dirinya. Seperti kakak yang menyayangi adiknya.


Tidak disangka rasa suka pada Fergi terus berkembang menjadi rasa cinta yang berlebihan seiring bertambahnya usia. Namun, berbeda dengan Lucia, Fergi malah benci dan risih sebab Lucia seakan ingin menempel padanya terus.


Ditambah lagi kedua orang tua mereka seolah mendukung keinginan gadis itu untuk bersatu dengannya.


"Sayangnya aku nggak," bisik Fergi di telinga Lucia.


Kalimat singkat itu mampu membuat hati Lucia sakit. Namun, dia sudah biasa mendapat penolakan seperti ini dari Fergi. Jadi dia akan terus berjuang mendapatkan hati suaminya itu. Yang terpenting Fergi sudah menikahi dirinya. Bagi Lucia akan semakin mudah untuk mengambil hati Fergi.

__ADS_1


"Tidak masalah kalau Abang tidak senang yang penting Lucia senang." Gadis itu masih berusaha untuk tetap bisa tersenyum. Untuk tetap kuat walaupun sebenarnya hatinya rapuh.


"Aku tidak tahu kenapa aku terus mencintaimu Bang, meskipun kamu sudah menolak ku berulang-ulang kali," batin Lucia.


Gadis itu bukannya tidak berusaha untuk melupakan Fergi. Sempat Lucia menjauh dari pria itu satu bulan dan selalu berdoa pada Tuhan agar menghilangkan perasaan cinta pada Fergi. Namun, doanya belum diijabah atau memang Lucia yang kurang keras berusaha.


Rasa rindu selama satu bulan begitu meledak hingga saat melihat Fergi Lucia langsung tidak tahan memeluk pria itu. Sontak apa yang dilakukan Lucia padanya membuat Fergi semakin membenci gadis itu. Bagi Fergi hanya wanita murahan yang main peluk pria sembarangan.


"Dasar gadis egois!" Fergi langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Lucia terduduk lemas di tepian ranjang.


"Ini sudah resiko dari keputusan yang kau ambil. Kau tahu kan Lucia bahwa Fergi tidak akan bisa mencintaimu." Sisi lain hati Luci seolah berbicara pada dirinya sendiri.


"Haah, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita terus berusaha." Lucia meyakinkan dirinya sendiri sambil meremas kedua tangannya.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang hotel.


"Mungkin tidak sekarang tapi suatu saat nanti. Kalau tidak berusaha bagaimana mungkin bisa memetik hasil yang manis." Gadis itu lalu tersenyum percaya diri.


Lucia membayangkan suatu saat nanti Fergi berubah menjadi pria yang sangat menyayangi dirinya. Bahkan Fergi marah-marah ketika ada pria asing yang memandang wajahnya.


Beberapa saat kemudian Fergi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Pria itu mengernyit melihat Lucia senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Jangan membayangkan yang aneh-aneh!" seru Fergi sambil berjalan mendekat dan ikut duduk di tepian ranjang.


"Tidak ada malam pertama meskipun kita sudah menikah karena pernikahan ini tanpa rasa cinta. Aku menikahimu karena lelah dengan bujukan dari mommy. Apa yang terjadi kemarin antara kita berdua di luar kesadaranku. Jadi jangan harapkan aku bisa melakukannya lagi meskipun kamu sudah menjadi istriku. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa mencintaimu."


Lucia tidak menjawab, tetapi bangkit berdiri dan meraih handuk menuju kamar mandi.


"Siapa juga yang membayangkan malam pertama," gumam Lucia setelah menutup pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Lucia mandi sambil bernyanyi-nyanyi untuk menghalau pikirannya yang kacau akibat kalimat terakhir yang diucapkan oleh Fergi tadi.


"Ya Tuhan semoga jangan sampai seumur hidup, berikan cinta Bang Fergi sebelum aku menghembus nafas terakhir," batin Lucia. Gadis itu tanpa sadar meneteskan air matanya.


Di tempat lain, dalam negeri.


"Mami! Mami!" teriak Cantika sambil berlari ke arah Mikhayla yang sedang melayani pembeli.

__ADS_1


"Ada apa Cantika? Mommy sedang sibuk ini," ujar Mikhayla lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada pembeli.


"Mau ditambahkan snack Mbak?" tanya Mikhayla.


"Boleh Mbak, anak saya pasti suka kalau ada makanan ringannya. Mbak Mika menyediakan atau saya harus membelinya di toko lain?"


"Ada kok Mbak asal cocok sih. Nes tolong ambilkan stok snack kita!"


"Oke Bu Mika, siap," jawab Agnes lalu berlari ke arah tumpukan bermacam-macam snack.


Melihat maminya yang sibuk Cantika dia dan berdiri mematung.


"Sebentar ya sayang setelah selesai kita akan mengobrol," ucap Mikhayla pada Cantika.


Cantika hanya bisa mengangguk pasrah dan fokus melihat ibunya yang tangannya bergerak begitu lincah merangkai bunga-bunga menjadi buket pesanan pembeli.


"Sini!" seru Mikhayla saat pembeli sudah pergi.


Cantika mengangguk dan mendekat.


"Ada apa? Kenapa Cantika terlihat murung?"


Cantika langsung memeluk sang mami dan menangis.


"Hei kenapa malah menangis? Ada yang menyakitimu? Atau Cantika kecewa karena mami lebih memilih melayani pembeli daripada mengobrol dengan Cantika?" cecar Mikhayla.


Cantika menggeleng.


"Terus karena apa?"


"Om Fergi mami, om Fergi." Cantika terisak.


"Om Fergi? Ada apa dengannya?" Mikhayla terlihat syok, dia pikir terjadi sesuatu dengan penerbangan Fergi. Pria itu mengatakan akan melakukan penerbangan malam ini sebelumnya pada Mikhayla.


"Dia ingkar janji pada Cantika," rengek gadis kecil itu.


"Ingkar janji apa?" Mikhayla benar-benar tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Cantika.


"Nih mami lihat sendiri! Om Fergi sudah menikah dengan wanita lain padahal sudah berjanji akan menjadi papi cantika," ucap Cantika sambil menyodorkan ponselnya ke arah sang mami.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2