
"Pantas saja." Gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan ruang rawat Mikhayla.
"Ada apa Lucia?" tanya sang ibu yang melihat anaknya kembali dengan muka yang ditekuk dan cemberut.
"Ditolak lagi sama Fergi?" tanya sang ibu lagi sebab putrinya tidak menjawab pertanyaannya.
Gadis itu menggeleng.
"Terus kenapa?"
"Bang Fergi sudah punya anak dan istri ternyata Mi, pantas saja selalu menolak Lucia." Gadis itu terlihat putus asa.
Mendengar penuturan Lucia sang ibu malah tertawa.
"Ih Mimi ngetawain Lucia?" Lucia merengut kesal.
"Bagaimana mimi nggak ketawa orang kamu bicara ngawur. Tadi menghilang eh tiba-tiba kembali dengan berita yang tidak masuk akal. Berita hoak." Sang mami tertawa lagi.
"Ya sudah kalau Mimi tidak percaya ikut aku!" Lucia menarik tangan sang ibu menuju area rumah sakit.
"Kau sakit? Kenapa mengajak Mimi ke sini?" Ibu Lucia menyentuh kening putrinya, tetapi Lucia melepaskan tangan sang ibu.
"Tidak panas kok."
"Memang, Lucia hanya ingin membuktikan kalau Lucia tidak berbohong."
Ibunya mengernyit, tetapi tetap mengikuti arah Lucia berjalan.
"Apa sih yang ingin kamu tunjukkan?"
"Nanti Mimi bakal tahu sendiri."
"Ya sudah deh," sang ibu pasrah.
Sampai di depan ruang rawat Mikhayla, Lucia menghentikan langkahnya. Wanita setengah baya itu kaget melihat Fergi menyuapi Mikhayla dan Cantika dengan telaten.
"Tuh Mimi lihat sendiri!"
Ibu Lucia langsung menelepon istri dari sahabatnya dan menanyakan tentang kebenaran, apakah Fergi benar-benar sudah menikah.
"Mana ada Hil, kalau dia menikah aku pasti tahu," terdengar suara seorang wanita dari balik telepon.
"Tapi ini loh Jeng saya melihat sendiri si Fergi menyuapi seorang anak dan perempuan dewasa, di dalam ruang rawat rumah sakit lagi," terang ibu dari Lucia yang dipanggil Hil tadi oleh ibu dari Fergi.
"Coba kirimkan gambarnya!"
"Oke."
Gambar Fergi dan Mikhayla pun berhasil diambil dan dikirimkan.
"Percaya 'kan Mi?"
"Iya percaya, kalau sudah tahu begitu berarti kamu nggak boleh ngejar-ngejar si Fergi lagi."
"Ah Mimi."
"Sudah ayo pergi dari sini!" Tangan Lucia ditarik oleh sang ibu.
"Mimi aku kangen sama Bang Fergi."
"Sudah ayo pergi!" Sang ibu langsung menarik tangan Lucia dan membawanya keluar dari area rumah sakit karena putrinya enggan pergi.
***
Malam menjelang Cantika tidak mau di ajak pulang karena ingin menemani sang mami di rumah sakit.
Agnes izin pulang dan Fergi yang menjaga keduanya di rumah sakit. Pria itu duduk di sebuah sofa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi hingga hampir saja tertidur.
__ADS_1
Drt, drt, drt.
Terdengar suara ponsel Fergi bergetar.
"Fer!" panggil Mikhayla dari atas ranjang. Cantika sudah tampak lelap di samping Mikhayla.
Tak ada jawaban, rupanya Fergi sudah mulai tertidur.
"Fer!" Masih tidak ada jawaban.
"Fer," teriak Mikhayla.
"Ada apa-apa, ada apa? Ya ampun Mik kamu ngangetin aku saja."
"Terpaksa, tuh ponselmu bergetar dari tadi. Cepat angkat barangkali ada yang penting!"
Fergi mengangguk dan langsung memeriksa ponsel dan mengangkat panggilan telepon.
"Halo Mom? "
"Halo Fer kamu dimana? Kenapa tidak pulang?"
"Fergi tidur di restoran saja Ma, capek mau pulang ke rumah," ucapnya berbohong.
"Baiklah kalau begitu, jangan lupa jaga kesehatan selalu."
"Yes Mom."
"Siapa Fer?" tanya Mikhayla sesaat setelah Fergi menutup panggilan telepon.
"Mommy."
"Kenapa kamu berbohong?"
"Ah sudahlah saya tidak ingin panjang urusannya jika jujur. Mataku ngantuk, boleh aku tidur duluan?"
Mikhayla menghela nafas panjang lalu menghembuskan dengan perlahan. Dia merasa selama ini selalu merepotkan Fergi.
"Tidurlah Fer mengapa masih bengong saja?"
"Kamu tidak apa-apa 'kan? Nanti kalau butuh sesuatu bangunkan aku!"
"Oke."
Fergi berpindah pada kursi panjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Mikhayla pun ikut memejamkan mata sebab malam sudah semakin larut.
Di rumah yang terlihat besar dan megah seorang wanita menelpon seseorang untuk menyelidiki wanita yang ada dalam foto.
"Cepat selidiki seperti apa personality wanita yang bersama putraku ini!"
"Baik Nyonya."
Esok hari Fergi terbangun mendapati Agnes sudah ada di ruang rawat Mikhayla.
"Karena kamu sudah datang aku pergi ya Nes?"
"Iya Pak, tapi tidak menunggu mereka bangun dulu?"
"Tidak usah, sepertinya mereka masih nyenyak dan bisa lama tidurnya."
"Perlu dibangunin Pak?"
"Tidak usah Nes kalau mereka bangun sampaikan saja bahwa aku harus pergi karena harus bekerja kembali di Restoran."
"Baik Pak."
Fergi mencangklongkan jaketnya di bahu lalu keluar dari ruang rawat Mikhayla.
__ADS_1
"Kau sudah datang Nes, bagaimana keadaan toko?" Mikhayla terbangun saat mendengar suara berisik dari Agnes yang menelpon seseorang.
"Aman terkendali Bu. Bu Mika tidak perlu memikirkan keadaan toko kami semua sudah menghandlenya dengan baik."
"Kalian memang bisa diandalkan, terbaik pokoknya," ujar Mikhayla membuat senyuman terbit di bibir Agnes karena mendapat pujian.
"Oh ya Bu kata dokter nanti sore Bu Mika sudah bisa pulang."
Mikhayla mengangguk.
Di tempat lain. "Apa! Dia janda dengan satu anak?"
"Iya Nyonya, menurut informasi suaminya meninggal sebelum bayinya berumur satu bulan."
"Oke, ada informasi lain?"
"Ada Nyonya."
"Katakan!"
"Wanita ini mengisi tokonya dengan modal dari putra Nyonya."
"Apa? Apa kau tidak salah informasi?"
"Tidak Nyonya."
"Ada informasi lain lagi?"
"Wanita ini bernama Mikhayla dan dia akan keluar dari rumah sakit sore ini."
"Ikuti dia! Beritahu alamat tempat tinggalnya!"
"Oke siap Nyonya."
Sore hari Mikhayla sudah mempersiapkan diri untuk pulang ke ruko. Agnes membantu sebisa mungkin. Dia membantu Mikhayla berkemas dan menyediakan kendaraan untuk ditumpangi mereka semua kembali ke ruko.
Saat mereka keluar, taksi yang Agnes pesan sudah standby menunggu pelanggannya sehingga mereka bisa langsung pulang tanpa menunggu terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian taksi yang mereka tumpangi sudah parkir di depan toko.
Agnes menuntun Mikhayla kembali masuk ke dalam kamar sedangkan Cantika berjalan di depan mereka dengan bernyanyi kecil.
Baru saja masuk kamar, Mikhayla diberitahu oleh salah seorang karyawannya bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Siapa ya?" Mikhayla tampak berpikir.
"Nggak tahu Bu."
"Apa ibu dari Kak Bima?"
"Biar Ibu Mika tidak penasaran lebih baik temui saja langsung. Kalau Bu Mika masih pusing biar saya ajak tamunya ke sini. Apakah boleh Bu?"
"Tidak perlu biar saya saja yang keluar."
"Baik Bu." Karyawan di toko bunga itu meninggalkan kamar Mikhayla dan Mikhayla langsung keluar kamar untuk menemui tamunya yang sudah duduk di kursi sambil bersandar.
"Maaf Bu ada yang perlu saya bantu?" tanya Mikhayla dengan sopan.
"Kamu yang namanya Mikhayla?"
"Benar."
"Jauhi anak saya!"
"Maksud ibu?" Mikhayla sama sekali tidak mengerti siapa yang dibicarakan oleh orang yang duduk di hadapannya kini.
"Fergi. Jauhi putra saya!
__ADS_1
Bersambung.