
"Rasanya bagaimana Pak?" Ternyata Mikhayla begitu penasaran melihat Fergi masih mengambil lagi sebagian pie dan mengunyah.
"Anda ternyata sangat penasaran." Fergi tersenyum ke arah Mikhayla dan wanita itu hanya mengangguk dengan canggung.
"Rasanya ... lapisan luarnya empuk dan lembut, terus rasa isiannya juicy dan lezat."
Senyum mengembang di bibir Mikhayla.
"Selamat Anda masuk ke tantangan berikutnya." Fergi mengulurkan tangan ke arah Mikhayla dan wanita itu menerima jabatan tangan Fergi.
"Sudah siap atau masih butuh waktu untuk istirahat?"
"Bisa tidak kalau tidak ada tantangan kedua?" Rupanya Mikhayla mencoba melakukan penawaran.
"Oh tidak bisa, ini sudah aturannya dan harus sportif."
"Ayo Mami pasti bisa! Mami Mikhayla, kan Mami hebat." Cantika masih menyemangati dengan menunjukkan jari jempolnya kepada Mikhayla.
"Putrimu?" tanya Fergi penasaran.
"Iya Tuan."
"Imut sekali, aku suka anak perempuan yang cantik dan ceria."
"Terima kasih dan sebaiknya tantangan keduanya langsung dimulai Tuan sebab hari sudah menjelang sore."
"Baik saya akan langsung praktek dan harap dilihat step by step biar bisa menghasilkan kue yang rasanya sama. Bisa tidak sama asal lebih lezat. Menu kedua seperti yang saya sebutkan tadi, Honey cake atau biasa disebut Medovik. Menu ini adalah hidangan penutup atau dessert. Oke sudah siap menyaksikan?"
"Sangat siap Tuan."
Fergi pun mempraktekkan cara membuat kue Medovik. Setelah selesai dia mempersilakan Mikhayla untuk mencicipi hasil kue buatannya.
Gambar: Kue Medovik.
"Seperti itu kira-kira rasanya," ujar Fergi saat Mikhayla mengunyah kue Medovik buatannya.
"Bagaimana bisa, bukan?"
"InsyaAllah Tuan."
"Silahkan." Fergi meninggalkan kitchen set-nya dan mempersilahkan Mikhayla menggantikan posisinya.
"Mami bisa!" teriak Cantika membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang termasuk Fergi.
"Kau lucu sekali." Fergi mencubit pipi Cantika dengan gemas.
"Om jangan cubit-cubit, tidak boleh!" Cantika protes.
"Kenapa memangnya?" tanya Fergi penasaran.
"Tidak ada yang boleh menyentuh Cantika kecuali mami, apalagi laki-laki. Cantika tidak suka." Gadis kecil itu cemberut.
"Iyakah? Bagaimana kalau om ajak kamu duduk di sana sambil makan-makan dan ngobrol?"
Tiba-tiba Cantika mengingat rasa laparnya tadi. Dia dan Mikhayla datang ke restoran ini untuk makan siang, tetapi terlupakan karena even masak-memasak.
Cantika tampak berpikir.
"Tenang om yang traktir."
Cantika tersenyum dan langsung memanggil Mikhayla.
"Mi, Cantika mau makan sama om ganteng ini, boleh?"
Mikhayla yang sedang fokus mencampur adonan kaget. Dia tidak pernah melupakan makan siang untuk Cantika sesibuk apapun dirinya, tetapi sekarang malah kelupaan.
"Boleh Sayang."
Cantika mengangguk sambil tersenyum.
"Horee!"
"Oke Om."
"Kalau begitu ayo!" Fergi melepaskan celemek dan memberikan pada karyawannya.
Fergi berjalan menuju meja yang tidak jauh dari Mikhayla agar masih bisa memantau jalannya acara tantangan.
"Namamu siapa?" tanya Fergi setelah Cantika duduk dengan tenang.
"Cantika Mikhayla Putri, anak mami Mika yang paling cantik." Cantika narsis sendiri.
Fergi menggeleng sambil tersenyum. "Tapi kok saya lihat cantikan maminya ya?"
Cantika tampak cemberut lagi dan melengos kemudian beralih menatap Mikhayla yang fokus membuat kue.
"Iya, kan? Lebih cantikan mami kamu?" goda Fergi lagi agar anak tersebut semakin cemberut. Fergi merasa lucu dengan pipi chubby Cantika ketika sedang kesal.
__ADS_1
"Iyalah lebih cantik mami, kan kecantikan mami belum diturunkan semuanya pada Cantika. Nanti kalau Cantika sudah dewasa, Cantika akan jauh lebih cantik dari mami. Selain kecantikan mami, Cantika akan mewarisi kegantengan wajah papi juga."
"Oh ya? Ngomong-ngomong kamu ke sini hanya berdua saja sama mami? Nggak ngajak papi kamu juga?"
Cantika menggeleng sedih. "Papi sudah tiada, kata mami, papi sudah meninggal."
"Oh sorry, om membuatmu bersedih. Sekarang makan ya." Fergi menjentikkan jari memanggil pelayan
restoran.
"Bawakan makanan yang enak-enak buat kami terutama yang biasanya disukai anak-anak!"
"Baik Pak."
Tidak membutuhkan waktu lama para karyawannya sudah menghidangkan berbagai macam menu di meja.
"Ayo makan!" perintah Fergi pada Cantika.
"Saya bingung Om mau makan yang mana." Cantika memandang satu persatu menu yang ada di meja. Menu yang beragam membuatnya bingung. Maklumlah selama hidup dengan Mikhayla menu yang disantap Cantika yang sederhana saja.
Fergi terkekeh. "Pilih yang kamu sukai!"
Cantika mengangguk dan mengambil makanan yang diinginkannya. Namun, sebelum menyendok ke mulut gadis kecil itu menoleh pada Mikhayla lagi.
"Mami pasti lapar, mami juga belum makan siang."
"Nanti setelah mami kamu selesai melakukan tantangan yang diberikan om, mami kamu bisa langsung makan gratis di sini. Berhubung mami sedang sibuk kita makan duluan saja."
"Oke siap Om." Cantika sumringah.
Mereka berdua pun makan siang yang tertunda bersama sambil menunggu hasil kue buatan Mikhayla.
"Oh ya Om ganteng namanya siapa?" tanya Cantika selesai makan.
"Kamu nggak perlu tahu."
"Om pelit, nama aja nggak boleh tahu."
"Aih kalau om pelit mana mungkin om mau traktir kamu."
"Iya juga ya," ucap Cantika polos.
"Aku nggak mau ngasih tahu nama biar kamu manggil om dengan sebutan om ganteng terus," kelakar Fergi dan Cantika hanya diam sambil menyaksikan sang mami yang sudah menyelesaikan tantangannya.
Melihat Cantika memandang ke arah Mikhayla, Fergi pun mengikuti arah pandangan gadis itu.
Fergi bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Mikhayla.
"Seberapa persen kamu yakin akan berhasil?" tanya Fergi sambil menatap Medovik buatan Mikhayla.
"Seratus persen Tuan."
"Wow percaya diri sekali." Fergi langsung mengambil sendok dan memotong kue tersebut lalu mencicipinya.
"Hmm, boleh. Rasanya bahkan lebih lezat dari buatanku. Manisnya pas di lidah dan teksturnya lembut. Lapisannya juga rapi. Selamat Anda berhasil meraih hadiah 25 juta dari saya."
Mikhayla langsung melakukan sujud syukur sebab sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu satu hari. Ternyata uang yang dibawa kabur Kinar, Tuhan menggantinya dengan rezeki yang lain.
Cantika langsung memeluk sang mami. "Apa Cantika bilang? Mami pasti bisa." Anak itu tersenyum menampilkan deretan gigi susunya yang masih rapi.
"Berkat kamu Sayang. Kamu yang menjadi semangat mami."
Entah mengapa Fergi terharu melihat keakraban ibu dan anak tersebut apalagi dia juga tahu Mikhayla membesarkan Cantika tanpa bantuan seorang suami.
"Untuk merayakan kemenangan kamu, silahkan makan-makan dulu. Sayangnya saya dan Cantika sudah kelaparan terlebih dahulu sehingga tidak sanggup menunggu Anda. Namun, tenang saja kami berdua akan menemani, iya, kan anak manis?"
Cantika menjawab dengan menunjukkan 2 jari jempolnya.
Selesai makan-makan, Fergi mengajak Mikhayla mengobrol sebentar termasuk menanyakan uang yang didapat akan digunakan untuk apa. Tentu saja Mikhayla menjawab untuk membuka usaha bunganya kembali. Fergi pun berjanji akan membantu dan akan menambah modal jika uang Mikhayla tidak mencukupi.
"Saya memang membuka usaha bunga, tapi saya kapok dengan uang yang berbunga Tuan. Biarkan saja saya akan memulai usaha semampunya dengan uang seadanya," tolak Mikhayla akan tawaran bantuan dari Fergi.
"Kau pikir aku rentenir atau depkolektor begitu?" protes Fergi.
"Zaman sekarang tidak ada yang gratis, kan Tuan? Saya pun tidak mau dengan yang gratisan, takut hutang budi."
"Tidak masalah, kita bagi hasil saja. Anggap saja saya menanam saham."
Mikhayla terkekeh. "Kayak perusahaan saja pakai istilah menanam saham segala, tapi sepertinya saya menerima tawaran Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan, Panggil nama saja! Fergi." Fergi memperkenalkan diri.
"Mikhayla."
Cantika malah mencebik melihat Fergi menyebutkan nama di depan sang mami.
Besok saya akan langsung mengurus segalanya. Berikan alamatmu!"
Sebelum Mikhayla pergi dari restoran beberapa wartawan datang mewawancarai Fergi. Dalam hati Mikhayla bertanya-tanya apakah pria yang mengobrol dengannya adalah seorang artis sehingga mengundang banyak wartawan.
__ADS_1
Tapi sudahlah ini bukan urusanku.
Mikhayla tampak menggenggam tangan Cantika dan hendak membawa putrinya keluar dari restoran. Namun, kepergian keduanya ditahan oleh wartawan dan mereka meminta Mikhayla agar bersedia diwawancarai sebagai pemenang tantangan yang diadakan oleh Fergi di restorannya itu. Dengan terpaksa Mikhayla menyanggupi permintaan wartawan.
Hari sudah malam saat Mikhayla akan pulang. Fergi berinisiatif untuk mengantarkan keduanya. Awalnya Mikhayla menolak karena tidak ingin merepotkan orang lain. Namun, karena desakan Cantika dia pun mau diantarkan oleh Fergi ke ruko tempatnya tinggal.
Esok hari saat Mikhayla terbangun dari tidurnya ternyata sudah ada mobil truk dan pick up yang berbaris di depan rumah dan ternyata mereka mengangkut bunga dan bahan-bahan lain untuk mengisi toko.
"Fergi memang hebat." Mikhayla tidak habis pikir bagaimana Fergi bisa mengumpulkan barang-barang itu dalam semalam.
"Yah namanya orang kaya mah bebas," ujarnya kemudian. Setelah semua barang diturunkan oleh kuli angkut, Mikhayla langsung menghubungi Fergi untuk mengucapkan terima kasih.
Di tempat lain.
"Pa, itu kan Mikhayla." Fera menunjuk ke arah wajah Mikhayla yang terpampang di layar televisi.
"Biarkan saja Ma. Memang Mama mau apa sama dia?" Tian cuek sambil menghisap rokoknya. Asap mengepul ke udara.
"Pa, Papa lihat dululah! Itu anak di sampingnya benar-benar mirip Bima. Apa benar anak kita yang menghamili dia?"
"Kalau iya kenapa Ma, aku tidak sudi mendapatkan menantu tidak jelas seperti dia. Mama lihat sendiri, kan bagaimana dia melawan saya beberapa tahun yang lalu?"
"Tapi Pa bagaimana kalau gadis kecil itu memang benar-benar cucu kita? Papa tidak takut Bima akan terjerat dengan Mikhayla jika tahu apa yang dikatakan wanita itu tidak berbohong kalau dia benar-benar mengandung cucu kita."
Tian mematikan rokok dengan menekan pada asbak.
"Kita lakukan sesuatu. Kita culik gadis kecil itu dan katakan pada Bima kita mengangkatnya dari panti asuhan sebab wajahnya kebetulan mirip dengannya."
"Ide bagus Pa, tapi dimana kita akan menemukan gadis kecil itu?"
"Kita datangi stasiun penyiaran barangkali dia tahu alamat mereka tinggal atau kalau tidak bisa tanyakan langsung pada chef Fergi."
"Saya setuju dengan usul papa."
Tian tersenyum licik. "Kita cari waktu yang tepat sebelum melakukan aksi penculikan."
***
Toko Mikhayla sudah kembali seperti semula dan sisa hutang pada Ganjar sudah lunas semuanya. Semua karyawan sudah kembali kecuali Kinar. Kali ini Mikhayla bisa bernafas dengan tenang.
Hari demi hari Fergi datang ke toko dengan alasan ingin mengontrol keadaan toko. Nyatanya pria itu sebenarnya mulai tertarik dengan Mikhayla dan ingin selalu dekat dengan Mikhayla dan Cantika.
Suatu hari pesanan membludak. Fergi pamit pulang sebab tidak ingin mengganggu pekerjaan orang-orang di toko.
Semua karyawan bekerja keras dan masing-masing ditugaskan untuk mengantar pesanan ke berbagai tempat karena waktunya berjauhan antara pemesan yang satu dan pemesan yang lainnya dan mereka sama-sama ingin dikirim secepatnya.
Mikhayla sekarang hanya berdua saja dengan Cantika di toko. Mikhayla sibuk merangkai bunga sedangkan Cantika sibuk bermain-main di teras toko.
Tiba-tiba saja ada seorang pembeli yang mendatangi Mikhayla dan bertanya banyak hal tentang bunga sebelum memutuskan untuk membeli tanaman hias. Seperti biasa Mikhayla tidak pernah menolak untuk menjelaskan.
Saat Mikhayla fokus menjelaskan tentang bunga dan cara perawatannya kepada calon pembeli ternyata ada sepasang suami istri yang mendekat ke arah Cantika dan mengajak gadis kecil itu mengobrol dan merayu. Seperti terhipnotis Cantika langsung mengiyakan saat pasangan suami istri itu mengajaknya pergi dari tempat tersebut.
"Bagaimana bapak jadi ingin membeli bunganya?"
"Maaf Mbak tidak jadi sebab harganya terlalu mahal."
"Mahal? Saya hanya mengambil keuntungan sedikit loh Pak. Kalau harganya dikurangi toko kami bisa merugi apalagi toko kami juga menyediakan harga yang pas, jadi nggak ada yang namanya tawar-menawar."
"Kalau begitu tidak jadi, lain kali saja sebab uang saya tidak cukup hari ini."
"Baiklah saya doakan agar rezeki Bapak dilebihkan oleh Tuhan sehingga suatu hari nanti Bapak bisa kembali ke tempat ini dan bisa membeli bunga kami."
"Aamiin terima kasih doanya." Pria itu melirik ke arah orang yang menyuruhnya setelah memastikan kedua orang yang menyuruhnya itu sudah tidak ada di tempat pria itu langsung bergegas ke luar toko.
Saat pria itu pergi dengan motor, barulah Mikhayla sadar bahwa Cantika tidak ada di tempatnya bermain tadi.
"Cantika, kamu dimana Nak?" Mikhayla mencari Cantika ke segala sudut ruangan.
"Cantika!" Mikhayla mulai panik.
"Cantika Sayang kamu dimana? Dimana sih tuh anak, nggak biasanya menghilang seperti ini." Mikhayla sangat khawatir sehingga tubuhnya terlihat gemetar.
"Cantika!" teriaknya kencang.
"Mungkin ada dikamar." Mikhayla segera berlari menuju kamar. Sepi tidak ada Cantika di sana, bahkan kamarnya masih terlihat rapi.
"Cantika!" teriak Mikhayla histeris sambil berlari keluar dari area toko dan mencari putrinya di jalan raya.
"Ada apa Mbak?"
"Putri saya hilang Mbak. Apakah Mbak melihatnya?"
"Sepertinya dia tadi pergi dengan sepasang suami-istri dengan mobil. Saya pikir mereka adalah kakek dan neneknya," ujar tetangga yang kebetulan melintas.
"Ya Tuhan, Cantika diculik. Apa yang harus saya lakukan? Siapa mereka?"
Mikhayla terduduk di tepian jalan raya sebab tenaganya sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Dia lemah tanpa Cantika.
Bersambung.
__ADS_1