Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 35. Tidak Mau Kalah


__ADS_3

"Ada apa Mi?" Cantika yang merasa ditatap dengan tatapan yang berbeda dari Mikhayla langsung bertanya.


"Ah tidak apa-apa. Kamu ngomong apa sama Om Fergi sebelum dia berangkat ke luar negeri?"


Cantika menggeleng.


"Oh ya sudah lanjutkan saja makannya!"


Cantika terus menerima suapan demi suapan dari Bima sementara Mikhayla membantu Agnes melayani beberapa pembeli yang mulai berdatangan.


Memang di toko Mikhayla sering ada pelanggan yang tidak mau jika yang merangkai bunga yang dipesannya bukan Mikhayla melainkan para karyawannya dan terbukti saat hampir semua orang pindah memesan ke toko lain pelanggan yang seperti itu yang paling setia. Mereka hanya puas dengan bunga hasil rangkaian Mikhayla.


"Mi Om Fergi tidak menelpon? Cantika kangen."


"Ini kamu telepon sendiri saja ya mami sedang sibuk saat ini." Mikhayla menyodorkan ponselnya ke arah Cantika.


Cantika bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel dari tangan maminya lalu kembali duduk di samping Bima.


"Memang Cantika sudah bisa membaca? Nanti teleponnya salah orang lagi," kelakar Bima.


"Nggak Om Cantika sudah bisa baca meskipun kadang harus dieja, tapi kalau nama Om Fergi Cantika sudah hafal."


Bima mengangguk dengan perasaan yang tidak suka. Dia tidak suka Cantika dekat dengan yang namanya Fergi.


Sesudah para pelanggan pergi, tiba-tiba Tutik berlari dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arah Mikhayla.


"Ada yang gawat? Kenapa berjalan terburu-buru seperti itu?" Mikhayla mengernyit melihat Tutik tidak seperti biasanya.


"Maafkan saya Bu Mika, gara-gara saya ikut jadi ketahuan semuanya," ujar Tutik merasa bersalah.


"Maksud kamu apa sih?" Mikhayla tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Tutik saat ini.


"Itu!" Tutik menunjuk ke arah luar dimana ada Fera yang sedang berjalan ke arah toko dengan gesture tubuh yang terlihat marah.


"Ada apa ini?" Mikhayla menoleh, menatap Bima yang masih fokus menyuapi putrinya. Mungkin tinggal satu suapan lagi Cantika selesai makan.


"Cantika kalau sudah selesai langsung masuk ke dalam ya Nak! Telepon Om Fergi di dalam saja!" perintah Mikhayla sebab merasa keadaan di toko selanjutnya akan tidak aman.


"Aku ke dalam ya Om. Om mau ikut?" tanya Cantika pada Bima.


Bima yang memang penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Cantika dengan Fergi pun mengangguk dan turut masuk ke dalam.

__ADS_1


"Dapurnya dimana Cantika?"


"Di sana Om!" Cantika menunjuk ke arah dapur sedang dirinya langsung menuju dispenser untuk minum.


Setelahnya Cantika duduk dan menelpon Fergi. Bima yang sudah menaruh piring pun duduk du dekat Cantika.


"Hai Om!" Cantika menyapa Fergi lewat video call-nya.


"Hai Cantika apa kabar?"


"Baik Om. Om Fergi sendiri?"


"Baik juga. Cantika bisa lihat sendiri sekarang wajah Om Fergi ceria sebab sedang bahagia."


"Ada kabar baik? Om Fergi menang ya lomba memasaknya?"


"Yup berkat doa kamu dan mami Mika dan setelah Om Fergi pulang Om Fergi akan menepati janji Om pada Cantika."


"Janji?"


"Iya, tara ...." Fergi menunjukkan kotak cincin yang berisi 2 cincin dengan model yang sama.


Deg.


Jantung Bima mendadak berdetak kencang.


"Apa Mikhayla dan pria itu akan menikah?" Bima terlihat syok dengan kenyataan yang menampar dirinya. Dia pikir Mikhayla masih mencintai dirinya, tetapi sayangnya keyakinan dirinya salah besar.


Awalnya Cantika juga tersenyum senang, tetapi kemudian menatap Bima dengan sedih sebab terlihat gurat kekecewaan di mata Bima.


"Cantika tidak senang ya?" tanya Fergi menyadari raut wajah Cantika berubah seketika.


"Ah tidak Om, Cantika hanya sakit perut, udah dulu ya Cantika mau beol." Cantika langsung menutup panggilan video call-nya.


"Om Bima tidak suka?" Cantika menatap Bima dengan intens.


"Ya Om Bima memang tidak suka jika ada pria yang mendekati mami kamu apalagi sampai mau menikahi mami Mika."


"Kenapa?" tanya Cantika penasaran.


"Karena Om Bima mencintai mami kamu dan Om Bima yang ingin menjadi ayah sambung kamu," tegas Bima.

__ADS_1


"Apa? Tapi Om Fergi sudah mau melamar mami setelah pulang dari luar negeri," ujar Cantika bingung.


"Kalau begitu Om Bima yang akan mendahului melamar mami kamu," jawab Bima dengan begitu yakin.


Di luar sana Fera mencari-cari keberadaan Mikhayla padahal wanita itu sedang sibuk merangkai bunga dan mencoba tidak perduli dengan keadaan sekitar.


"Mika keluar kamu!" teriak Fera sambil terus berjalan ke dalam toko.


"Ada apa Tante?" tanya Mikhayla dengan ekspresi wajah yang begitu tenang.


"Dasar perempuan tidak tahu diri ya kamu setelah menghancurkan toko kami sekarang kau malah menjerat putraku lagi. Mana Bima sekarang?"


Mikhayla mengangkat kedua bahunya acuh.


"Kau kira aku tidak tahu bahwa dia ada sini? Kau pikir aku buta hingga tidak bisa melihat mobilnya?"


"Maaf Tante saya tidak pernah mengundang Kak Bima kemari. Kedatangan dia kemari sama halnya dengan kedatangan Tante Fera. Tamu tak undang," kesal Mikhayla.


"Oh jadi kau menyamakan aku dengan maling begitu?"


"Saya tidak mengatakan seperti itu. Tapi apa namanya ya jika seseorang itu mengambil pelanggan orang lain dengan cara tidak sehat?"


"Kau–" Fera mengangkat tangan hendak menampar Mikhayla.


"Ma!" bentak Bima dan langsung menepis tangan Fera.


"Lepaskan Bim, dia harus diberi pelajaran!"


"Jangan Ma, Bima mohon! Jangan sampai Mika semakin membenci Bima. Bima cinta Ma sama Mika dan Bima tersiksa tanpa dia."


"Perempuan di luaran sana banyak Bim, jadi buat apa kamu masih berharap pada wanita ini? Dia tidak sepadan dengan keluarga kita. Ayahmu seorang direktur di sebuah perusahaan dan kau sebentar lagi juga akan menjadi seorang dokter sedangkan dia? Dia hanyalah sampah yang tidak berguna."


"Ma hentikan ocehan mama!"


"Sampai kapanpun Mama tidak akan merestui hubungan kalian."


"Bima tidak perduli Ma. Bima tetap akan menikahi Mikhayla dengan atau tanpa restu mama."


"Pergi! Pergi kalian berdua aku pusing mendengar kalian bertengkar!" Terpaksa Mikhayla mengusir keduanya sebab mendengar keributan di tokonya itu, kepala Mikhayla kembali berdenyut sakit.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2