
"Cantika maafkan Mami."
Cantika masih tidak merespon perkataan Mikhayla. Mendapatkan bentakan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan membuatnya syok. Selama ini, jangankan membentak, marah pun pada Cantika Mikhayla tidak pernah melakukannya.
"Maafkan mami yang telah membentakmu, bukan maksud mami berkata kasar pada Cantika. Mami sangat sayang pada Cantika." Mikhayla mengusap bahu Cantika lalu beralih menggenggam tangan Cantika yang masih gemetar. Mikhayla paham putrinya syok saat ini sebab sebelumnya Mikhayla tidak pernah marah apalagi membentak putrinya.
Mikhayla menatap wajah sang Mami dengan tatapan sedih.
"Maafkan Mami yang egois ini, bukan maksud Mami ingin berkata kasar padamu dan melarangmu untuk bertemu kembali dengan Om Fergi. Mami memang yang meminta Om Fergi untuk tidak datang lagi ke sini. Itu semua Mami lakukan karena Mami tidak ingin Mommy-nya Om Fergi datang lagi dan marah-marah kembali pada Mami." Mikhayla memeluk erat tubuh Cantika dan mencium wajah putrinya dengan pipi yang sudah basah.
Pipi mereka sama-sama basah oleh air mata sebab Cantika yang sedari tadi menahan tangisnya kini tangis itu pecah sudah saat mendapatkan perlakuan lembut dari sang mami.
Cantika pun balas memeluk erat tubuh Mikhayla. "Cantika yang minta maaf, Cantika janji nggak akan membantah Mami lagi, Cantika tidak akan minta bertemu Om Fergi lagi." Cantika berkata dengan terisak.
Mendengar pernyataan Cantika, Mikhayla menghembuskan nafas berat. Sebenarnya dia tidak tega pada putrinya, tetapi apalah daya dia juga tidak ingin orang tua Fergi menganggap macam-macam jika dirinya masih berhubungan dengan Fergi. Dia juga tidak ingin dicap sebagai wanita murahan karena dianggap mendekati tunangan orang lain. Dia juga seorang wanita, bagaimanapun dia paham akan rasa sakit hati terhadap wanita lain yang mendekati pasangannya.
"Nanti kita ketemu Om Fergi, tapi jangan sekarang ya. Awal bulan saja sebab Mami akan totalan dengan Om Fergi."
Cantika mendongak, menatap wajah Mikhayla tak percaya. Melihat maminya tersenyum Cantika pun ikut tersenyum.
"Sekarang Cantika makan ya!"
Cantika mengangguk. "Biar Cantika makan sendiri." Meraih piring yang ada di atas kasur.
"Biar mami yang suapi saja agar cepat." Mikhayla meraih piring dari tangan Cantika.
Cantika pun membiarkan Mikhayla menyuapi dirinya.
Selesai makan Mikhayla memandikan Cantika kemudian mandi sendiri. Setelah selesai mandi Mikhayla menyuruh Cantika untuk tidur siang. Cantika meminta ditemani membuat Mikhayla yang mengeloni putrinya ikut tertidur.
***
"Kau Mailena tunggu!" Mikhayla berlari mengejar sang kakak yang berlari di tengah kabut salju yang mengepul. Bahkan kabut terselubung menghalangi pandangan matanya.
"Kak tunggu!" teriak Mikhayla melihat sang kakak sudah menghilang di tempat itu.
__ADS_1
Kabut salju menguar ke udara membuat pandangan Mikhayla jelas kembali. Namun, sepanjang perjalanan dimana kakinya berpijak hanya ada hamparan salju putih seperti kapas.
"Aku berada dimana ini? Kemana Kak Mailena?" Mikhayla terus melangkah menyusuri dataran es yang dikelilingi bukit bersalju. Bahkan saat bernafas mulutnya pun mengeluarkan asap.
Sejauh mata memandang hanya warna putih yang mendominasi. Pohon-pohon tertutup daunnya dengan bongkahan salju dimana di ranting-rantingnya tergantung penerangan yang mengeluarkan cahaya kuning.
Dari seratus meter tempatnya berdiri terlihat rumah yang atapnya juga tertutup salju dengan lentera yang tergantung di dinding depan rumahnya.
Dengan pelan Mikhayla melangkah ke arah rumah tersebut dengan bersedekab dada. Tubuh Mikhayla terlihat bergetar kedinginan sebab dia sama sekali tidak menggunakan jaket atau baju tebal lainnnya.
Dari dinding yang terbuat dari kayu, dibawah sorot lampu yang menyala redup Mikhayla menangkap siluet seseorang.
"Kak Mailena!" Segera Mikhayla berlari ke arah tersebut tanpa menghiraukan kakinya yang terasa licin hingga berkali-kali terjatuh, tetapi terus bangkit lagi.
Sampai di depan rumah yang terlihat seperti gubuk itu Mikhayla terdiam. Malena memandang dirinya dengan senyum yang mengembang. Namun, bibir wanita itu terlihat putih pucat.
"Kak Mailena, apa penyakit kakak sedang kambuh?"
"Mika, kakak sudah sembuh. Kakak sudah tidak merasakan sakit lagi. Kau pulanglah! Ayah dan ibu membutuhkanmu."
"Kakak juga pulang!" Mikhayla menarik tangan Mailena dan hendak membawa wanita itu pulang bersamanya.
"Kenapa Kak?"
"Aku suka tempat ini. Tempat ini begitu damai. Pulanglah! Kembalilah pada Bima. Kutitipkan dia padamu. Maafkan Kakak." Setelah mengatakan semua itu tubuh Mailena langsung menghilang.
Mikhayla kaget melihat Mailena menghilang begitu saja. Tubuhnya membeku, seperti bekunya alam sekitar tempat kakinya berpijak kini.
Beberapa saat tersadar Mikhayla meneriakkan nama Mailena lagi. Namun, tidak ada yang menjawab teriakannya. Suasana alam sekitar kembali sepi dan dinginnya semakin menusuk sampai ke tulang-tulang.
"Kak Maelena jangan tinggalkan aku! Aku takut tinggal sendirian di tempat seperti ini, hiks." Mikhayla terisak.
Mikhayla semakin terisak tatkala melihat ada sekumpulan anjing husky yang berlari ke arahnya.
"Kenapa kau tega sekali Kak."
__ADS_1
"Kak Maelena tolong aku!" teriak Mikhayla saat anjing-anjing itu hendak menjilat dirinya.
***
"Mami!" Cantika yang tidur di sampingnya langsung terbangun mendengar sang Mami terisak dalam tidurnya.
Saat Mikhayla berteriak Cantika langsung memanggil-manggil sambil mengguncang tubuh Mikhayla.
"Mami bangun!"
"Hah, hah, hah." Mikhayla bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.
"Mami kenapa?"
"Cantika tolong ambilkan mami air!"
Cantika segera berlari ke luar kamar dan kembali dengan segelas air di tangannya.
"Ini Mi."
Mikhayla langsung meneguk air dalam gelas sampai tandas.
"Mami sakit lagi?" Anak kecil itu meraba dahi sang ibu seperti yang dilakukan Mikhayla saat Cantika mengigau dan akhirnya menyimpulkan bahwa Cantika demam.
Mikhayla menggeleng dan mencoba menstabilkan detak jantungnya kembali.
"Mami hanya bermimpi." Mikhayla menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan.
Tiba-tiba Mikhayla teringat akan perkataan Maelena dalam mimpinya yang mengatakan menitipkan Bima.
"Apa terjadi sesuatu pada Kak Bima?" Mikhayla mulai merasa tidak nyaman.
"Cantika di sini ya sama Om Johan dan yang lain. Mami harus pergi karena ada urusan mendadak."
Meskipun tidak mengerti, tetap saja Cantika mengangguk.
__ADS_1
Mikhayla bangkit dari duduknya dan mengecup kening sang anak. Setelah itu keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Setelah menitipkan Cantika pada para karyawannya, dia langsung mengendarai motor maticnya menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Bima.
Bersambung.