Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 44. Tragedi


__ADS_3

Byur.


Kuah tumpah dan mengalir di atas lantai.


Mikhayla segera melihat ke arah luar. Tampak Cantika menatap dirinya dengan kecewa.


"Kak Bima! Cantika!" Mikhayla lalu bangkit berdiri dan hendak menghampiri keduanya. Namun, sebelum Mikhayla sampai ke arah Cantika, anak itu berbalik dan berlari keluar.


"Cantika!"


"Cantika!"


Bima dan Mikhayla segera pergi untuk menyusul putrinya.


"Kalian sama-sama pembohong!" Cantika mengelap air mata yang berjatuhan di pipi sambil terus berlari ke luar ruko.


"Ada apa Bu?" Para karyawan toko yang melihat Cantika berlari sambil menangis semua terlihat bingung.


"Tolong! Tolong kejar Cantika. Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya!"


"Baik Bu."


Semua orang mengejar Cantika kecuali salah satu karyawan yang ditugaskan menjaga toko dan juga Viona beserta putranya.


"Kak bagaimana ini?" Mikhayla panik melihat Cantika menerobos masuk begitu saja ke tengah jalan raya padahal kendaraan terlihat berlalu lalang.


"Kamu tenang Mik, saya janji akan membawa Cantika ke sisimu lagi." Perkataan Bima tidak sedikitpun membuat Mikhayla lega.


Hingga akhirnya Bima pun nekad menerobos ke dalam kendaraan yang melaju di jalanan.


"Kak!" Mikhayla menjerit tatkala melihat tubuh Bima hampir tertabrak.


Ckiit!


Mobil yang berada di hadapan Bima segera mengerem secara mendadak.


"Hei lihat-lihat kalau mau nyebrang! Kalau mau bunuh diri jangan ngajak-ngajak orang, mending menceburkan diri ke laut saja!" Pemilik mobil geram hingga mengata-ngatai Bima.


Mikhayla hanya mampu mengelus dada.


"Syukurlah kak Bima selamat."


Mikhayla tidak perduli dengan orang yang meneriaki Bima baginya nyawa Bima lebih penting.


"Kak, Kak Bima tidak apa-apa?" Mikhayla memegang pundak Bima yang sekarang sudah berada di pinggir jalan. Pria itu terlihat menekan dadanya. Sepertinya jantung Bima terasa sakit sebab terlalu kaget.


"Jangan pedulikan aku Mik, kau kejarlah dulu Cantika. Nanti aku menyusul."


Hampir saja Mikhayla melupakan putrinya yang kabur sebab terlalu khawatir dengan keadaan Bima. Dia takut kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Bima tempo hari terulang kembali.

__ADS_1


"Baiklah, Kak Bima istirahat saja dulu." Mikhayla menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Cantika saat ini.


"Itu dia!" Mikhayla berlari mengejar hingga dia melihat Cantika sudah ada di depan pom bensin.


Mikhayla bernafas lega tatkala melihat Fergi sedang mengisi bensin di tempat itu. Fergi yang melihat Cantika langsung berlari-lari mendekati anak itu.


"Hah semoga saja Kak Fergi bisa menahan Cantika."


Mikhayla terus berlari ke arah Fergi yang kini mendekati Cantika.


"Cantika mau kemana sayang? Kenapa berlarian sendiri di tempat yang ramai seperti ini? Mami Mikhayla mana?"


Cantika sempat berhenti, tetapi dia tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan dari Fergi. Cantika masih kesal mengingat Fergi telah menikah dengan orang lain.


"Hei kenapa tidak menjawab pertanyaan Om Fergi? Cantika tidak senang Om Fergi kembali? Om Fergi punya oleh-oleh dari luar negeri loh untuk Cantika di mobil. Yuk ke mobil Om Fergi!"


"Tidak mau, Cantika tidak ingin oleh-oleh dari seorang pembohong seperti Om Fergi." Anak itu memalingkan muka karena sudah teramat kecewa.


"Cantika!" seru Mikhayla. Dia mendekat ke arah putrinya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Cantika tidak menjawab, bahkan dia tidak mau menoleh walau hanya sekedar untuk melihat wajah maminya.


"Cantika sayang papi ingin bicara!" seru Bima sambil mendekat ke arah Cantika pula.


Fergi memandang wajah Bima begitupun sebaliknya.


"Ya Cantika adalah putriku," sahut Bima dan Fergi sudah dapat menebak itu. Dia pun tahu Mikhayla pun masih mencintai Bima sehingga tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain termasuk dirinya.


"Bohong!" pekik Cantika di tengah keramaian lalu lalang kendaraan yang melintas di hadapannya membuat sebagian orang-orang yang melintas merasa penasaran.


"Saya tidak bohong sayang, saya lah sebenarnya papimu," ucap Bima sambil melirik Mikhayla dan Mikhayla sendiri mengangguk.


Bagi Mikhayla inilah saatnya Cantika tahu akan kebenarannya. Sebenarnya Mikhayla merasa berat selama ini merahasiakan hal itu. Dengan jujur pada semua orang hatinya sedikit lebih plong.


"Itu tidak benar kan, Mami?" Tatapan Cantika terlihat sendu. Seharusnya dia senang mengetahui kenyataan bahwa papinya masih hidup. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.


Mikhayla menggeleng. "Om Bima itu sebenarnya memang papi kamu Cantika," jawab Mikhayla.


Cantika menggeleng lalu tersenyum getir.


"Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin Cantika? Kau memang putriku." Bima mencoba memeluk Cantika, tetapi anak itu memberontak. Dia tidak ingin disentuh siapapun saat ini.


"Kalau begitu selama ini Om Bima kemana? Mengapa membiarkan Cantika hidup tanpa seorang papi?"


Bima lupa walaupun Cantika masih anak kecil, pemikiran putrinya terkadang melebihi orang dewasa.


"Maafkan papi, papi khilaf," sesal Bima. Pria itu menunduk.

__ADS_1


"Mami juga. Apakah kalau Cantika tidak mendengar tadi pembicaraan mami dengan om Reynold, selamanya Mami akan membohongi Cantika?"


Reynold yang sampai di sisi mereka pun, hanya hanya bisa mendengar pertanyaan anak sekecil Cantika.


"Tidak sayang mami tidak bermaksud seperti itu ... mami hanya–"


"Cantika lebih baik kamu pulang sekarang. Biar mami Mika dan papi Bima jelaskan di rumah saja!" Fergi hanya tidak mau Mikhayla dan Bima menjadi pusat perhatian semua orang.


"Om Fergi juga pembohong! Semuanya pembohong!" teriak Cantika lalu berlari tanpa melihat-lihat terlebih dahulu.


Brak!


"Mami!"


"Cantika!" teriak Mikhayla histeris tatkala melihat ada sebuah sedan yang menabrak putrinya.


"Mika?" Bima dan Fergi pun ikut panik.


Mereka langsung berlari ke arah Cantika.


"Cantika!" pekik Mikhayla saat melihat darah mengalir dari kepala putrinya.


Tangan Bima meraih tubuh Cantika dengan bergetar. "Jangan tinggalkan papi Nak, maafkan papi." Bima tergugu sambil menggendong tubuh Cantika.


"Bawa ke mobil Bim, kita harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit," ucap Fergi dengan suara bergetar. Dia pun takut akan kehilangan anak kecil yang selama ini teramat dekat dengannya.


Bima pun langsung membawa tubuh Cantika ke dalam mobil Fergi.


Sementara Reynold membantu Mikhayla bangun. Tubuh wanita itu begitu lunglai. Bagi Mikhayla, Cantika adalah nafas hidupnya. Dia tidak tahu hidupnya akan seperti apa jika hari-harinya harus hidup tanpa putrinya lagi.


"Kak Reynold, Cantika akan selamat kan, Kak?"


"Iya Mik, Cantika pasti akan selamat. Kau tenanglah!"


"Tapi darah yang mengalir dari kepalanya banyak Kak, Mika takut–"


"Sudahlah tidak perlu takut. Saya yakin dia akan selamat."


"Semoga saja Kak." Mikhayla mencoba bangkit, tetapi tenaganya hilang sudah. Tubuhnya seperti tidak bertulang hingga saat mau berdiri di terduduk lagi.


"Mik kamu harus kuat demi Cantika dan kita harus mengejar waktu demi keselamatan putrimu."


Akhirnya Reynold langsung menggendong tubuh Mikhayla ke dalam mobil Fergi.


Setelahnya Fergi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.


Di dalam mobil Mikhayla pingsan sadar, pingsan sadar membuat ketiga lelaki dalam mobil bertambah panik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2