
Malam pun tiba, di ruang rawat tampak seorang suster sedang membuka selang infus di lengan Mikhayla.
"Sus antar saya ke ruangan anak saya!" pinta Mikhayla pada suster yang sedang membuka selang infus itu.
"Baik Bu."
Mikhayla mengangguk sambil tersenyum dan suster pun balas tersenyum.
"Ibu Mika sudah tahu, kan keadaan putri ibu?" tanya suster untuk mengantisipasi agar Mikhayla tidak terkejut nantinya.
"Sudah Bu, Kak Bima sudah mengatakan," ujar Mikhayla dengan ekspresi yang begitu tenang membuat suster tersebut menganggap Mikhayla sudah tegar dan ikhlas dalam menghadapi keadaan.
"Iya Bu. Mari saya antar." Suster tersebut membantu Mikhayla turun dari ranjang rumah sakit dan membawanya ke ruang rawat Cantika.
"Loh kok ke sini Sus?" Mikhayla termangu di depan pintu ruang ICU.
Suster itu menatap mata Mikhayla. "Memangnya ibu belum tahu kalau ...."
"Hai Mik, kau sudah pulih? Makan yuk!" ajak Fergi yang baru saja datang dari luar dengan membawa beberapa kotak makanan.
"Benar Fer Cantika ada di dalam sini?"
Fergi menatap Mikhayla dengan risau. Dia tidak berani menjawab pertanyaan sederhana itu sebab terasa berat untuk mengungkapkan.
"Saya tinggal dulu." Suster yang berdiri di samping Mikhayla berlalu pergi.
Mikhayla sama sekali tidak menggubris ucapan suster. Mata dan hatinya terfokus pada pintu ruang ICU di hadapannya.
"Silahkan Sus." Fergi yang menjawab.
"Fer?"
"Makan dulu Mik, biar saya panggil Bima dulu." Fergi mencoba menahan Mikhayla. Dia hanya takut Mikhayla tidak siap menerima kenyataan yang menghantam kehidupannya saat ini.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Mikhayla langsung masuk ke dalam. Fergi segera meletakkan makanan di atas kursi lalu menyusul di belakang Mikhayla.
"Mik!" panggil Fergi bahkan dia menahan bahu Mikhayla agar tidak melanjutkan langkahnya.
"Sudah Fer, tidak perlu menahanku! Cantika ada di dalam, bukan? Mengapa kamu tidak mau menjawab pertanyaan dariku?"
Pegangan Fergi melemah.
"Tante Fera keluar dulu!" seru Fergi sebab di rumah sakit tersebut tidak memperbolehkan pasien yang dirawat di ruang ICU dijaga oleh lebih dari 2 orang. Kalau itu sampai terjadi pasti keluarga pasien akan kena teguran.
"Ma!" panggil Bima kepada Fera yang tampak memandangi tubuh Cantika yang dipenuhi oleh selang-selang sambil melamun.
Awalnya Bima ingin mencegah agar Mikhayla tidak jadi masuk. Namun, dia juga tidak mau membohongi Mikhayla terlalu lama. Mikhayla sudah terlanjur masuk, itu artinya wanita itu harus tahu bahwa putrinya sedang berjuang antara hidup dan mati sekarang.
"Ah iya Fer, apa katamu tadi?"
"Mikhayla ke sini, jadi giliran mama yang keluar dulu."
"Tante," sapa Mikhayla saat berpapasan dengan Fera dan Fera hanya mengangguk.
Setelah melewati tubuh Fera, Mikhayla mempercepat langkahnya.
"Cantika!" Mikhayla kaget. Walaupun tadi sudah dapat menebak bahwa putrinya memang dirawat di ruangan itu, tetapi mental Mikhayla sebenarnya belumlah kuat. Dari tadi dia berdoa agar dugaannya salah dan yang terbaring di tempat itu adalah orang lain.
Mikhayla tergugu di samping ranjang melihat kenyataan bahwa orang yang terbaring di depannya adalah putrinya sendiri. Jangankan melihat selang-selang yang memenuhi tubuh Cantika, mengetahui ruangan itu adalah ruang intensif saja Mikhayla sudah dapat menebak keadaan Cantika sangatlah parah.
"Ya ampun Nak, ternyata kau separah ini. Ampuni mami Nak, ini semua terjadi gara-gara mami. Kalau saja dari awal mami tidak merahasiakan tentang papimu, Cantika nggak akan begini. Maafkan mami Nak, maafkan. Hik, hik, hik." Bulir-bulir air mata membasahi pipi Mikhayla yang masih nampak pucat.
Bima mendekati Mikhayla lalu mengusap punggung wanita itu. Dia harus kuat di hadapan Mikhayla meski pada kenyataannya hatinya bahkan lebih hancur daripada wanita itu. Kalau sampai Cantika harus pergi dari dunia ini, maka Bima tidak akan pernah ada kesempatan untuk hidup dengannya sementara Mikhayla, dia sudah merawat Cantika sedari kecil.
Bima pun merasa berdosa karena telah menyia-nyiakan putrinya selama ini, bahkan pernah tidak menganggapnya saat dalam kandungan.
"Sabar ya Mik, kita berdoa saja semoga Cantika cepat sembuh."
__ADS_1
"Ini gara-gara Kak Bima. Kalau Kak Bima tidak muncul dalam kehidupan kami berdua, ini semua tidak akan terjadi," lirih Mikhayla. Wanita itu terduduk lemas di lantai.
"Maafkan aku Mik, ini di luar kendaliku. Ku mohon maafkan aku!" Bima meraih tubuh Mikhayla dan hendak membantunya bangun.
"Kita duduk di kursi, jangan begini Mik!"
Mikhayla mendorong Bima hingga terjungkal ke belakang.
"Jangan sentuh aku Kak! Aku benci sama Kak Bima. Dulu Kak Bima menghancurkan masa depanku dengan rayuan dan janji-janji palsu. Sekarang Kak Bima datang lagi dan mau memisahkanku dengan Cantika. Kenapa hidupku begini Kak? Hiks, hiks hiks." Mikhayla memukul-mukul bahu Bima.
"Mik dengarkan aku, perasaanku juga sama denganmu. Aku juga takut kehilangan Cantika. Tapi, Cantika akan merasa bersedih jika kita begini." Bima meraih dan menggenggam tangan Mikhayla.
"Kenapa Kak Bima tadi berbohong? Apa yang Kak Bima inginkan? Kak Bima tahu kan hidupku sebatang kara tanpa Cantika?"
"Aku mengerti Mik, aku hanya ingin memastikan keadaanmu pulih dulu sebelum tahu apa yang terjadi pada putri kita. Aku tidak mau kamu syok dan drop lagi."
"Bagaimana keadaan Cantika Kak?" Tatapan Mikhayla begitu sayu. Ada raut putus asa di wajahnya.
Bima menatap mata Mikhayla. Pandangan mereka saling bertemu. "Dengarkan aku Mik, apapun yang terjadi kita hadapi bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu meskipun banyak aral melintang diantara hubungan kita. Untuk Cantika, aku sudah meminta pihak rumah sakit ini mencarikan dokter terbaik untuk putri kita itu."
Mikhayla hanya mengangguk lirih. Bima mengusap air mata di pipi Mikhayla dengan jari telunjuknya.
"Sudah jangan menangis lagi, Cantika pasti sedih kalau melihat maminya yang dianggapnya kuat selama ini mendadak menjadi wanita yang lemah."
Mikhayla mengangguk meskipun tidak bisa membenarkan sepenuhnya ucapan Bima. Namun, dia sadar sekarang, menyalahkan orang lain tidak akan berpengaruh baik pada kesehatan Cantika.
Bima membantu Mikhayla bangun dan menuntunnya hingga duduk pada sebuah kursi.
Dari luar ruangan Fera menatap interaksi keduanya.
"Sebenarnya kalian adalah pasangan yang serasi. Diakui atupun tidak orang pasti melihat ada cinta dimata kalian berdua. Sayangnya setiap kali aku melihat Mikhayla aku merasa sakit hati. Apa mungkin mama bisa merestui kalian Bim?"
Bersambung.
__ADS_1