
"Tidak masalah Bu yang penting keuangan lancar meski pak Fergi nya tidak hadir."
Mikhayla mengangguk.
"Terus untuk yang buketnya bagaimana Bu?"
"Kalau misal bisa diperbaiki kita beli juga biar cepat bangkrut, tapi kalau tidak ya jangan. Kalau bloom box nya kayaknya bagus tuh. Sekarang musim nikah orang-orang bisa saja membelinya sebagai souvernir di resepsi pernikahan mereka. Bisa diborong semuanya sebagai stok di toko kita juga.
Tapi kalau dipikir-pikir boleh juga tuh buket bunganya tinggal rapikan dikit dan kasih cokelat. Sebentar lagi bulan Febuari tuh. Rame-ramenya orang mengungkapkan rasa sayangnya pada pasangan lewat bunga dan cokelat. Jadi, saya berharap sebelum hari valentine tiba toko itu sudah bangkrut."
"Ide yang bagus Bu."
"Iya tapi kita harus berhati-hati agar mereka tidak curiga. Bang Jo kita tidak boleh memakai mobil pick up kita sendiri saat membeli bunga hidupnya tapi harus menyewa mobil dan sopirnya sekaligus. Jangan sampai pemilik dan karyawan tahu bahwa yang membeli adalah toko kita. Nanti bisa gagal."
"Untuk strategi serahkan saja padaku. Kamu hanya terima beres saja. Yang penting uangnya sudah ada," ujar Johan.
Cling.
Saat sedang fokus-fokusnya berdiskusi sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Mikhayla.
"Sebentar!" Mikhayla mengecek ponselnya.
"Gercep banget si Fergi." Mikhayla tersenyum senang.
"Ada kabar baik Bu?" tanya Agnes.
"Pak Fergi sudah mengirim uangnya. Kalian tinggal atur rencananya. Saya ke Bank dulu ya!" Mikhayla berjalan keluar toko dan berjalan menuju garasi untuk mengambil motor matic kesayangannya.
"Siap Bu." Semua karyawan kembali berembuk sedangkan Mikhayla mengendarai motornya keluar dari area ruko.
"Nitip Cantika ya!" teriak Mikhayla. Saking seriusnya memikirkan nasib toko ke depannya Mikhayla sampai lupa menitipkan Cantika pada karyawannya.
"Oke siap Bu, tidak usah dipikirkan!" Rina balas berteriak.
Esok hari Mikhayla sibuk dengan para karyawannya sehingga wanita itu melewatkan waktu untuk menjemput Cantika.
"Hai gadis Cantik apa kabar?" Bima menghampiri sekolahan Cantika.
"Om mau apa ke sini?" Cantika berjalan mundur. Dia takut pada Bima sebab tempo hari telah membuat maminya menangis.
"Om Bima punya cokelat mau nggak?" Bima mengulurkan beberapa cokelat panjang ke arah Cantika. Ada boneka kecil di tengah-tengahnya.
Cantika menggeleng dia takut, dia teringat akan cerita penculikan anak yang pernah diceritakan salah satu ibu dari temannya.
"Nggak suka cokelat? Apa Cantika mau eskrim?"
Cantika menggeleng. "Aku suka cokelat, tapi takut sama Om Bima," jawab anak itu dengan polosnya.
__ADS_1
Bima malah tertawa mendengar pengakuan Cantika.
"Kenapa harus takut? Apa Om Bima punya taring seperti vampir?"
Cantika menggeleng.
"Terus?"
Cantika tidak menjawab. Gadis kecil itu tidak tahu harus menjelaskan ketakutannya seperti apa.
"Apa Cantika takut Om Bima adalah penjahat yang suka menculik anak-anak?" Barulah Cantika mengangguk.
"Aku tidak mau dijauhkan dengan mami."
"Hei siapa yang mau menjauhkan dirimu dengan mami Mika? Om Bima malah mau minta tolong supaya om Bima bisa dekat lagi dengan Mikhayla, mamimu," jujur Bima.
"Maksud Om Bima?"
"Dulu Om Bima sama mami kamu berteman dekat, sangat dekat malah, tapi karena kesalahpahaman mami kamu menjauh dari Om Bima," terang Bima mencoba mempengaruhi Cantika.
"Kesalahpahaman?" Cantika benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Bima bicarakan.
"Ya, intinya Om Bima ingin bersahabat lagi dengan mami kamu seperti dulu. Tapi ... mami kamu malah marah saat Om Bima kalau mendekat sekarang. Cantika bantu Om Bima ya agar membuat hubungan kami kembali seperti dulu."
Meski ragu, Cantika mengangguk.
"Nih diterima cokelatnya sebagai ungkapan terima kasih Om Bima karena Cantika sudah mau membantu Om. Mulai besok dan seterusnya izinkan Om Bima untuk menjemput Cantika agar Om Bima bisa dekat lagi dengan mami Cantika okey?"
"Terima kasih Om."
"Sama-sama. Makan gih sebelum Om antar pulang!"
Cantika menggeleng.
"Kenapa?"
"Takut ada racunnya Om. Nanti Cantika makan di depan mami saja agar kalau Cantika kenapa-kenapa mami bisa menuntut Om Bima."
Bima tepuk jidat mendengar jawaban dari Cantika.
"Mika, Mika, kau ajari apa anakmu. Sudah yuk pulang!"
"Sebentar aku pamit dulu pada Bu guru agar tahu Cantika pulang bersama siapa." Cantika lari ke dalam dan menemui ibu guru.
Bima menggeleng tak percaya. Anak sekecil itu sudah cerdas. Atau mungkin Cantika diwanti-wanti oleh Mikhayla mengingat pengakuan dari Mikhayla bahwa Cantika pernah diculik oleh kedua orang tua Bima sendiri.
"Beberapa saat kemudian Cantika keluar dengan ibu gurunya. Ibu guru tersebut meminta izin untuk memfoto Bima sebelum pria itu membawa Cantika pergi.
__ADS_1
"Memang begitu ya Bu kalau persyaratan menjemput siswa di sini pulang?" tanya Bima bingung.
"Ini atas permintaan Bu Mikhayla Pak biar tahu dengan siapa putrinya pulang. Kalau sudah sering menjemput kayak Pak Fergi kami tidak akan meminta fotonya lagi."
Bima sudah dapat menebak ini pasti ide Mikhayla untuk melindungi putrinya.
"Tak apalah ini bagus buat keselamatan Cantika," gumam Bima.
Di tempat lain, Renolds yang baru kembali langsung menuju toko Mikhayla. Melihat Mikhayla sibuk dia langsung meminta alamat sekolah Cantika.
"I–iya Kak, ini sudah telat aku menjemputnya," ujar Mikhayla panik.
"Sudah kamu lanjutkan pekerjaan kamu biar aku yang menjemput Cantika. Berikan aku fotonya biar tidak salah jemput anak!"
Mikhayla pun mengirimkan foto Cantika yang ada di ponselnya ke ponsel Reynolds.
"Oke sudah, dia tumbuh cantik rupanya. Wajahnya persis dengan Bima ayahnya."
Sontak semua karyawan menoleh pada Reynolds.
"Kak?" protes Mikhayla. Bertahun-tahun rahasia itu dia tutup bisa bocor hanya karena keteledoran dari mulut Reynolds.
"Sorry salah ngomong." Reynolds pun berbalik dan bergegas pergi dari toko tersebut.
Reynolds menyetir mobilnya menuju sekolah Cantika.
"Kalau dari alamatnya ini. TK Bina Nusantara, Reynolds mengeja papan di depan sekolah itu.
"Wah sepertinya itu dia." Reynolds berjalan cepat ke dalam saat melihat wajah Cantika.
"Cantika!" seru Reynolds.
Bukan hanya Cantika yang menatap Reynolds dengan bingung, Bima pun demikian.
"Reynolds!" Bima menutup mulut kaget.
"Bi–ma?"
"Kau masih hidup?"
Reynolds berbalik dan hendak kabur dari Bima. Namun, Bima mengejarnya.
"Reynolds!" teriak Bima saat langkahnya kalah cepat dengan Reynolds. Pria itu bahkan sudah mengendarai mobilnya dengan cepat dan meninggalkan sekolah Cantika.
"Apa maksudnya semua ini? Mengapa Mikhayla membohongiku dengan mengatakan Reynolds telah tiada? Makam siapa yang ditunjukkan oleh Mikhayla hari itu?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Bima.
"Atau jangan-jangan Cantika memang anak–" Bima langsung menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like dan komentarnya!🙏