Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 24. Penawaran


__ADS_3

Mikhayla tertegun di depan pintu melihat kamar rawat Bima dipenuhi oleh orang-orang.


"Apa yang terjadi pada Kak Bima?" Jantung Mikhayla terasa memompa 3 kali lebih cepat dari biasanya. Matanya langsung meneteskan air mata. Mikhayla sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Bima.


"Mika?" Dalam kerumunan orang-orang Bima masih mendapati celah untuk melihat Mikhayla yang tampak bersedih di depan pintu.


Mendengar Bima menyebut nama Mika, orang-orang langsung menoleh ke arah pintu.


"Dia siapa?" tanya seorang wanita pada Bima.


"Adik Mailena," jawab Bima singkat.


"Oh, kok aku tidak pernah melihatnya?" tanya wanita itu lagi.


"Dia tinggal terpisah dengan Mailena. Dia memilih hidup mandiri dan tidak ingin bergantung pada kedua orang tuanya. Tolong panggilkan dia kemari Bik!"


Wanita yang dipanggil bibik itu mengangguk dan berjalan ke arah Mikhayla yang masih terlihat bingung dengan keadaan.


"Nak! Nak Bima ingin bicara denganmu," ucap wanita itu pada Mikhayla.


"Bagaimana keadaan Kak Bima, Bik?" tanya Mikhayla masih dengan raut wajah khawatir. Dia tidak mau ini adalah hari terakhir dia melihat Bima dan mendengar suara pria itu.


Mikhayla benar-benar takut penyakit Bima parah dan pertemuan kali ini adalah pertemuan terakhirnya. Apalagi saat ini dia tidak membawa Cantika.


"Kau bisa melihatnya sendiri Nak," saran wanita tersebut dengan sikap dan suara ramah. Berbeda dengan orang tua Bima sendiri yang sering ketus.


Mikhayla melihat dengan seksama pada orang-orang yang berkerumun itu. Setelah dipastikan tidak ada orang tua Bima di sana ia perlahan berjalan mendekat ke arah Bima.


"Kak!" sapa Mikhayla saat sudah berdiri di samping Bima.


Bima hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah Kak Bima baik-baik saja, aku pikir terjadi sesuatu yang tidak baik pada Kakak."


"Duduklah!" perintah Bima menepuk tempat di sebelahnya, pinggir ranjang yang didudukinya sekarang.


Mikhayla mengangguk, tetapi sebelum duduk masih melihat-lihat apakah ada orang tua Bima di sana. Bukannya dia takut pada keduanya hanya saja tidak mau kedua orang tua Bima mempermalukan dirinya di depan orang banyak. Mikhayla tidak mau terjadi masalah yang akan membuat hidupnya akan rumit nantinya.


"Tidak ada mama dan papa di sini, mereka baru saja pergi." Bima tahu apa yang dipikirkan Mikhayla saat ini.


Mikhayla menghela nafas lalu duduk.


"Aku minta maaf atas segala kesalahanku dulu. Mohon maaf pula atas janji yang tidak aku tepati beberapa tahun yang lalu."


"Sudahlah Kak, aku sudah melupakan semuanya." Mikhayla menguatkan hati padahal bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal itu semua.


Melupakan kejadian yang membuat hidupnya berubah seratus persen, tidaklah mudah. Jalan yang dia lewati amatlah sulit. Tidak mudah pula bermetamorfosis dari anak manja menjadi wanita kuat dan mandiri sekaligus menjadi single parent di usia yang teramat muda. Jauh dari orang tua dan saudara.


"Kamu bisa kan memaafkan aku?"


"Sudah kumaafkan sedari dulu. Tidak baik bukan menaruh dendam?"


diriku jika tidak ada kamu saat itu. Mungkin saat ini aku sudah tidak bisa melihat matahari bersinar lagi. Yang pasti aku bahagia kau masih perhatian padaku."


"Kak Bima tahu darimana bahwa aku yang menolong Kakak waktu itu?"


"Dari formulir pendonor darah yang ditunjukkan oleh dokter. Katanya dirimu pula yang telah membawaku ke rumah sakit ini. Apakah itu benar?"


"Kalau tentang itu tidak perlu berterima kasih padaku karena semuanya sudah kehendak dari Tuhan. Jangan terlalu kepedean Kak. Aku melakukan semua karena alasan kemanusiaan dan aku yang membawamu ke rumah sakit sebab kebetulan melintas di jalan yang sama dengan tempatmu mengalami kecelakaan."


Mendengar pernyataan Mikhayla, wajah Bima tampak pias dan kecewa.


"Kenapa secara kebetulan itu terjadi? Karena kalau Tuhan masih menakdirkan manusia panjang umur pasti Dia akan mengutus seseorang untuk menyelamatkannya. Tidak perduli apakah si penolong itu kenal atau tidak dengan orang yang ditolong."

__ADS_1


Bima terlihat mengangguk.


"Mika, sebelumnya aku minta maaf harus bertanya ini. Reynold ada dimana sekarang?" Bima mengalihkan pada pembicaraan lain.


"Kenapa Kak Bima menanyakan tentang Kak Reynold?"


"Tentu saja karena saya temannya dan saya hilang kontak dengannya beberapa tahun ini. Menjaga silaturahmi merupakan hal yang terpuji, bukan?"


Walaupun seperti apapun kalimat yang diungkapkan Bima, dalam hati Mikhayla yakin Bima akan mencari kebenaran tentang Cantika apakah benar-benar anak dari Reynold ataukah bukan.


"Mika bisa menunjukkan dimana Kak Reynold sekarang, tetapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Apapun akan aku lakukan agar kau bisa mempertemukan kami."


"Katakan Kak Mai ada dimana!" tegas Mikhayla.


Mendengar nama Mailena disebut, Bima langsung menghembuskan nafas berat.


"Tidak bisa diganti dengan yang lainnya?"


"Tidak bisa, hanya itu informasi yang ingin aku ketahui. Kau pertemukan aku dengan Kak Mailena dan aku akan mempertemukan Kak Bima dengan Kak Reynolds. Bagaimana?"


Bima tampak berpikir sejenak. "Oke deal," jawabnya kemudian.


"Baik, aku tunggu Kak Bima sampai sembuh. Nanti kalau Kak Bima sudah mengatakan pada Kak Mailena tentang keinginanku langsung temui Mika di toko!"


"Oke siap," ucap Bima.


"Loh bukannya Mailena sudah–"


"Bik!" protes Bima pada wanita tadi. Pria itu menggeleng sebagai tanda agar sang bibi tidak membongkar semuanya sebelum dia bertemu dengan Reynold dan mengklarifikasi tentang kebenaran Cantika adalah putrinya bukan putri Reynold.

__ADS_1


Entahlah setelah sadar dari pingsan selama dua hari itu, Bima menjadi yakin lagi bahwa Cantika adalah putranya. Dia ingin bertemu dengan Reynold hanya ingin agar Mikhayla tidak menutupi lagi mengenai kebenaran yang sesungguhnya.


Bersambung.


__ADS_2