Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 43. Pengakuan


__ADS_3

"Mikhayla mengatakan bayiku sudah keguguran," terang Bima.


"Kau tidak berbohong kan, Mas? Viona menatap ragu Reynold.


"Ya ampun Sayang, kapan aku pernah berbohong padamu? Bahkan aku terpaksa memberi tahu pria bodoh ini hanya karena tidak ingin kamu salah paham."


Bima melengos mendengar Reynold mengatakan dirinya pria bodoh untuk yang kedua kalinya.


"Aku hanya takut Mas menipuku, membawaku ke negeri ini sedangkan Mas pura-pura melanjutkan studi keluar negeri padahal hidup dengan wanita lain." Viona masih terlihat ragu.


"Kau pikir ijazahku palsu?"


"Bisa saja kan aku dicurangi. Mas Reynold memang sengaja membuat ijazah palsu."


"Ya ampun, sudah yuk ikut aku!" Reynold menarik tangan sang istri.


"Kemana?"


"Ke rumah Mika, biar dia yang menjelaskan semuanya kalau kamu tidak percaya padaku."


Viona terpaksa menuruti keinginan suaminya.


"Ayo Marvel kita pergi sekarang!"


"Tapi Mom, makannya?"


"Kita makan nanti saja, mommy sama daddy ada urusan mendadak."


"Baiklah," sahut anak itu malas lalu berjalan tidak bergairah mengikuti langkah kedua orang tuanya.


Reynold, Viona, dan Marvel berjalan keluar dari restoran sedangkan Bima kembali ke sisi Cantika.


"Sudah makannya?"


Cantika mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu kita pulang sekarang!"


"Baiklah tapi Cantika mau bungkusin makanan untuk mami, boleh kan, Om?"


"Boleh, tapi setelah itu langsung pulang."


Cantika menurut saja, lagipula hari sudah sore dan dia juga kelelahan setelah seharian berkeliling-keliling.


***


"Kak, Reynold! Apa kabar?" sapa Mikhayla sumringah menyambut kedatangan sahabat rasa kakak itu. Entahlah Mikhayla harus menyebut status Reynold seperti apa. Mau dikatakan sahabat, sebenarnya Reynold adalah sahabat Mailena, dibilang kakak dirinya tidak ada pertalian keluarga.


"Kabarku buruk Mik," sahut Reynold dengan raut wajah yang sedih.


"Loh?" Mikhayla mengernyitkan dahi tidak biasanya Reynold berekspresi seperti itu.


"Kak Reynold terkena musibah?" tanya Mikhayla kemudian. Namun, Reynold tidak menjawabnya.


"Ayo silahkan masuk dulu!" ajak Mikhayla.


"Eh mereka siapa?" tanya Mikhayla yang tidak menyadari ada orang yang berdiri di belakang Reynold berdiri.


"Saya Mikhayla, bisa dipanggil Mika. Oh ini toh istri Kak Reynold? Mari Mbak masuk juga."


Viona mengangguk dan menggandeng putranya masuk ke dalam.


"Silahkan duduk! Kak Reynold nggak bilang-bilang punya istri cantik begini."


Mikhayla menatap kagum Viona. Wanita blesteran dengan kulit putih dan iris mata yang biru itu terlihat sangat mengagumkan. Apalagi ditambah postur tubuh yang tinggi semampai. Rasanya nyali Mikhayla ciut jika fisiknya harus dibandingkan dengan wanita itu. Untung saja dia tidak mencintai Reynold kalau tidak dirinya bisa kalah telak.


"Mik saya ingin kamu menjelaskan padanya kalau Cantika bukan anakku." Reynold langsung menodong Mikhayla dengan perintah.


"Kenapa? Mbak Viona ini cemburu padaku dan Cantika?"


"Intinya dia merasa kalau aku menipu dirinya karena waktu aku menolongmu, sebenarnya aku sudah menikah dengannya dan aku tidak memberitahunya tentang Cantika."

__ADS_1


Tentu saja Mikhayla kaget.


"Jadi waktu itu Kak Reynold sudah menikah? Bagaimana mungkin bisa membantuku membuat akta kelahiran Cantika?"


"Ceritanya panjang, yang jelas kami dulu menikah di luar negeri dan aku meminta tolong teman untuk membuatkan akta Cantika tersebut dengan menyogok petugas catatan sipil. Benar-benar hal yang tidak patut ditiru," ujar Reynold sambil terkekeh.


"Tapi aksi kak Reynold sangat membantu kami. Bagaimanapun tanpa bantuan Kak Reynold Cantika tidak akan memiliki status yang jelas, ya meskipun status yang tercantum itu adalah palsu belaka." Mikhayla tersenyum kecut saat mengingat masa-masa sulit dirinya dahulu.


"Terima kasih atas semua bantuan Kak Reynold. Mulai dari menemaniku saat Cantika opname sampai pembuatan identitas Cantika. Mikhayla tidak tahu akan seperti apa kehidupan kami jika tidak ada Kak Reynold waktu itu. Kata terima kasih sebenarnya tidak cukup untuk membalas pertolongan yang sudah Kak Reynold berikan. Mikhayla tidak tahu akan membalas semuanya dengan apa. Dengan uang Kak Reynold sudah pasti lebih dari saya. Semua akan tetap menjadi hutang budi sampai Mika mati."


"Sudahlah Mik, kedatangan saya kemari tidak ingin mengungkit masa lalu dan bicara tentang hutang budi. Apa yang saya perbuat untukmu, untuk Cantika itu dari hati yang tulus, aku ikhlas menolong kalian. Meskipun kita tidak memiliki status kekeluargaan, tetapi saya masih menganggap mu adik sendiri, bahkan hingga saat ini." Wajah Reynold terlihat serius.


"Terima kasih, aku pun masih sama. Masih menganggap Kak Reynold kakak seperti tempo dulu." Sekali lagi hanya kata terima kasih yang bisa Mikhayla persembahkan untuk Reynold.


"Kau cukup berikan penjelasan kepada istriku sebenarnya Cantika anakmu dengan siapa!"


"Iya Kak."


Akhirnya Mikhayla menceritakan masa lalunya di depan Viona. Dia menghela nafas. Akhirnya rahasia, aib yang ditutupinya sedari dulu terpaksa harus diceritakan lagi pada orang yang bahkan baru ia kenal demi keutuhan rumah tangga orang lain.


Benar kata orang-orang, masa lalu yang buruk akan terus mengiringi perjalanan seseorang bahkan menjadi bayang-bayang kelam yang akan terus membuat dirinya serasa hina di mata orang lain. Tapi, bukankah kadar kehinaan manusia yang tinggi sekalipun bisa dimaafkan Tuhan?


"Jadi benar Cantika itu anakmu dengan Bima. Bukankah kau mengatakan pada pria itu bayimu dengannya keguguran?"


"Aku terpaksa berbohong, Cantika memang putri dari kak Bima."


Sontak pengakuan Mikhayla membuat Cantika yang berdiri di balik pintu tertegun.


"Aku anak Om Bima?" tanyanya lalu memandang wajah Mikhayla dan Bima secara bergantian.


"Ya Sayang akulah papimu yang sebenarnya," ujar Bima sambil tersenyum manis.


Makanan yang berada dalam genggaman Cantika langsung jatuh ke lantai.


"Tidak mungkin."

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2