Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 26. Kecurigaan Fergi


__ADS_3

"Apa?!"


"Iya Mik semua salahku, maafkan aku." Bima menunduk.


"Kak Bima bercanda ya?" tanya Mikhayla sambil tertawa sebab menganggap Bima hanya melontarkan lelucon saja.


"Apa yang mereka bicarakan Om?" tanya Cantika yang bersembunyi di balik semak-semak rimbun yang ditumbuhi pohon kamboja putih. Tanah tempat Fergi dan Cantika menginjakkan kaki saat ini masih kosong, tidak ada kuburan satupun sehingga nampak tidak terurus.


"Ssst, jangan berisik," ucap Fergi sambil memberi kode dengan menaruh telunjuknya di depan mulut.


Cantika mengangguk dan menurut meski dia tidak paham kenapa Fergi malah mengikuti maminya. Yang lebih membuat Cantika heran lagi kenapa sang mami malah menemui pria yang katanya tidak kenal dan saat bertemu di restoran tempo hari Mikhayla malah mengatakan Bima salah orang.


"Masa dia salah orang lagi?" tanya Cantika dengan polosnya dalam hati.


"Saya serius Mik, kapan aku tidak pernah serius denganmu? Coba kau tatap mataku dan kau akan menemukan kejujuran di sana!"


"Heh, kau selalu serius?" Mikhayla tersenyum sinis.


"Aku selalu serius dengan apapun."


"Kau lupa ya Kak, kau pernah mengatakan cinta padaku dan aku begitu percaya padamu hingga kepercayaan itu telah menggoyahkan keimananku dan cintaku yang begitu besar padamu membuatmu berhasil merenggut mahkota yang paling berharga dalam hidupku. Apa kau serius dengan kata-kata cintamu? Tidak Kak kau terlalu pintar untuk bersandiwara." Kata-kata Mikhayla penuh emosi.


Bima yang tidak bisa membantah hanya diam saja.


"Dan sekarang aku harus percaya padamu?! Tidak Kak, tidak. Mana mungkin aku percaya padamu. Orang yang membuatku hamil dan pontang-panting di jalanan hingga beberapa kali harus bolak-balik ke rumah sakit." Mikhayla menghembuskan nafas berat.


Fergi yang mendengar kata-kata Mikhayla langsung menutup mulut dengan tangannya.


"Jadi dia pria yang dicintai Mikhayla? Apa dia papi dari Cantika? Berarti papi Cantika sebenarnya masih hidup?" kepala Fergi dipenuhi dengan tanda tanya.


"Tolong jangan bohongi aku lagi. Cukup sudah kalian menyembunyikan Kak Mailena dariku! Aku sangat tersiksa Kak menahan rindu padanya. Kenapa kalian tega sih pada kami? Apakah belum cukup selama ini diriku menderita?! Apa dosaku pada kalian semua?"

__ADS_1


"Mika, dengarkan aku! Kali ini aku jujur padamu. Kalau kau tidak percaya mari kita ke rumah paman Faqih yang dulu."


Mikhayla menggeleng. "Buat apa? Rumah itu sudah menjadi milik orang lain."


"Tidak masalah yang membeli rumah itu adalah sahabat papa dan aku pernah memohon padanya agar tidak memakai kamar Mailena. Mereka pun setuju, mungkin karena permintaanku atau takut karena kamar tersebut adalah tempat Mailena menghembuskan nafas terakhirnya."


"Kakak benar-benar serius?" Mendengar kalimat terakhir Bima membuat dada Mikhayla sesak seperti dihimpit ribuan beban.


"Ya kali ini aku serius. Marilah ikut denganku!"


Mikhayla mengangguk lemah dan langsung mengikuti langkah Bima di belakang, menuju mobilnya.


"Pak tolong bawa motor Mikhayla, biar saya yang nyetir sendiri."


"Dibawa kemana Den, ke toko bunga milik Nona Mikhayla, kah?"


"Terserah bapak mau bawa langsung ke toko ataupun berkeliling terlebih dahulu, yang pasti jangan pulang ke rumah sebelum aku kembali."


Mikhayla pun menyerahkan kontak sepeda motornya kepada pak sopir dan dirinya masuk ke dalam mobil.


Mobil yang ditumpangi Bima dan Mikhayla pun bergerak menjauh dari area pemakaman. Pak sopir membawa motor matic Mikhayla dengan arah yang berlawanan.


Melihat semua orang sudah pada pergi, Fergi menggandeng tangan Cantika untuk keluar dari persembunyiannya menuju makam yang sempat ditunjukkan Mikhayla pada Bima sebagai makam papi Cantika tadi.


"Loh ini kan makam paman Reynold?" Fergi kaget sebab makam tersebut adalah makam dari kakak ipar sepupunya sendiri dari pihak ayah Fergi.


"Kenapa Om?"


"Nama papi kamu siapa sih?"


"Kata mami, Reynold Sebastian Om," jawab Cantika.

__ADS_1


Fergi mengangguk.


"Kenapa Om?" tanya Cantika melihat raut wajah Fergi yang tampak kaget dan tidak biasa.


"Tidak apa-apa," bohong Fergi.


Cantika mengangguk.


"Bukankah kuburan ini adalah kuburan dari Paman Reynold Suryadi ya dan ini meninggalnya sudah lama sekali. Mungkin sebelum Mikhayla hamil Cantika makam ini sudah ada." Fergi mengusap-usap batu nisan yang keterangan tanggal lahir dan tahun meninggalnya itu sudah pudar dan tidak bisa terbaca lagi. Satu-satunya yang masih jelas terbaca adalah nama Reynold S. saja.


"Dia pintar sekali mencari makam untuk ditunjukkan kepada pria itu. Entah dimana sebenarnya keberadaan Reynold Sebastian itu yang Mikhayla akui sebagai papi dari Cantika," gumam Fergi.


Semua yang dilihat hari ini membuat Fergi mengambil kesimpulan bahwa papi Cantika memang benar-benar Bima bukanlah Reynold sebab kalau tidak, mana mungkin Mikhayla menutupi keberadaan Reynold yang sesungguhnya. Entah mengapa Mikhayla menutupi semuanya Fergi masih belum tahu. Namun, yang dia dengar tadi sepertinya Bima telah


menyia-nyiakan Mikhayla saat hamil Cantika.


"Seandainya papi Cantika hidup siapa yang akan dipilih Cantika. Papi Cantika atau om Fergi?" tanya Fergi tiba-tiba.


"Kenapa Om tanya begitu?" tanya balik Cantika yang benar-benar tidak mengerti mengapa Fergi malah menanyakan hal tersebut.


"Jawab saja siapa yang Cantika pilih!"


"Kalau aku sih tetap Om Fergi yang terbaik sebab selama ini yang nemenin Cantika kan Om Fergi bukan papi. Kalau papi masih hidup kan biasanya papi akan menemui Cantika bukannya malah membiarkan Cantika hidup berdua sama mami saja," celoteh anak kecil itu membuat Fergi tersenyum manis.


"Terima kasih sayang. Om Fergi sayang sama Cantika." Fergi langsung menggendong Cantika dan memutarnya di udara.


"Om turunkan Cantika! Cantika takut jatuh!" teriak Cantika sambil memukul-mukul pundak Fergi.


Fergi pun langsung menurunkan tubuh Cantika ke tanah.


"Cantika juga sayang pada Om Fergi, tapi mami? Mami sepertinya masih sayang sama papi." Gadis kecil itu cemberut membuat Fergi pun langsung tersadar bahwa jika hanya memenangkan hati Cantika saja, dirinya tidak akan pernah dipilih oleh Mikhayla.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2