Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 20. Permintaan Mikhayla


__ADS_3

"Bagaimana Tik sudah?" tanya Fergi saat berpapasan dengan Tutik di depan pintu.


"Sudah Pak."


"Baiklah kau boleh kembali ke toko. Mungkin Johan dan yang lainnya membutuhkanmu."


"Baik Pak." Tutik mengangguk lalu menunduk sebagai tanda hormat. Setelah itu langsung kembali ke toko, bergabung dengan teman-temannya yang lain.


"Nes bisa minta tolong?" Fergi duduk di samping ranjang Mikhayla dan menyentuh dahi Mikhayla.


"Bisa Pak, apa yang harus saya lakukan?"


"Belikan susu ya untuk Mikhayla biar dia lekas kembali pulih."


"Baik Pak." Agnes segera pamit dan pergi keluar.


Fergi menghela nafas berat. "Semoga kau baik-baik saja."


"Cantika sini!" Fergi menepuk pahanya agar gadis kecil itu duduk di pangkuannya.


"Kasihan Cantika sudah tidak punya ayah malah Mikhayla sekarang jadi sakit-sakitan. Siapa sih yang dikasih donor darah oleh Mikhayla sehingga dia sampai rela mengorbankan dirinya sendiri?" tanya Fergi dalam hati. Diabegitu penasaran dengan seseorang yang telah membuat Mikhayla bersimpati terlalu dalam. Bahkan bisa saja nyawa Mikhayla menjadi taruhan karena mendonorkan darah di saat yang tidak tepat.


Cantika yang hanya menatap sang mami dalam diamnya sedari tadi terlihat mengangguk dan berjalan pelan ke arah Fergi. Namun, sebelumnya dia melihat ibu dari Fergi yang berdiri di depan pintu dengan tatapan tidak suka. Gadis kecil itu mendengar semua yang dikatakan wanita setengah baya itu pada maminya dan dia juga yang memberitahu pada Fergi bahwa ibunya memarahi sang mami dan akhirnya keduanya pergi ke taman belakang.


"Sabar ya, mami Mika pasti sembuh." Fergi mengelus-elus rambut sebahu Cantika.


Cantika mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Dia tidak tahu akan menjadi seperti apa ke depannya jika Mikhayla meninggalkan dia untuk selamanya. Cantika benar-benar merasa bersedih sebab sejak kemarin kesehatan sang mami terus drop.


Semua orang yang ada di kamar Mikhayla membisu. Semua diam, larut dalam pikiran masing-masing. Baik Fergi, Cantika, maupun ibu dari Fergi sendiri.


"Kapan mami bisa sehat seperti dulu lagi Om?" Lama dalam diam akhirnya Cantika bersuara.

__ADS_1


"Secepat mungkin, kau jangan terlalu khawatir. Om yakin mami Mika pasti akan kembali sehat seperti semula."


Cantika hanya mengangguk dan kembali diam.


Agnes terlihat terburu-buru masuk ke dalam kamar Mikhayla. "Bu Mika belum sadar juga Pak?" tanyanya.


"Belum Nes. Lima belas menit lagi nggak sadar juga terpaksa aku bawa lagi ke rumah sakit. Kamu langsung buatkan susunya ya biar nanti langsung bisa dia minum."


"Baik Pak." Agnes bergegas, berjalan menuju dapur dengan menenteng bungkusan susu di tangannya.


Beberapa saat kemudian Mikhayla tampak mengerjab dan perlahan membuka mata. Dia mendapati wajah putrinya yang tersenyum dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


"Cantika kenapa menangis?"


"Akhirnya mami sadar juga. Cantika takut mami ikut papi," jawab anak itu sambil mengusap air matanya.


"Tuh kan apa om bilang? Mami kamu pasti bangun dan sadar."


"Iya Om, makasih ya!"


"Sama-sama Sayang," ucapnya kemudian.


"Fer, terima kasih ya sudah bantuin keluarga kami. Saya tidak tahu bagaimana caranya membalas setiap kebaikanmu," ucap Mikhayla.


"Nggak usah dipikirkan Mika saya ikhlas melakukan semuanya." Apapun yang Fergi lakukan benar-benar ikhlas dari dalam hati. Meskipun dia pernah ditolak oleh Mikhayla.


"Lain kali kau harus berhati-hati Mik. Jangan melakukan apapun diluar batas kemampuanmu sebab kau akan membuat Cantika bersedih seperti sekarang," nasehat Fergi.


"Iya Fer. Maafkan aku ya! Maafkan mami juga ya Cantika."


"Iya Mi."

__ADS_1


"Sini!" Panggil Mikhayla. Cantika langsung berdiri dan berjalan ke arah sang mami.


Mikhayla duduk, langsung memeluk dan mengecup pipi putrinya. "Mami janji nggak bakal ninggalin Cantika."


"Iya Mi." Keduanya berpelukan sangat erat.


"Mik minum air gula dulu ya! Agnes masih membuatkan dirimu susu." Fergi menyodorkan gelas berisi air gula ke hadapan Mikhayla.


"Terima kasih Fer." Mikhayla langsung meraih gelas tersebut dan meneguknya.


"Mulai sekarang kamu harus berperilaku sehat. Makan teratur dan perhatikan gizinya. Istirahat yang cukup dan jangan sampai stress."


Mikhayla mengangguk.


"Nanti kalau pengen makan apa hubungi saya biar saya yang langsung masakin biar komposisi bahannya pas buat kesehatan dan juga rasanya."


Mendengar perkataan Fergi sang ibu terbelalak di ambang pintu dan saat itu pula Mikhayla menyadari bahwa ibu dari Fergi juga masih ada di sana.


"Fer boleh aku minta sesuatu?" tanya Mikhayla serius.


"Apa yang nggak sih buat kamu dan Cantika. Katakan saja, jangan sungkan!"


"Jauhi aku dan Cantika Fer!"


"Apa? Menjauhi kalian? Ini ulah Mommy 'kan?" Fergi langsung menatap ke arah pintu. Pada sang ibu yang mengukir senyum di bibirnya.


"Bukan tapi demi kebaikan kita. Aku tidak mau timbul fitnah jika kita terus dekat denganmu. Lagipula bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mungkin membalas cintamu karena seumur hidupku tidak bisa melupakan papinya Cantika."


Mendengar pernyataan Mikhayla Fergi hanya bisa menghela nafas. Namun, dia tidak akan menyerah. Dia akan terus berusaha membuat Mikhayla jatuh cinta padanya meski terhalang restu orang tuanya sendiri.


"Aku mohon Fer, biarkan aku hidup tenang. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku jangan sampai stres?" Melirik ke arah pintu.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Fergi sedangkan dalam hati dia bertekad akan mendekati Mikhayla lagi setelah wanita itu benar-benar sembuh total.


Bersambung.


__ADS_2