Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 34. Kekonyolan Fergi


__ADS_3

"Besok masih pakai ini Om."


"Oh ya sudah ganti sana!"


"Tante Agnes!" panggil Cantika sambil melambaikan tangan ke arah Agnes.


"Hai Cantika cantik! Sudah pulang ya?" sapa Agnes dengan senyuman manis dan balas melambaikan tangan ke arah Cantika.


"Mami kamu mana?" tanya Agnes ketika dirinya telah sampai ke sisi Cantika.


"Mami sakit kepala Tan, sekarang sudah tidur," sahut Cantika.


"Oh ya sudah Cantika ganti baju dulu yuk!" Agnes menggandeng lengan Cantika.


Cantiknya mengangguk dan pergi bersama Agnes.


"Cantika masuk dulu ya Om?"


Bima mengangguk.


"Ah sorry kami ke dalam dulu," pamit Agnes sambil melihat dengan ekspresi tidak suka ke arah Bima. Gadis itu menebak setiap kesusahan dari hidup Mikhayla, pria itulah penyebab utamanya. Agnes bukannya tidak tahu, dari kata-kata Reynold tadi pagi dia sudah mengetahui bahwa Bima adalah ayah dari Cantika. Menurut Agnes Bima pasti melakukan kesalahan besar sehingga Mikhayla sendiri memalsukan status putrinya dari ayahnya sendiri dan bahkan memasukkan identitas orang lain ke dalam akta kelahiran sang Putri .


"Iya silahkan."


Cantika dan Agnes masuk ke dalam kamar dan Agnes langsung membantu Cantika melepaskan dan mengganti seragam gadis kecil itu dengan pakaian rumahan.


"Tante Agnes darimana saja? Kenapa malah meninggalkan mami Mika sendirian? Untung saja ada Om Bima kalau tidak ada Cantika bingung harus meminta tolong siapa," protes Cantika.


"Maaf Tante Agnes ada urusan di luar."


"Emang penting ya Tante hingga semua orang meninggalkan toko?" Cantika benar-benar tidak mengerti mengapa hari ini toko benar-benar sepi.


"Iya Cantika sayang, kami melakukan sesuatu demi kelangsungan toko ke depannya. Agar toko ramai lagi yang membeli dan mami Cantika jadi senang."


"Ih gitu ya Tante?"


"Iya. Cantika belum makan?"


Cantika menggeleng.


"Ya sudah Cantika temui saja om yang di luar itu biar tidak sendirian biar Tante Agnes bawa makan ke sana. Nanti Tante Agnes suapin di sana ya takut ada pembeli." Padahal selain karena takut ada pembeli juga takut kedatangan Bima itu malah ingin berbuat yang macam-macam.


"Siap Tante." Cantika pun berlari keluar sedangkan Agnes masuk ke dapur.

__ADS_1


"Cantika jangan lari-lari takutnya jatuh!" larang Bima.


Cantika pun segera menghentikan larinya dan berjalan ke arah Bima. Gadis itu lalu duduk di samping Bima.


Beberapa saat kemudian Agnes datang dengan membawa sepiring nasi.


"Mbak biar saya yang menyuapi," pinta Bima.


Agnes menatap ke arah Cantika, melihat anak itu mengangguk Agnes pun ikut mengangguk.


Agnes lalu memberikan piring berisi nasi dan lauk-pauk serta sayur-mayur itu ke tangan Bima.


"Ayo Om Bima suapi, tapi jangan lupa berdoa dulu ya! Diajari nggak sama ibu guru?"


"Diajari Om."


"Ya sudah ayo berdoa dulu!"


Cantika mengangguk lalu menadahkan tangannya ke atas sambil membaca doa sebelum makan.


"Bagus, pinter banget Cantika kayak maminya," ujar Bima sambil mengusap kepala Cantika lalu menyuapi gadis kecil itu.


Mikhayla yang sudah terbangun dan hendak kembali ke toko bersandar pada daun pintu mendengar pembicaraan Bima dan Cantika.


"Kalau aku pintar aku nggak mungkin hamil di luar nikah Kak," gumam Mikhayla lalu mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.


"Iya Om, itu pasti."


"Cantika sayang nggak sama mami?"


"Iya dong. Om tahu mami Mikhayla itu mami yang hebat. Dia tidak pernah marah pada Cantika meskipun Cantika bandel," ujar Cantika.


"Mami kamu memang the best," ujar Bima.


"Sayang papi tidak bisa menemani mami dan Cantika. Kata teman-teman Cantika punya mami yang banyak uang tapi sayang nggak punya papi."


Mikhayla tertegun, dia baru tahu bahwa Cantika putrinya mendapatkan perkataan seperti itu dari teman-temannya. Gadis kecil itu tidak pernah bercerita pada Mikhayla. Mungkin saja tidak ingin menambah beban pikiran sang mami.


"Terus Cantika nangis pas dikatain begitu sama teman-teman Cantika?"


"Nggaklah Om, meskipun papi sudah meninggal tetapi Cantika hidup bahagia bersama mami. Apalagi ada Om Fergi, dia membuat Cantika serasa punya papi."


"Fergi lagi, Fergi lagi. Sepertinya pria itu yang akan menjadi penghalang jika aku ingin kembali pada Mikhayla," batin Bima.

__ADS_1


"Oh iya Om, yang namanya Reynold yang tadi pagi itu memang benar papi Cantika? Kalau iya kenapa mami mengatakan papi sudah meninggal?"


Bima hendak menjawab, tetapi urung saat melihat Mikhayla berjalan ke arahnya.


"Kamu tidak tidur Mik?"


"Nggak Kak, nggak bisa terlelap. Tadi terlelap sebentar dan langsung terbangun. Mungkin karena tidak terbiasa tidur siang kali."


"Jangan begitu Mik, kau harus menyempatkan istirahat siang tiap hari. Kau harus bisa menjaga kesehatanmu sendiri. Kasian Cantika kalau kau sakit-sakitan seperti ini."


Terima kasih sarannya," ujar Mikhayla dan berlalu dari hadapan Bima menuju meja kasir.


"Bagaimana Nes?" tanya Mikhayla menanyakan perkembangan terbaru toko yang ingin bersaing dengan toko bunga milik Mikhayla itu.


Agnes melirik ke arah Bima. "Kata Bang Johan toko itu milik orang tua Pak Bima," ujar Agnes sambil melirik ke arah Bima.


"Kalian tidak salah orang kan?" Mikhayla hanya ingin memastikan saja.


"Ya begitu sih katanya, nanti Bu Mika bisa melihat sendiri benar tidaknya sebab Bang Johan sudah berhasil mengambil foto pemilik toko itu.


Mikhayla menghela nafas berat dan melirik ke arah Bima.


"Bagaimana kita bisa bersatu Kak sementara orang tua kakak sendiri sangat membenciku bahkan menyerang dengan cara licik dan sembunyi-sembunyi seperti ini?" Mikhayla mengusap wajahnya.


Di satu sisi dia masih mencintai Bima dan kasihan pada Cantika jika terus-menerus dibohongi sedangkan di sisi lain orang tua Bima menganggap dirinya musuh besar. Tidak mungkin air akan menyatu dengan api. Kalau tidak Bima yang akan bingung sendiri antara memilih orang tua ataukah Mikhayla.


Ya Tuhan berikan hambamu ini jalan terbaik.


Disaat pikirannya kacau seperti itu ada notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya.


[Mika tunggu aku di sana! Pulang nanti aku akan melamarmu. Aku tidak masalah jika kau masih belum bisa mencintaiku. Kuajari bagaimana caranya mencintaiku setelah menikah.]


Dibawah chat itu Fergi menunjukkan gambar sepasang cincin.


Mikhayla menggeleng lalu membalas chat dari Fergi.


[Aku tidak mau, orang tuamu pasti tidak merestui]


[ Tenang saja aku bukan wanita yang butuh seorang wali]


Mikhayla menggelengkan lagi. Fergi baginya sangatlah konyol, masa mau melamar orang langsung membelikan cincin tanpa meminta persetujuan dari dirinya mau tidaknya.


[Jangan menolak lagi, ini bukan hanya keinginanku tetapi juga keinginanan Cantika]

__ADS_1


Mikhayla langsung menatap putrinya tak percaya.


Bersambung.


__ADS_2