Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 49. Sadar


__ADS_3

"Mama perempuan Pa jadi lebih peka daripada Papa. Ah sudahlah!"


Fera juga ikut duduk di luar, ingin masuk ke dalam takut menganggu Mikhayla dan Bima hingga akhirnya mereka terpaksa harus menghentikan makan keduanya. Fera tidak mau itu terjadi sebab selama ini Bima sudah jarang makan dan walaupun mau makan itupun hanya sedikit saja.


Mikhayla masih tampak makan bersama Bima. Sesekali keduanya saling menyemangati sehingga tidak melihat kedatangan kedua orang tua Bima yang ada di luar ruangan.


Fera membalik posisi kursi hingga badannya menghadap ke dalam ruangan. Dia menatap cucunya yang seolah tidak ada harapan lagi untuk hidup.


"Kasihan kamu Nak, gara-gara keegoisan oma kamu harus seperti ini." Tak terasa setitik air jatuh dari pelupuk matanya.


"Apa yang mama tangisi?" tanya Tian masih dengan suara datarnya.


"Cantika Pa."


"Kenapa menangisi dia? Belum tentu benar juga. Apa anak itu sudah di tes DNA dan cocok dengan Bima? Belum, bukan?"


Fera tidak menjawab perkataan Tian, lebih tepatnya malas menjawab.


"Jika kau tahu kebenarannya kau akan menyesal Pa," batin Fera lalu wanita itu fokus menatap ke arah Cantika. Rasa bersalah sangat kuat mendera hatinya.


"Jangan sampai Cantika meninggalkan dunia ini, kalau tidak dosaku begitu besar karena memisahkan dua anak dari orang tuanya." Fera menghela nafas berat.


"Haruskah aku mengatakan semuanya sebelum terlambat? Tidak, aku tidak akan membongkar semuanya sebab jika itu terjadi, Tian bisa saja membenci diriku."


Lama menatap Cantika, Fera menatap ke arah lain. Namun, saat kembali melihat ke arahnya, Fera melihat jari-jari tangan Cantika bergerak.


"Cantika sadar?". Wanita itu terlihat bahagia. Lalu tanpa perhitungan masuk ke dalam ruang perawatan.


"Ma!" Bima yang melihat Fera masuk begitu saja langsung menegur. Wanita itu menyalahi aturan, jika pihak rumah sakit melihatnya dia akan terkena teguran.


"Bim, apakah kamu tidak melihat bahwa Cantika telah sadar?"


Sontak saja mata Bima dan Mikhayla langsung mengarah pada putri kecilnya. Namun, keduanya tidak melihat Cantika sadar.

__ADS_1


"Mama berhalusinasi?" tanya Bima sebab sang mama begitu melantur.


"Mama berkata yang sebenarnya Bim, tadi tangannya mama lihat bergerak."


Mikhayla segera mendekati Cantika begitupun dengan Bima. Ketiganya tidak perduli lagi dengan aturan rumah sakit.


Mikhayla dan Bima langsung memeriksa keadaan Cantika.


"Mama pasti melamun tadi," ujar Bima sebab tidak menemukan tanda-tanda bahwa Cantika sudah tersadar.


"Tidak Bim, Mama bersumpah benar-benar melihat jari-jari tangan Cantika bergerak tadi." Fera masih mencoba meyakinkan Bima.


"Tapi kenapa Bima tidak melihat tanda-tanda bahwa Cantika kami sudah sadar Ma," protes Bima.


"Kak tenanglah!" ujar Mikhayla.


Mereka bertiga masih berdiri di samping ranjang Cantika.


"Kak itu suara apa?" tanya Mikhayla dan Bima hanya menggeleng sebab tidak tahu apa yang Mikhayla maksudkan.


"Mami!" Tetap saja kata mami ini tidak terdengar sebagai kata.


"Kak?"


"Aku tidak tahu Mika"


Hingga akhirnya mata Mikhayla fokus kepada sungkup oksigen yang menutup mulut dan hidung Cantika.


"Kak, Cantika bicara!" tunjuk Mikhayla ke mulut Cantika dan benar saja bibir Cantika terlihat bergerak.


Bima segera membuka sungkup tabung dari wajah Cantika dan anak itu langsung membuka mata.


"Mami!" panggil Cantika untuk kesekian kalinya dan saat ini barulah terdengar sebagai kata yang utuh.

__ADS_1


"Cantika!" seru Mikhayla dengan air mata yang berderai. Kali ini bukan air mata kesedihan lagi melainkan air mata haru. Mikhayla langsung memeluk tubuh putrinya meskipun masih dipenuhi oleh selang-selang.


"Akhirnya kau sadar juga Nak." Bima terlihat bahagia.


"Papi!" Cantika menatap mata Bima.


"Iya sayang?"


"Kak, dia tidak melupakan kita?" Mikhayla heran, tapi tentu saja bersyukur jika memang Cantika tidak mengalami amnesia seperti dugaan dokter.


"Alhamdulillah Mik." Kata apa lagi ya harus dilontarkan selain kalimat syukur bagi Sang Maha Pemberi Kehidupan.


"Kalian jagalah Cantika biar Mama panggil dokter dulu," ujar Fera lalu berlari keluar ruangan.


Beberapa saat kemudian Fera kembali dengan seorang dokter dan perawat.


"Permisi saya ingin mengontrol keadaan pasien dulu," pamit dokter sebelum memeriksa Cantika.


Bima mundur ke belakang untuk memberikan ruang bagi dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Mikhayla sesaat setelah selesai memeriksa Cantika.


Dokter menghela nafas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Mikhayla.


"Keadaan putri ibu sudah mulai membaik. Namun, saya sarankan untuk beberapa hari masih dirawat agar kami bisa memantau perkembangannya."


"Baik Dok, saran dokter pasti akan kami terima."


"Baiklah. Sus bantu aku membuka alat-alatnya!"


Dokter dibantu perawat pun membuka selang-selang yang menempel pada tubuh Cantika.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2