Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
Bab 36. Aneh


__ADS_3

Di Aussie, Australia sana Fergi menyetir mobilnya kembali ke hotel saat setelah membeli cincin di sebuah jewelry yang berada di dalam supermarket terbesar di kota itu.


Fergi mengendarai mobilnya sambil bernyanyi-nyanyi. Wajahnya terlihat sumringah sebab sudah menyelesaikan lomba memasak babak ketiga. Kali ini dia sangat senang karena berhasil lolos dan masuk ke semi final.


"Setelah memenangkan kontes nanti dan pulang ke Indonesia, saya akan langsung ke toko Mikhayla saja." Di dalam otaknya sudah terbayang rencana-rencana untuk melamar Mikhayla dengan cara yang romantis. Fergi tahu Mikhayla tidak akan menolak dirinya mengingat ini adalah keinginan Cantika juga. Cantika adalah separuh nyawa dari Mikhayla sebab kebahagiaan putrinya adalah prioritas dari kehidupan Mikhayla.


Mobil melaju santai di jalanan hingga sampai di depan sebuah hotel yang dipilihnya untuk menginap. Setelah memarkirkan mobil Fergi berjalan memasuki lobby hotel tempat kemudian naik ke kamarnya sendiri.


"Ah rasanya sangat lelah sekali." Fergi langsung membaringkan tubuhnya saat dirinya sampai ke ranjang. Tubuhnya terasa nyaman saat menyentuh kasur hingga membuatnya terlelap.


Jam berdentang menunjukkan pukul 3 sore waktu setempat. Fergi masih menggeliat dan enggan bangun. Pria itu membuka mata kemudian mengambil bantal guling dan memeluknya. Pria itu memejamkan mata kembali.


Hampir dua jam Fergi tidur dalam keadaan belum membersihkan diri. Jam 4 sore pria itu terbangun dengan kaget seperti ada yang membangunkan.


"Kayak ada orang tadi, tapi kok tidak ada ya?" Fergi mencari-cari keberadaan orang yang mungkin saja ada dalam kamarnya.


"Uh, tidak ada. Mungkin aku hanya bermimpi tadi." Fergi mengusap mengucek kedua matanya kemudian mengusap wajah. Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Loh kok air hangatnya sudah siap?" Fergi terkejut sebab air di dalam bathtub sudah terisi dan saat disentuh hangat dan segar sebab sudah diteteskan aromaterapi oil dengan aroma pepper mint kesukaannya. Harumnya seakan menusuk ke dalam hidung Fergi.


"Tunggu, aku tidak salah kamar, bukan?" Fergi beranjak dari kamar mandi menuju kopernya yang masih tergeletak di samping ranjang.


"Memang benar itu koperku." Fergi memeriksa isi koper tersebut sebab bisa saja koper tersebut adalah milik orang lain yang mirip dengan miliknya.


"Bajunya juga sama seperti baju-bajuku."


Namun, keyakinan Fergi pupus sudah saat mengingat dirinya tadi pagi meninggalkan kamar dalam keadaan terkunci dan saat masuk pun tadi juga mengunci pintu. Mana mungkin orang lain bisa masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu atau tanpa dirinya membukanya pintu.


"Masih terkunci," gumamnya. Fergi membuka kunci pintu dan keluar. Dia melihat ke arah pintu dan benar nomor kamarnya adalah nomor kamar hotel tempat dia menginap.


"Benar ini nomor kamarku."


Fergi tampak berpikir sejenak. "Mungkin yang menyiapkan air hangat yang telah diteteskan minyak aromatherapy itu adalah petugas room servis. Bisa saja mereka punya kunci cadangan kamar ini. Nggak ngerti lah dengan sistem hotel di sini ... ah sudahlah masa bodoh dengan semuanya yang penting aku sekarang mandi saja, badanku sudah terasa sangat lengket."


Fergi kembali ke kamar mandi berendam di dalam bathtub untuk mengembalikan otot-otot yang terasa kaku setelah beraktivitas. Dia berharap dengan berendam akan membuat tubuh dan pikirannya menjadi rileks. Untuk sejenak dia melupakan akan persaingannya yang begitu mengurus tenaga dan pikiran.

__ADS_1


Puas berendam dengan air hangat Fergi lalu menghidupkan shower dan membilas tubuhnya. Setelahnya pria itu langsung mengambil handuk dan berjalan keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti yang masih berada di dalam koper.


Setelah selesai memakai pakaian, Fergi mengambil ponselnya dan hendak menelepon petugas room service agar membawakan makan malamnya ke dalam kamar.


Namun, pria itu tiba-tiba kaget saat melihat di atas meja sudah terhidang menu makan malam.


"Aneh kenapa semua bisa tersedia tanpa saya pesan ya?" Fergi mengaruk kepalanya bingung.


"Ah sudahlah makan saja. Kenapa mesti ribet sih kalau semua sudah tersedia?"


Seperti biasa Fergi masih terlihat masa bodoh dengan semuanya. Dia merasa tidak ada satupun yang dia kenal di negara ini dan juga tidak punya musuh di sana. Kalau pun ada paling hanya musuh dalam perlombaan dan Fergi yakin diantara mereka tidak ada yang tahu pergi menginap dimana saat ini.


"Jadi tidak mungkin kan kalau makanan ini mengandung racun? Aku percaya saja sama Tuhan. 'Kun fayakun', apa yang terjadi maka terjadilah."


Pria itu lalu duduk menghadapi makanannya dan makan seperti biasa. Dia harus kenyang sebab nanti malam harus kembali berlomba agar bisa masuk ke final kejuaraan chef dunia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2